
Roma, Italia
"Sayang, bagaimana? Apa kau sudah menemukan nya?" Alice bertanya pada Derex.
"Sudah. Tapi entahlah. Aku ragu, aku takut salah." Ucap Derex menghela nafas kasar.
"Bukankah kau bilang kau bisa mengenal nya hanya dari tatapan mata nya?" Alice kembali bertanya.
"Itu benar. Tapi ini sudah dua puluh tahun lebih. Pasti sudah banyak hal yang terjadi dan berubah kan." Ucap Derex gusar.
"Percaya pada dirimu sendiri. Aku yakin kau pasti bisa menemukan dan meyakinkan dirinya." Ucap Alice sambil mengelus kepala suaminya dengan sayang. Mereka tengah bersantai di atas ranjang dengan posisi Alice duduk dan Derex berbaring diatas paha nya.
Derex paling suka ketika Alice memainkan rambutnya.
"Daddy, Mommy." Ucap seorang bocah laki laki berusia empat tahun yang berlari naik ke ranjang dan melompat keatas perut Derex.
"Woo boy, kau sudah sangat berat." Ucap Derex mengangkat tubuh putra nya keatas.
"Haha aku sudah besar Dad." Ucap Derice putra nya bersama Alice.
"Jadi kapan kau ingin bekerja diperusahaan Daddy?" Derex bertanya mengejek putranya.
"No, aku tidak mau bekerja diperusahaan. Aku ingin punya tato banyak seperti Daddy dan menjadi garang." Ucap Derice dengan logat dan suara khas anak kecil.
"Haha, itu sangat menakutkan boy." Ucap Derex menurunkan putranya agar berbaring tengkurap diatas perutnya.
"Mommy mommy, kapan aku bisa bisa bertemu kakak Raina?" Derice bertanya serius pada Alice. Mereka memang menceritakan, lebih tepatnya Derex menceritakan tentang masa lalu Alice dan keberadaan Raina pada mereka, walau ia tidak menceritakan bagaimana mereka bisa bersama.
"Nanti sayang. Tunggu sampai urusan Daddy selesai, setelah itu kita akan bertemu kakak Raina." Ucap Alice mengelus pipi chubby putranya.
Derex memilih untuk tidak menyembunyikan sepenuhnya masa lalu Alice dari putranya. Dia juga menganggap Raina seperti putrinya, karena dia mencintai Alice. Walaupun ia tidak suka pada Jack.
"Apa kakak Raina nanti mau bermain dengan ku?" Derice bertanya dengan suara sendu.
"Tentu saja boy. Jika kakak Raina tidak mau bermain dengan mu, kita tidak akan memberinya teddy bear raksasa. Kita akan memberinya permen pedas saja." Ucap Derex menghibur putranya.
"Aku suka permen pedas." Ucap Derice bersemangat.
Ya memang diusia nya yang masih terbilang kecil, ia sangat suka makanan pedas. Tidak peduli apapun itu.
"Mommy, aku jadi ingin makan mie kuah pedas." Ucap Derice memelas.
"Ayo, hari ini Daddy yang akan memasakan untuk mu. Biarkan Mommy beristirahat hari ini." Ucap Derex menggendong putranya turun dari ranjang.
Jika bersama Alice dan putranya ia akan menjadi pria yang hangat walaupun selalu berbicara dengan nada datar dan ekspresi yang tidak pernah berubah.
"Yey." Derice berteriak kegirangan sambil mengangkat tangannya diudara. Alice hanya tersenyum melihat kelakuan lucu putranya.
"Aku beruntung memiliki mu Derex." Batin Alice.
Derex adalah tipe pria yang setia. Ketika ia mencintai satu wanita, maka itu satu sampai akhir, ia tidak masalah jika wanita nya mungkin akan bermain api selama ia tidak mengetahui nya seperti apa yang terjadi dengan Lydya dan Jack beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya kenapa? Karena Derex tahu ia pria yang tidak sempurna, banyak kekurangan, ia juga selalu lebih sibuk dengan pekerjaan dan kumpulan gangster nya. Hidupnya delapan puluh persen adalah kegelapan.
Jika kalian penasaran apa yang terjadi pada Lydya setelah hubungan gelap nya dengan Jack diketahui? Jawaban nya adalah mati konyol. Derex tidak segan menghabisi wanita itu dengan cara yang sadis. Cukup Derex saja yang tahu cara apa yang ia gunakan.
#####
London , Inggris
Seperti yang sudah dijanjikan oleh Darvin, hari ini ia pulang dari New York ke London. Ia sedang berada di dalam pesawat. Sebentar lagi akan mendarat di bandara New York.
Senyum tidak pernah lepas dari bibir nya sembari melihat pemandangan awan diluar jendela pesawat.
"Sayang, aku pulang. Tunggu aku." Batin nya sambil terus tersenyum. Ia benar benar bahagia dan tak menyangkan akhirnya kini dirinya dan Zevina benar benar resmi menjadi suami istri.
Jika Darvin sedang berada di dalam pesawat dengan hati berbunga, maka beda dengan Zevina yang dari tadi sibuk mondar mandir tidak jelas. Jack dan Raina juga ikut menemani nya.
"Tolong lah Zev. Kepala ku pusing karena kau terus mondar mandir seperti ini." Ucap Jack memijat pangkal hidung nya.
"Aku gugup Jack. Bagaimana aku harus menyampaikan pada Darvin tentang kehamilan ini?" Ucap Zevina gugup sambil memukul ringan ponsel nya pada telapak tangan nya.
"Kalian ini. Awas saja. Setelah ini aku tidak akan mau bertemu kalian lagi." Ucap Zevina pura pura kesal.
#####
"Bos, pesawat yang ditumpangi oleh pria itu akan mendarat beberapa menit lagi bos." Ucap pria anak buah si pria misterius dari dalam mobil tidak jauh dari bandara.
"Bagus. Lakukan sesuai rencana dan pastikan kau tidak gagal." Ucap si pria misterius dari balik telepon.
"Baik bos." Panggilan pun berakhir.
#####
"Bagaimana Mom, apakah uncle Darvin sudah ada tanda tanda akan sampai?" Tanya Raina yang kini ketularan ikut gelisah.
"Belum sayang." Ucap Zevina masih mondar mandir dan bahkan Raina juga ikut serta.
Jack hanya menggeleng dan menutup mata tidak ingin melihat kelakuan dua perempuan itu.
Tak lama kemudian ponsel Zevina berdering. Saat dilihat ternyata pemanggil nya adalah Darvin. Ia melakukan panggilan video. Zevina segera menggeser ikon hijau pada ponselnya ke atas dan menjawab panggilan itu.
"Hai babe, I miss you." Ucap Zevina duluan pada suaminya.
"I miss you more sayang." Darvin membalas.
"Sayang, aku baru saja keluar dari bandara. Ah, sangat melelahkan. Aku ingin vitamin untuk memulihkan tenaga ku nanti." Ucap Darvin merengek sambil berjalan mencari taxi yang bisa ia tumpangi.
"Kau ini. Nanti saja kita bicarakan soal Vitamin." Ucap Zevina tersipu malu.
"Kau tahu, selama aku di New York aku tidak bisa tidur dengan baik. Kau tidak disamping ku dan itu sangat sulit." Darvin berkata sambil masuk kedalam taxi terdekat didepan nya. Kemudian taxi itu pun melaju perlahan keluar dari bandara.
Darvin dan supir taxi itu tidak sadar kalau ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka dari belakang.
"Baiklah. Jika kau nanti sampai kesini kau bisa tidur sepuas mu. Dan aku akan memberi mu vitamin. Tapi kau harus pelan pelan." Zevina tersipu malu.
"Kenapa pelan pelan?" Darvin bertanya bingung.
"I'm pregnant babe and we will have a baby." Ucap Zevina semangat.
BRAKKK
Belum sempat Darvin berkata tiba tiba taxi yang ditumpangi nya ditabrak dengan keras dari belakang, membuat ponselnya terlempar entah kemana.
"Darv, are you okay?" Zevina bertanya panik.
Terdengar ada suara gaduh antara Darvin dan sopir taxi, juga suara decitan ban mobil yang tak tentu arah. Rupanya taxi yang ditumpangi Darvin dipaksa melewati jalur sepi yang tidak seharusnya dilewati oleh kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Jalur khusus kendaraan mobil bermuatan berat dan mobil besar.
"Zevina kau harus menunggu ku. Aku akan segera sampai." Ucap Darvin dengan suara bergetar dan sedikit berteriak karena taxi yang ditumpangi nya ditabrak berulang kali oleh mobil dibelakang nya.
"Darv, jangan menakuti ku seperti ini. Kau sedang dimana?" Zevina semakin panik namun tidak ada lagi jawaban dari Darvin.
Yang ada hanya bunyi decitan ban mobil dan bunyi dua kendaraan yang saling menghantam.
"Darv aku mohon. Katakan dimana kau?" Zevina mulai menangis, secepat kilat Jack langsung merangkul nya dan mencoba menenangkan nya.
"Darv Darvin ... " Zevina berteriak memanggil nama Darvin saat ia tidak mendengar suara apapun lagi selain suara mesin dan seperti sesuatu sedang menetes.
"Darvin katakan sesuatu." Pinta Zevina ketakutan.
Tiba tiba
BOOMMMM
******
What's Next??
Yuk jadi reader aktif dengan selalu tinggalkan komentar dan like setiap kalian selesai membaca, terserah deh komen apa mau yang penting sopan.
Favorit dan share ke teman teman kalian baik secara offline maupun online juga yah.