IF LOVE

IF LOVE
If Love 29



"Sayang, apa kita benar benar harus menemui Jack?" Zevina bertanya ragu.


"Harus. Aku harus menyelesaikan masalah kalian, tidak lebih tepatnya adalah masalah yang dibuat nya." Darvin menjawab tegas.


Mereka kini sedang berada di depan perusahaan Jack. Setelah berdiskusi dengan drama Zevina akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kedalam gedung megah itu.


"Sayang aku takut." Ucap Zevina lalu menggandeng posesif lengan Darvin dan bersembunyi di belakang nya saat mereka didalam lift.


"Sudah jangan takut. Ada aku yang akan melindungi mu." Ucap Darvin mengelus puncak kepala Zevina dengan satu tangannya yang bebas.


"Bukan hanya aku, tapi orang dibalik ku juga akan melindungi mu." Batin Darvin.


Ting.


Pintu lift terbuka. Akhirnya mereka sampai di lantai tempat ruangan Jack berada. Mereka langsung berjalan menuju ke ruangan Jack dan masuk tanpa mengetuk pintu karena berpikir Jack pasti sedang bekerja.


"Sial." Gerutu Darvin lalu dengan cepat ia menutup mata Zevina dengan satu tangannya yang bebas dan membalikkan tubuh mereka.


Darvin melihat Jack sedang memcumbu buas Liz yang sudah setengah telanjang. Jack dan Liz belum menyadari kedatangan mereka.


"Jack..akh sekarang." Pinta Liz.


"Ekhem." Darvin berusaha menghentikan kegiatan gila mereka.


Jack berhenti sejenak dan memandang kearah dua orang yang sedang membelakangi mereka. Seringai tipis muncul di bibir nya.


"Tunggulah sebentar diluar. Biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ku." Ucap Jack lalu tanpa peduli lagi ia menyatukan dirinya dengan Liz membuat Liz mendesah hebat.


Zevina semakin medekatkan tubuhnya pada Darvin dan Darvin segera membawanya keluar dari ruangan itu dan menunggu diluar. Mereka duduk di kursi tunggu, namun tentu saja suara desahan Liz yang menggema didalam ruangan Jack tembus terdengar hingga keluar.


Zevina menunduk, memejamkan matanya, dan meremas kuat ujung dress yang ia kenakan, bukan karena ikut bergairah tapi karena takut. Ia tidak menyangka kalau ternyata Jack adalah pria liar yang bahkan sekarang meniduri adik ipar nya.


Darvin segera mencari headset yang ia tahu selalu Zevina bawa kemanapun didalam tas. Setelah dapat, ia menyatukan headset itu pada ponselnya dan memutar sebuah lagu dengan volume penuh lalu memasangkan headset itu pada telinga Zevina. Ia tidak ingin Zevina semakin ketakutan.


Lama menunggu, akhirnya Liz keluar dari ruangan Jack mendekati Zevina dan Darvin.


"Masuklah." Ucap nya dengan suara sensual sambil meraba dada bidang Darvin.


"Murah." Darvin menepis kasar tangannya lalu menarik lembut Zevina untuk ikut bersamanya.


Mereka masuk kedalam ruangan Jack dan mendapati Jack masih bertelanjang dada sambil menghisap rokok. Ia berdiri menghadap dinding kaca yang memperlihatkan keramaian kota. Satu tangannya dia masukan kedalam saku celana nya dan satunya lagi menjepit rokok dibibir nya.


Perempuan lain mungkin akan langsung berteriak histeris melihat penampilan Jack yang seperti itu. Zevina justru muak dan ingin muntah.


"Ada apa mencari ku Darv?" tanya Jack dengan suara datar. Bekas memar masih tampak diwajah nya.


"Kau ingin menyerahkan kekasihmu kepada ku?" Ia kembali bertanya.


"Jangan bermimpi." Darvin menjawab dengan ketus.


Ia kemudian melemparkan sepucuk surat yang ia ambil dari tas Zevina. Surat resign yang sudah ia buat tadi malam.


"Aku hanya datang untuk menyerahkan itu bajingan." Darvin lagi lagi berkata kasar pada Jack.


Zevina hanya bersembunyi dibelakang nya dan menggenggam erat tangan nya. Jack menyeringai dan pandangan nya tidak beralih dari Zevina. Ada rasa yang tidak wajar saat ia melihat Zevina ketakutan.


"Haha pergi saja. Aku tidak butuh surat itu. Ingat Darv, kali ini aku mungkin gagal mendapatkan wanita mu. Tapi nanti aku pastikan dia akan menjadi milik ku dan tidak akan pernah lepas." Ucap Jack menyeringai dan terus memandangi Zevina.


"Sialan." Telinga Darvin panas mendengar perkataan Jack. Ia beranjak ingin menyerang Jack, namun segera Zevina menahan nya.


"Jangan Darv." Ucap Zevina lirih menggeleng kepalanya. Darvin dapat melihat raut ketakutan dari wajah Zevina.


Ia segera memeluk erat Zevina dan membawa Zevina keluar dari ruangan itu.


"Ingat Darv, aku tidak main main dengan ucapan ku." Ucap Jack dengan suara lantang dan menggema. Tangannya mengepal kuat, perasaan nya tidak menentu.


"Maaf sayang sudah membuat mu ketakutan." Ucap Darvin menggenggam tangan Zevina. Zevina hanya menggeleng dan menunduk.


"Aku berjanji tidak akan mengulangi nya." Darvin kembali berkata. Zevina hanya mengangguk.


"Setelah urusan ku selesai, kita kembali ke New York." Ucap Darvin tegas. Seketika Zevina langsung memandang kearah Darvin.


Ia ingin menolak, tapi ia takut Darvin akan salah faham. Ia belum siap untuk kembali ke New York, karena bagaimanapun hubungan mereka baru saja kembali dibangun. Namun akhirnya Zevina hanya mengangguk ragu.


Darvin pun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat yang menurut nya laknat itu. Bagaimana tidak, selama bertahun tahun ia menjalin hubungan dengan Zevina, melakukan ini dan itu tapi mereka tidak pernah sampai harus melakukan nya diruang kerja perusahaan nya.


Ia tidak langsung membawa Zevina kembali ke apartemen. Ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang sedikit jauh dari perkotaan. Perjalanan yang cukup panjang hingga membuat Zevina mengantuk dan tertidur didalam mobil.


Saat sampai, dengan terpaksa Darvin mengganggu tidur nyenyak kekasihnya. Ia membangunkan Zevina dengan lembut.


"Hah, kita sudah sampai sayang?" Zevina bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hem. Kita sudah sampai." Ucap Darvin tersenyum.


Zevina belum tahu kalau Darvin membawa nya bukan kembali ke apartemen, tetapi ke tempat lain. Zevina memandangi sekelilingnya merasa aneh. Hanya ada padang rumput dan suara air mengalir.


"Ini dimana sayang? Bukan apartemen kita?" Zevina bertanya bingung.


"Aku akan menghukum mu disini." Darvin menjawab dengan tatapan membunuh, niat nya hanya ingin mengerjai kekasihnya.


"Tapi Darv, aku minta maaf." Ucap Zevina sedikit ketakutan. Tidak menjawab, Darvin malah turun dari mobil, dan berjalan kearah Zevina. Ia membuka pintu mobilnya dan sedikit menarik tangan Zevina agar turun. Zevina menggeleng ketakutan.


"Turunlah sebelum aku lebih kasar pada mu." Ucap Darvin ketus. Padahal dalam hati nya ia sedang menahan tawa.


"Tidak Darv, kau sudah berjanji tidak akan menyakiti ku lagi." Zevina mulai terisak sambil turun dari mobil.


"Itu hanya janji agar kau percaya dan mau kembali padaku sayang." Ucap Darvin mencengkeram dagu Zevina namun tidak kuat. Sungguh, ia sangat ingin ketawa melihat ekspresi takut wanita nya itu. Sangat polos, mudah untuk ia kerjai.


"Sekarang ikut aku." Darvin berkata dengan suara lantang dan menyeret Zevina namun tidak kasar.


"Darv, aku mohon jangan." Zevina menggeleng dan berjalan terseok karena tarikan tangan Darvin.


"Menurutlah, maka kau tidak akan merasa sakit." Nada Darvin semakin lama terdengar semakin menakutkan.


Zevina semakin ketakutan. Pikiran nya penuh dengan segala jenis hukuman menakutkan yang akan ia terima salah satunya adalah Darvin akan memaksa dirinya untuk melayani nya dipadang rumput ini.


Zevina percayalah, Darvin tidak segila dan sebejat itu.


Akhirnya langkah Darvin berhenti tiba tiba, hingga ia menabrak punggung Darvin. Ia masih dibelakang Darvin dan memejam kuat.


"Keluar lah." Ucap Darvin menarik tangan Zevina agar keluar dari belakang nya.


Zevina menurut, namun matanya masih terpejam.


"Buka mata mu." Darvin memeluk nya dari belakang.


Perlahan ia membuka matanya.


"Darv, ini ... "


*******


Jangan bosan nungguin update cerita Zevina selanjutnya yah.


Tinggalkan jejak komentar, like, vote, dan favorit cerita nya.


Share juga keteman teman kalian biar lebih seru baca rame2.


Selalu jaga kesehatan kalian yah.