IF LOVE

IF LOVE
If Love S2 5



[ Mampir juga di karya ku yang judul nya


"Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) "


Jangan lupa jejak kehadirannya kalo udah.]


...~ Happy Reading ~...


NOTE : 21+


.


.


.


.


.


"Ya ampun, akhirnya sampai juga." Ucap Zevina mendudukan bokong nya di sofa empuk saat mereka sampai dirumah Derex yang ada di London.


Arzevin tertidur dalam gendongan Derex, padahal sepanjang perjalanan dari bandara setelah jet pribadi mereka mendarat tadi, Arzevin sangat girang melihat hiruk pikuk jalanan London.


"Aku akan membawa Ar ke kamar. Derice, kau juga segeralah tidur." Ucap Derex pada putranya.


"Aku akan merapikan barang barang kita dulu." Ucap Alice.


"No sayang. Sebaiknya kau istirahat dulu. Kau juga Zev." Titah Derex pada dua wanita tersayang nya itu.


"Baiklah." Ucap Zevina pasrah.


Alice dan Zevina pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka masing masing.


Setelah didalam kamar, Zevina merebahkan tubuhnya lalu menghidupkan ponselnya.


Pikirannya mulai mengingat setiap kenangan bersama Darvin.


Tanpa sadar air matanya meluncur bebas dari mata indahnya.


"Darv." Gumam Zevina.


Tring tring


Bunyi ponsel Zevina membuyarkan lamunan nya.


"Keanu?" Gumam Zevina saat melihat nama pemanggil yang tertera pada layar ponsel nya adalah Keanu.


Ia menghapus air matanya sebelum mengangkat panggilan itu.


"Hai Ke." Sapa Zevina terlebih dulu.


"Apa kalian baru sampai?" Tanya Keanu dari seberang sana dengan suara terdengar khawatir.


"Iya sayang. Kami baru saja sampai di rumah dan aku baru saja menghidupkan ponsel ku." Ucap Zevina spontan memanggil Keanu sayang.


Hal itu pastilah membuat Keanu tersenyum lebar.


"Hem..apa kau sudah makan malam? Kau harus jaga kesehatan mu sayang." Tanya Keanu sembari menasehati Zevina.


"Kami sudah makan tadi. Kau juga harus jaga kesehatan mu." Zevina kembali menasehati Keanu.


"Aku pasti. Baiklah sayang, kau istirahatlah. Jangan nakal dan tunggu aku." Titah Keanu mutlak.


"Baiklah." Ucap Zevina pasrah dan panggilan pun berakhir.


Zevina melempar ringan ponselnya diatas ranjang.


Hah


Zevina menghela nafas kasar.


"Apa aku benar benar harus berhenti berharap dan membuka hati ku untuk Keanu?" Tanya Zevina pada dirinya sendiri dan tentu saja ia tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti.


Ia mencoba memejamkan mata nya walau terasa sangat sulit.


Disisi lain,


Derex yang sudah menidurkan Arzevin dikamar disusul Derice, pun segera kembali ke kamar nya bersama Alice.


Tampak Alice sudah berbaring di atas ranjang nya sambil memainkan ponselnya.


"Sayang, kau sudah datang?" Tanya Alice sedikit kaget saat melihat kemunculan Derex.


"Hem." Derex menjawab singkat namun lembut.


Ia naik keatas ranjang nya dan bergabung bersama istrinya setelah melepaskan kemeja nya dan menyimpannya di ujung ranjang.


Ia mendekap Alice dalam pelukan nya.


"Sayang, bolehkah aku?" Tanya Derex lembut meminta jatah sambil mencumbu leher istrinya.


Alice mengangguk pelan.


Derex yang mendapat ijin pun mulai melancarkan aksinya.


"Akh.." Satu desahan lolos dari bibir Alice saat Derex bermain pada si kembar nya.


Tanpa menunggu lama, Derex membuka celananya dan segera menyatukan miliknya pada istrinya.


"Akh..Derex.." Alice kembali mendesah dan menjambak rambut Derex saat Derex mulai bergerak di atas nya.


Pertarungan suami istri itu tak terhindarkan lagi.


#####


"Daddy, next week is my birthday." Ucap Raina mengingatkan Ayah nya.


"Oh ya?" Jack pura pura terkejut seolah baru mengingat, padahal ia sudah berkomunikasi dengan Zevina akan memberi kejutan pada Raina.


Mereka masih berada di ruang keluarga dan sedang menonton televisi.


"Kenapa Daddy tega melupakan ulang tahun ku?" Tanya Raina sedih.


"Oh ayolah sayang, kau bukan anak kecil yang harus merayakan ulang tahun setiap tahun lagi." Ucap Jack sengaja membuat putrinya kesal.


Raina cembetut.


"Daddy, apa Mom Zevina akan datang? Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengan nya. Juga sangat jarang kami berkomunikasi?" Tanya Raina penuh harap.


"Tidak tahu." Jawab Jack singkat.


"Oh ayolah Dad, apa tidak bisa Daddy meminta nya datang? Aku ingin sekali bertemu dengan nya dan adik Ar." Pinta Raina memelas.


"Sudahlah Rai. Jangan terlalu berharap. Mom Zevina pun punya kesibukan lain." Ucap Jack mematahkan semangat putrinya.


"Daddy jahat." Ucap Raina kesal dan langsung berlari naik keatas menuju kamar nya.


"Maafkan Daddy, Raina. Demi kelancaran surprise dari Mom Zevina mu, Dad terpaksa membuat mu kesal." Batin Jack tersenyum melihat putrinya yang sudah kesal akibat ulah nya.


#####


"Minggu depan Raina ulang tahun." Batin Liz sambil memainkan ponselnya.


"Sebaiknya aku cari kado saja untuk nya. Sekalian aku akan temui Jack dan mengatakan yang sejujurnya tentang Jacki." Batin nya lagi.


Liz pun mulai men-scroll layar ponsel nya mencari kado ulang tahun yang dirasa cocok untuk Raina di toko online.


"Hei, kau sedang apa?" Tanya Darvin yang baru saja datang dan duduk di samping Zevina.


"Aku sedang mencari kado ulang tahun untuk Raina." Ucap Liz tanpa menatap Darvin.


"Kapan ulang tahun nya?" Tanya Darvin penasaran.


"Minggu depan." Jawab Liz singkat.


"Kau akan pergi menemui mereka?" Tanya Darvin.


"Ya. Aku rasa sudah waktunya aku mengatakan tentang Jacki pada Jack. Tidak peduli dia akan percaya atau tidak." Ucap Liz lagi.


"Apa Zevina dan boy juga akan berada di sana?" Gumam Darvin penasaran.


Liz menghentikan kegiatan nya sejenak.


"Jika kau ingin tahu, sebaiknya kau juga ikut. Lagipula wajah mu sudah sembuh. Dan tato mu juga sudah selesai proses nya. Tapi apa istrimu bisa menerima kau bertato?" Tanya Liz sambil memberi masukan.


"Mau bagaimana lagi? Luka di tangan dan kaki ku cukup parah. Aku juga tidak ingin merubah semua pada tubuhku. Jadi hanya bisa mengakali nya dengan tato." Ucap Darvin pasrah.


"Alasan. Bilang saja kau ingin sok keren didepan istri mu." Ucap Liz mengejek Darvin.


"Diamlah." Darvin melempar bantal sofa pada Liz.


"Kado apa yang akan kau beli untuk anak tiri mu?" Tanya Darvin.


"Dia keponakan ku." Liz menyanggah perkataan Darvin.


"Ayahnya adalah teman sepermainan mu hingga tercipta Jacki." Ucap Darvin menggoda Liz membuat wajah Liz merah merona karena malu.


"Diam kau atau ku hancurkan wajah mu itu." Ucap Liz kesal menahan malu nya.


"Haha. Terserah kau saja. Carikan juga satu kado untuk Raina atas nama ku." Ucap Darvin lalu melenggang pergi meninggalkan Liz.


"Cari saja sendiri. Aku bukan pelayan mu." Ucap Liz sedikit berteriak yang masih dapat didengar Darvin.


"Kau pelayan nya Jack." Darvin tak mau kalah mengejek Liz.


"Sial." Ucap Liz kasar dan kesal.


Liz akhirnya kembali men-scroll layar ponsel dan kembali mencari kado ulang tahun yang tepat untuk Raina.


"Aku tidak mengharapkan apapun dari mu Jack. Aku hanya ingin Jacki ku mengenal Daddy nya, itu saja." Batin Liz.


...~ To Be Continue ~...


*****


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.