IF LOVE

IF LOVE
If Love 14



"Dad, apa kita akan mengantar Mommy pulang?" tanya Raina penuh harap. Hari ini Jack memiliki beberapa pertemuan penting sehingga ia maupun Zevina menjadi sangat sibuk.


"No sayang. Kau tidak boleh mengganggu aunty Zevina terus." Ucap Jack setia menatap layar komputer nya.


"Aku tidak mengganggu Mommy." Ucap Raina tidak terima ia dituduh sebagai pengganggu.


"Kau ingin menempel dua puluh empat jam pada aunty Zevina, itu sama artinya kau mengganggu nya." Ucap Jack berusaha membuat putrinya mengerti. Kini ia menatap dalam mata putrinya, wajah putrinya sangat mirip dengan mendiang istrinya.


Seketika ia mendekap Raina dalam pelukan nya. Setiap melihat wajah putrinya, ia akan selalu merindukan mendiang istrinya.


"Jangan memaksakan aunty Zevina dekat dengan mu, jika ia tidak ingin sayang." Ucap Jack memberi pengertian pada Raina.


Mereka tidak tahu kalau Zevina sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka mengira Zevina masih dipantry, karena tadi Zevina memang ingin membuat minuman.


"Aku tahu Dad. Tapi aku sangat ingin tahu rasanya mempunyai Mommy." Ucap Raina terisak.


"Bukankah Daddy sudah menjadi Mommy untuk mu juga?" tanya Jack, namun putrinya hanya menggeleng.


"Kau juga punya aunty Liz." Timpal Jack lagi.


"Tidak Dad, aunty Liz hanya ingin menjadi aunty ku. Dia sudah bilang padaku, dia tidak akan menikah dengan Dad, apalagi menjadi Mommy ku." Ucap Raina masih terisak.


Jack tahu selama ini adik mendiang istrinya memang tinggal bersama mereka untuk membantu nya menjaga dan merawat Raina. Tapi Liz memang tidak pernah tertarik padanya sebagai lelaki. Liz hanya menganggap nya kakak dan Ayah dari keponakan nya.


"Ya sudah, jangan menangis lagi. Janji pada Dad, jangan pernah memaksa aunty Zevina oke." Ucap Jack mengangkat jari kelingking nya. Raina mengangguk dan menautkan jari kelingking mungil nya pada jari Ayah nya.


Lalu Raina kembali duduk di sofa dan Jack kembali mengerjakan pekerjaan nya. Zevina baru masuk ketika melihat mereka sudah sibuk masing masing. Ia tidak ingin disangka menguping.


"Mommy." Raina beteriak memanggil Zevina saat melihat nya masuk. Ia seketika lupa dengan janjinya pada Ayahnya. Jack hanya bisa menggeleng melihat tingkah putri kecilnya.


"Stop. Jangan mendekat." Ucap Zevina menghadang Raina untuk dekat padanya saat ia melihat Raina mulai beranjak dari tempat duduknya. Raina terhenti dan tersenyum bodoh kemudian ia duduk kembali.


Zevina pun kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pekerjaannya. Raina yang merasa bosan pun akhirnya memutuskan untuk duduk di hadapan Zevina dan terus memandangi nya. Zevina salah tingkah oleh anak kecil itu.


"Aku tahu aku cantik. Tapi percuma kau memandangi ku seperti itu, kau tidak bisa secantik diriku." Sarkas Zevina ketus. Raina tersenyum tidak marah, Jack tersedak ludahnya sendiri membuat Zevina makin salah tingkah.


"Hehe Mommy memang cantik dan aku sangat menyukai kulit halus Mommy Seperti adik bayi." Ucap Raina polos. Zevina yang baru meneguk minuman nya langsung tersedak, dan Jack lagi lagi tersedak ludahnya sendiri.


"Raina cukup. Jangan mengganggu aunty Zevina atau Daddy tidak akan pernah membawa mu kesini lagi." Ancam Jack pada putrinya. Raina tetaplah Raina, ia lagi lagi hanya tersenyum bodoh pada Ayahnya dan terus memandangi Zevina.


"Mommy cantik, tapi mata Mommy menyimpan luka." Ucap Raina spontan sambil mengelus pipi Zevina.


Deg


Jantung Zevina berdetak tak karuan. Bagaimana gadis seusia nya bisa mengatakan kalimat itu pikir Zevina.


Zevina seketika menepis tangan Raina tapi tidak kasar. Ia tidak ingin terbawa perasaan oleh perkataan Raina. Kini giliran Jack yang diam diam menatap wajah Zevina. Jack menyadari apa yang dikatakan putrinya memang benar.


"Jangan malu Mommy." Ucap Raina terkekeh.


"Sttt." Zevina menyuruh Raina untuk diam.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Zevina merenggangkan otot badan nya. Ia melihat Raina tertidur dengan meja nya sebagai tumpuan kepalanya. Ada rasa iba pada gadis kecil yang selalu memanggilnya Mommy sejak dua hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, enam bulan belum cukup untuk ia melepaskan semua luka masa lalu nya.


"Ayo Zevina, aku akan mengantar mu pulang." Ucap Jack yang sedang meraih putrinya dalam gendongan nya.


"Tidak perlu Tuan. Aku bisa pulang sendiri." Ucap Zevina berusaha menolak.


"Ini sudah malam. Jangan menolak. Aku tidak ingin besoknya aku malah mendengar berita tentang yang mati mengenaskan dijalanan." Ucap Jack terkekeh. Zevina hanya mendengus kesal. Bagiamana bisa bos nya yang tampak ramah ini mengatakan hal yang menyeramkan pikirnya.


"Baiklah Tuan. Maaf merepotkan anda." Ucap Zevina merasa tidak enak.


"Kau bisa memanggil ku dengan nama ku jika hanya ada kita bertiga." Ucap Jack lalu tanpa menunggu ia segera meraih tangan Zevina kedalam genggaman nya, dan melangkah meninggalkan ruangan nya.


Zevina tertegun dengan perlakuan Jack. Ini kali keduanya Jack menggenggam tangan nya. Jantung nya berdetak tak karuan.


"Masuklah." Ucap Jack setelah mendudukan Raina di kursi belakang mobil nya. Zevina hanya menuruti perintah atasannya. Ia pun duduk dan membaringkan kepala Raina dipaha nya. Ia menatap instens wajah cantik Raina.


"Apa dia mirip Ibu nya?" Batin Zevina mengelus kepala Raina.


"Kau lebih cantik jika kau tenang seperti ini." Gumam nya dan masih bisa terdengar oleh Jack.


"Maaf Zevina, tapi baru kali ini dan dengan mu saja ia seperti itu. Mungkin dia bisa melihat sesuatu di dalam diri mu yang tidak ada pada wanita lain." Ucap Jack menjelaskan.


"Tidak apa. Hanya saja aku tidak suka mendengarnya memanggil ku Mommy. Sisa nya aku bisa terima." Ucap Zevina tulus.


"Aki sudah bilang padanya berulang kali tapi tetap saja ia tidak ingin mendengar perkataan ku." Ucap Jack.


"Ibunya meninggal saat usianya masih dua tahun. Dan aku tidak menikah lagi sampai saat ini. Jadi karena itulah ia sangat ingin mempunyai seorang ibu." Timpal Jack.


Apa yang Jack katakan memang benar. Sejak kepergian istrinya, ia sama sekali tidak punya niat untuk menikah lagi dan fokua membesarkan putrinya.


"Mengapa Tuan tidak ingin menikah lagi?" tanya Zevina tiba tiba membuat perasaan Jack tidak karuan. Bayangan masa lalu mulai menghampiri nya.


"Aku hanya belum siap. Dan juga akan sulit menemukan perempuan yang tulus pada putri ku pasti nya. Karena jika aku menikah lagi, aku bukan menikah untuk diri ku saja tapi untuk putri ku juga." Ucap Jack menyampaikan isi hati nya.


"Benar juga." Jawab Zevina membuat Jack tersenyum.


"Mungkin untuk kedepannya kau harus banyak bersabar karena putri ku pasti akan sering merepotkan mu." Ucap Jack berusaha merayu Zevina agar tahan dengan kejahilan putrinya nanti.


"Aku akan usahakan." Ucap Zevina singkat. Tak lama mereka pun sampai di apartemen Zevina. Setelah turun dan mengucapkan terima kasih, ia pun segera menuju unit apartemennya agar bisa segera istirahat.


*********


Makasih para reader yang udh baca cerita ini dan yang masih menunggu kelanjutan nya.


Semoga aku bisa cepat menyelesaikan proses revisi nya yah.


Tinggalkan komentar, like, favorit, dan Vote nya untuk cerita ku.


Jangan lupa rate bintang 5, 4, 3 nya juga.