IF LOVE

IF LOVE
If Love 26



"Sayang, bangunlah." Darvin membangunkan Zevina dengan lembut.


"Aku masih ingin tidur." Jawab Zevina malas lalu menarik selimut kembali menutupi tubuh nya.


"Ya ampun, kau bisa terlambat bekerja. Aku juga bisa terlambat karena masih harus mengantar mu." Darvin berusaha memberi pengertian pada kekasihnya


"Aku tidak ingin bekerja hari ini." Ketus Zevina.


Darvin mendengus kesal. Ia mulai hilang kesabaran namun masih berusaha ia tahan.


"Baiklah jika kau tidak ingin bekerja. Aku akan mengirimkan surat resign mu pada duda itu." Darvin berucap sembarangan lalu keluar dari kamar.


"Sial, apa Darv sudah melihat surat resign ku? Ah ya ampun, Bodoh sekali aku." Batin Zevina saat menyadari perkataan Darvin dan mengingat surat resign yang sudah ia buat tengah makan kemarin.


Dengan segera ia bangkit dari tempat tidur nya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai dengan segera ia memakai pakaian kerjanya dan merias wajahnya dengan riasan tipis dan menyisir rambutnya. Setelah semua dirasa siap ia segera keluar menyusul Darvin, namun sebelumnya ia memeriksa surat resign didalam tas nya.


"Masih ada." Zevina membatin dan menghela nafas lega.


Ia melihat Darvin sedang berada di ruang tamu dan mengetik sesuatu di laptop nya. Ia mencoba mengintip dari belakang dan matanya terbelalak melihat Darvin sedang mengetik surat resign atas nama nya. Dengan cepat ia merebut laptop Darvin dan menutup nya lalu meletakkan nya di meja.


"Sayang apa yang kau lakukan?" tanya Zevina dengan ekspresi bodoh. Ia duduk diatas pangkuan kekasihnya dan merangkul leher Darvin.


"Tentu saja mengetik surat resign untuk mu sayang." Ucap Darvin meraba paha Zevina di balik rok yang ia kenakan.


"Stop it Darvin Anthony." Ucap Zevina menahan tangan Darvin untuk bergerak lebih dalam. Ia melotot tajam kearah Darvin.


"What are you thinking about?" tanya Darvin terkekeh. Zevina hanya diam.


Darvin akhirnya menurunkan Zevina dari pangkuan nya dan membawa Zevina menuju meja makan.


"Duduklah." Titah Darvin menarik salah satu kursi.


"Thank you sayang." Ucap Zevina manja.


Darvin membungkukan badan nya setelah Zevina duduk.


"Jangan menggoda ku sayang. Atau aku tidak akan membiarkan mu bekerja hari ini dan membuat mu tidak bisa berjalan." Bisik Darvin sensual ditelinga Zevina.


Zevina bergidik ngeri, ia tahu Darvin yang dulu tidak pernah main main jika sudah berkata seperti itu. Tapi ia tidak tahu Darvin yang sekarang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyakiti nya.


Darvin pun akhirnya duduk di samping Zevina. Ia mengoleskan dua lembar roti tawar dengan selai yang berbeda dan memberikan pada Zevina.


"Terima kasih." Ucap Zevina girang menerima roti yang diberikan Darvin.


"Apa kau benar akan resign?" tanya Darvin penuh harap sambil mengunyah roti miliknya.


"Aku hanya bercanda sayang." Ucap Zevina tersenyum bodoh. Padahal ia memang merencanakan untuk resign setelah apa yang sudah Jack lakukan pada nya kemarin. Ia takut jika pada akhirnya Jack semakin nekat dan akan memaksa berbuat lebih.


"Oh, padahal aku senang sekali jika kau benar benar akan resign." Ucap Darvin kecewa.


"Aku akan resign. Tapi nanti jika kau sudah memutuskan untuk menikahi ku dan memaksa ku menjadi seorang istri dan ibu." Ucap Zevina terkekeh. Ia hanya bermaksud bercanda tapi ternyata malah ditanggapi serius oleh Darvin.


"Baiklah. Aku akan menikahi mu secepatnya dan membuat mu mengandung anak ku." Ucap Darvin serius.


"Bukan, bukan itu maksud ku sayang. Ah ya ampun, dia salah paham lagi." Ucap Zevina sambil menggerutu.


"Haha aku bercanda sayang. Aku tidak akan memaksa mu jika kau belum siap." Ucap Darvin berbohong. Padahal ia ingin sekali bisa membina rumah tangga dengan Zevina, wanita satu satunya yang ia cintai.


Zevina menangkap raut kekecewaan dari wajah Darvin.


"Bukan Darv. Maksud ku aku memang ingin menikah dan hidup bersama mu. Tapi aku tidak ingin kita melakukan nya karena terburu buru. Menikah itu komitmen dan aku tidak yakin dengan diriku sendiri." Ucap Zevina menjelaskan, namun kalimat terakhir adalah bohong. Ia malah ragu dengan Darvin karena ia tahu Darvin belum siap untuk berkomitmen terlalu jauh.


"Tapi sayang, apa kau masih memasang itu pada tubuhmu?" tanya Zevina penasaran. Pasalnya sejak mereka kembali bersama, Darvin belum menyentuh nya sekalipun.


"Sudah tidak. Maka dari itu aku tidak ingin menyentuh mu. Bukan tidak ingin sayang, tapi aku tidak ingin menyakiti mu lagi. Kau tahu aku selalu merasa mabuk jika sedang bersama mu, tapi aku berusaha mengontrol diri ku." Darvin menjelaskan dengan tulus membuat Zevina tersentuh.


"Terima kasih sayang." Zevina tiba tiba memeluk Darvin. Darvin tersenyum dan membalas pelukan kekasihnya.


"Sudah sudah, cepat habiskan sarapan mu dan aku akan mengantar mu pergi bekerja. Dua lembar roti saja sangat susah untuk kau habiskan, pantas saja kau makin kurus dan bagian tubuhmu semakin mengecil. Tidak menggoda lagi." Ucap Darvin pura pura mengomeli kekasihnya setelah melepaskan pelukan mereka dan memperhatikan dada Zevina yang selalu menggoda nya.


"Hei, ini tidak kecil, kau saja yang sudah lama tidak melihat isi didalam nya." Ucap Zevina menantang Darvin sambil membusungkan dada nya dihadapan Darvin.


"Oh ya, kau menantang ku. Baiklah aku ingin melihat nya sekarang." Ucap Darvin dengan nada memerintah dan bergerak seolah olah akan membuka pakaian Zevina.


"Tidak Darv, jangan." Zevina dengan gerakan cepat langsung melarikan diri dari Darvin.


"Jangan lari sayang, aku tahu kau menginginkan nya dari ku, maka dari itu kau terus menggoda ku pagi ini." Darvin berbicara sambil berlari kecil mengejar wanita nya.


Darvin dengan segera masuk kedalam mobil menyusul kekasihnya. Ia kemudian mengunci pintu mobilnya. Ia memperhatikan kekasihnya yang sedang bernafas tidak teratur dan itu sangat menggoda nya.


Ia langsung mendekati Zevina dan mecumbu lembut kekasihnya, membuat Zevina menggeliat.


"Darv, aku bisa telat bekerja. Nanti malam saja." Ucap Zevina membujuk kekasihnya.


Darvin tersenyum penuh kemenangan mendengar kalimat terakhir kekasihnya.


"Baiklah, aku akan menagih janji mu nanti malam." Darvin bangkit dari posisinya dan merapikan pakaian Zevina yang sedikit berantakan karena nya.


"Tapi sebaiknya kau menggunakan pengaman. Aku belum siap untuk hamil." Ucap Zevina lantang mengingat kejadian terakhir yang membuat nya dan Darvin berpisah.


"As your wish my wife." Darvin menyebut Zevina dengan sebutan istri membuat wajah Zevina merona malu.


Segera Darvin pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Jack. Setelah sampai, ia mengecup Zevina sekilas sebelum Zevina turun. Setelah itu Zevina turun dan hendak masuk, namun perkataan Darvin membuat langkahnya terhenti.


"Bekerja lah dengan baik dan segeralah resign agar aku bisa menikahi mu secepatnya." Ucap Darvin setengah berteriak. Zevina hanya mengangguk malu.


Ia pun segera masuk, namun sialnya saat di lobi ia langsung berpapasan dengan Jack yang menatap nya dengan tatapan bergairah sekaligus membunuh. Jack tentu saja mendengar setiap perkataan Darvin.


"Ikut aku sekarang." Titah Jack dengan suara mengintimidasi kemudian berbalik dan berjalan didepan Zevina.


Zevina pun mengikuti nya karena memang ada yang ingin ia sampaika. pada Jack. Jack membawanya ke sebuah ruangan yang entah itu ruangan apa. Bahkan tidak ada orang disekitar ruangan itu selain mereka berdua.


Jack masuk terlebih dulu. Zevina hanya berdiri mematung diluar ruangan.


"Masuklah." Titah Jack dengan suara semanis mungkin. Zevina tidak menghiraukan perkataan nya. Ia takut Jack akan berbuat gila pada nya.


"Jack, aku ingin resign."


Imajinasi Visual Jack White



*******


Makasih selalu ku ucapkan untuk kalian yang selalu mendukung aku.


Jangan lupa untuk terus tinggalkan komentar, like, vote, dan favorit cerita ku yah.


Jika berkenan boleh share juga keteman teman kalian agar makin seru kalo baca nya rame2 dan bareng2.


Salam sayang dan selalu jaga kesehatan kalian.