
~ Mampir juga yuk di karya ku yang judulnya " Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) " atau kalian bisa langsung klik di bio aku. Tinggalkan jejak setelah hadir ya.~
...~ Happy Reading ~...
.
.
.
.
Pagi menjelang. Perlahan Zevina membuka matanya saat merasakan beban berat di atas perutnya yang sudah sedikit besar.
"Lepaskan aku." Teriak Zevina saat sadar itu adalah Roy.
Perlahan Roy membuka matanya saat mendengar teriakan Zevina.
"Ada apa sayang? Kau bermimpi buruk?" Tanya Roy dengan wajah cemas.
"Jauhkan tangan mu dari ku." Zevina kembali berteriak.
Kaki dam tangannya masih terikat.
"Oh. Aku kira ada apa." Roy berucap santai lalu mengangkat tangannya menjauh dari Zevina.
"Aku akan membuat makanan untuk mu. Tunggu sebentar." Ucap Roy lalu beranjak dari ranjang nya menuju ke dapur.
"Jack, aku mohon datang ke sini." Pinta Zevina dalam hati.
Hanya Jack satu satunya harapan Zevina untuk saat ini.
Hanya Jack yang mempunyai kemungkinan besar untuk menyelamatkan nya.
"Sayang, ayo makan ini." Roy membawa piring berisi beberapa potong sandwich lalu mengambil salah satu dan hendak menyuapi Zevina.
Zevina mengatup mulut nya rapat.
"Makanlah sayang. Bayi kita perlu nutrisi." Ucap Roy.
Roy kini tidak hanya gila pada Zevina, tetapi dengan berani nya ia mengatakan bayi Zevina dan Darvin adalah bayi nya.
"Ini bayi ku dan Darvin. Bukan bayi mu." Ketus Zevina.
"Itu bayi ku sayang. Bayi kita. Apa kau lupa kita membuatnya atas dasar cinta." Ucap Roy lalu mengelus perut Zevina.
"Kau gila Roy." Zevina memaki Roy dan berusaha menendang kakinya berharap Roy menjauhkan tangannya dari perut nya.
"Ya aku gila Zev. Aku gila karena mencintai mu. Aku menggilai mu." Ucap Roy meninggikan suara nya.
"Makan ini. Aku tidak ingin bayi ku kurang nutrisi karena Ibunya keras kepala." Ucap Roy memaksa Zevina memakan sandwich yang ia pegang tadi.
Zevina hanya bisa menangis, dan mau tidak mau ia memakan sandwich itu.
"Bukankah begini lebih baik sayang. Aku tidak akan menyakiti mu jika kau menurut." Ucap Roy lalu memberikan potongan sandwich kedua dan Zevina terpaksa menerima nya mengingat perkataan Roy benar adanya. Bayi nya perlu asupan makanan.
"Istri yang pintar." Ucap Roy santai lalu berjalan keluar dari kamar nya.
Tak lama ia kembali lagi membawa sebaskom air dan handuk bersih.
"Kau mau apa?" Tanya Zevina panik saat Roy mulai membuka kancing baju nya.
"Mengelap badan mu sayang. Aku tidak ingin kau terlihat berantakan." Ucap Roy tersenyum manis.
"Lepaskan aku Roy. Lepaskan ikatan ku, aku bisa membersihkan diri ku sendiri." Pinta Zevina galak.
Roy terdiam.
"Baiklah. Kita mandi bersama." Ucap Roy tanpa rasa bersalah.
"Tidak Roy. Aku tidak mau." Zevina menggeleng kuat dan terus meronta.
Zevina tahu, berteriak pun tidak ada gunanya. Hanya bisa melawan sendiri dengan sekuat tenaga.
"Aku memaksa mu sayang." Ucap Roy.
Ia kemudian melepaskan paksa pakaian Zevina dan pakaian nya lalu menggendong Zevina kedalam kamar mandi tanpa melepaskan ikatan kaki dan tangan Zevina.
"Jangan sentuh aku Roy." Ketus Zevina saat tangan Roy mulai menjelajahi tubuh nya setelah meletakkan dirinya kedalam bathup dan Roy juga masuk.
Roy dengan sigap mendekap tubuh Zevina dari belakang. Roy memang berada di belakang Zevina.
"Kau sangat harum walaupun belum mandi sayang." Ucap Roy lalu tangannya memainkan dada Zevina.
"Lepaskan aku Roy." Ucap Zevina menangis.
Roy gelap mata kemudian mencumbu Zevina dari belakang sedangkan tangannya bergerak bebas memainkan tubuh depan Zevina.
"Jangan Roy aku mohon." Pinta Zevina semakin menangis. Ingin melawan tapi dia terikat.
Melihat Zevina menangis Roy tidak iba. Ia terus melakukan hal keji itu walaupun tidak sampai menyatukan dirinya dengan Zevina.
"Aku mohon jangan Roy." Zevina terus memohon saat tangan Roy menjelajahi area pribadi nya dan memaksa Zevina membuka lebar kaki nya.
"Aku akan lembut pada mu jika kau menurut sayang." Ucap Roy lalu menggigit pundak Zevina membuat Zevina meringis.
"Sakit Roy. Aku mohon." Zevina kembali memohon.
Rasanya sangat lemah. Roy benar-benar menjelajah habis tubuhnya.
"Katakan kau milik ku sayang." Pinta Roy tanpa menghentikan aksi nya.
Zevina diam.
Roy benar-benar semakin menjadi, ia kemudian berpindah posisi hingga berada di depan Zevina, lalu mulai menyusuri tubuh Zevina dengan mulut nya.
"Jangan Roy." Pinta Zevina.
Roy tidak menghiraukan nya.
"Aku milik mu Roy. Aku mencintaimu." Ucap Zevina terpaksa.
Terpaksa jika hanya itu yang bisa menghentikan Roy. Dan benar saja, Roy berhenti.
"Wanita pintar." Ucap Roy lalu mengecup sekilas bibir Zevina.
Kemudian ia membantu Zevina membersihkan tubuhnya tanpa melepaskan ikatan Zevina. Ia membersihkan tubuh Zevina dengan lembut dan berhati hati.
Gila benar benar gila. Roy tampak seperti seseorang yang mempunyai dua sisi kepribadian.
Zevina hanya diam dengan air mata terus mengalir.
"Maafkan aku Darv." Pinta Zevina dalam hati, merasa jijik dengan tubuhnya.
"Sudah selesai." Ucap Roy senang.
Ia lalu kembali menggendong tubuh Zevina, namun kali ini ia membawa Zevina kedalam kamar milik Zevina.
Setelah mengeringkan tubuh Zevina, ia melepaskan sejenak ikatan pada kaki dan tangan Zevina agar dapat memakaikan pakaian pada Zevina.
Setelah selesai, ia hendak mengikat Zevina kembali, namun Zevina mencoba merayu nya.
"Jangan Roy. Aku mohon. Bukankah kau mencintaiku? Ikatan mu membuat ku sakit." Pinta Zevina.
Roy hanya diam dan menatap Zevina.
"Aku janji aku akan menurut. Tapi tolong jangan ikat aku. Aku janji aku tidak akan kabur." Zevina kembali merayu Roy dengan kata kata manis.
"Aku juga mencintaimu Roy. Sungguh. Tolong jangan ikat aku." Pinta Zevina lagi dan kali ini ia menitikkan air mata.
Jika Roy gila, maka tidak ada salahnya Zevina mencoba cara gila untuk menghadapi nya walaupun harus bersandiwara.
Dengan sangat cepat reaksi Roy berubah saat mendengar perkataan Zevina yang mencintai nya.
"Maafkan aku sayang. Sungguh aku minta maaf." Ucap Roy mencium puncak kepala Zevina beberapa kali.
"Kau mau memaafkan ku kan?" Tanya Roy.
"Aku mau Roy. Tapi jangan ulangi aku mohon. Aku takut Roy." Ucap Zevina dengan nada semanis mungkin.
"Aku janji tidak akan mengulangi nya." Ucap Roy penuh sesal.
Zevina bernafas lega dalam hati. Setidaknya dia tidak terikat sehingga bisa mencari celah dan cara agar bisa mencari pertolongan.
"Kau tidak membohongi ku kan?" Tanya Roy sanksi dan mencengkeram kuat pundak Zevina.
"Tidak Roy. Aku sadar kau yang terbaik." Ucap Zevina tersenyum manis.
Roy langsung melepaskan tangannya dari pundak Zevina dan kembali memeluknya.
"Oh Tuhan, siapapun datang bantu aku. Aku mohon." Pinta Zevina lagi dalam hati.
...~ To Be Continue ~...
******
Like dan komentar jangan lupa.
Makasih sayang2 ku.