IF LOVE

IF LOVE
If Love S2 22



Empat Bulan Kemudian


Kandungan Zevina sudah genap berusia sembilan bulan.


Zevina memutuskan untuk melahirkan lewat operasi sesar.


Jadwal yang Zevina pilih adalah hari ini, dan tampak Darvin tengah mengemas barang barang yang akan mereka bawa ke rumah sakit nanti.


"Sayang, apa terasa sakit?" Tanya Darvin khawatir.


"Tentu saja sakit. Normal dan operasi sama sama sakit Darv." Ucap Zevina lembut.


Darvin lalu menghentikan sejenak kegiatan nya dan berjongkok menghadap istrinya yang sedang duduk di kursi roda.


"Maafkan aku sayang. Demi memberikan keturunan kepada ku, kau harus menahan sakit yang tidak bisa dibagikan pada orang lain." Ucap Darvin menggenggam erat tangan istrinya.


Zevina tersenyum.


"Tidak masalah sayang. Jika kau yang menjadi istri, kau juga akan merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Zevina lembut sambil mengelus pipi suaminya.


Darvin mengecup sayang kening Zevina.


"Maafkan aku sayang. Dulu dengan sangat bodoh aku melakukan kesalahan besar dengan menyakiti mu sampai kehilangan bayi pertama kita. Tapi aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti mu lagi, dan akan menjaga kalian dengan baik." Pinta Darvin tulus.


"Sayang, semua itu sudah berlalu. Semua nya dapat kita jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik kedepan nya. Aku tidak mengingat hal itu lagi. Jika tidak ada kejadian itu, mungkin sampai saat ini Darvin yang ada di hadapan ku masih Darvin dengan temperamen kasar dan buruk nya. Maka dari itu aku bersyukur, walaupun kejadian itu menyakitkan, tapi kejadian itu juga yang membuat mu sadar dan berubah menjadi lebih baik hingga sekarang." Ucap Zevina tulus.


Darvin tersenyum.


"Kau memang wanita terbaik ku sayang. Cinta pertama dan terakhir ku. Aku bersyukur dalam hidupku aku hanya menjalin hubungan dengan satu wanita saja dari awal sampai sekarang dan seterusnya." Ucap Darvin mentoel gemas hidung istrinya.


"Apa kau sedang menyindir ku?" Tanya Zevina kesal.


"Tidak sayang. Aku serius. Kau juga hanya mencintai ku. Bagi ku pria lain bukan menjalin hubungan dengan mu, tapi hanya berteman. Lagi pula itu juga salah ku karena bersembunyi begitu lama." Ucap Darvin.


Ia bangkit dari posisinya lalu mengecup singkat kening istrinya.


Ia kembali mengemaskan barang barang yang akan mereka bawa.


"Hei, little." Sapa Derex yang tiba tiba masuk kedalam kamar mereka bersama Alice dan Derice juga Arzevin.


"Hei. Kapan kalian datang?" Tanya Zevina girang.


"Baru tadi. Aku sengaja datang hari ini untuk menemani mu." Ucap Derex girang.


"Derex, kau tidak ingin menambah juga?" Tanya Darvin tersenyum jahil.


"Tidak. Anak ku sudah banyak. Derice putra kandung ku, Raina putri sambung ku. Ada Ar putra angkat sekaligus keponakan ku, dan sekarang aku akan mendapatkan dua lagi anak angkat sekaligus keponakan." Ucap Derex menghitung.


Darvin terkekeh.


"Apa kau sudah siap Zev?" Tanya Alice lembut sambil berjongkok memegang perut buncit Zevina.


Zevina mengangguk.


"Rasanya sungguh keajaiban little. Riwayat keluarga kita ataupun suami mu tidak ada keturunan kembar, tapi kau diberi kepercayaan untuk memiliki anak kembar." Ucap Derex terharu.


"Tuhan menggantikan yang dulu pernah lalai kami jaga." Ucap Zevina sendu.


"Sudahlah Zev, semua sudah berlalu. Kau harus semangat. Tidak boleh bersedih." Ucap Alice menenangkan adik ipar nya.


Zevina mengangguk dan tersenyum.


"Sudah beres. Ayo sayang kita berangkat." Ajak Darvin pada istrinya.


"Barang barang kalian biar aku saja yang bawa." Ucap Derex mengambil alih barang barang mereka dari tangan Darvin.


Mereka pun keluar dari kamar Darvin dan Zevina, segera turun menuju ke mobil masing masing.


"Pelan pelan." Ucap Darvin memapah istrinya masuk kedalam mobil dengan sangat berhati hati.


Setelah selesai, Darvin menutup pintu mobilnya lalu berjalan masuk kedalam bagian kemudi.


Arzevin memilih ikut mobil Derex karena ada Derice disana.


Mereka pun segera melajukan mobil mereka menuju rumah sakit.


"Aku gugup sekali." Gumam Darvin menggenggam satu tangan Zevina.


"Santai saja sayang." Ucap Zevina menenangkan suaminya.


Darvin malah lebih gugup dari Zevina yang akan melahirkan.


"Apa kau yakin semuanya akan baik-baik saja?" Tanya Darvin khawatir.


"Tenanglah. Aku sudah pernah melahirkan dan proses nya sama." Ucap Zevina lembut.


Darvin akhirnya memilih untuk mencoba lebih tenang.


Tak lama kemudian mereka pun telah sampai di rumah sakit.


Bukan dokter Caren yang akan menangani Zevina, tetapi dokter lain.


Darvin turun terlebih dulu dari mobil lalu membantu Zevina untuk turun dan duduk di kursi roda nya.


Derex, Alice dan kedua bocah laki laki mereka menyusul di belakang sambil menenteng tas bawaan mereka tadi.


Darvin segera mengurus segala administrasi prosedur operasi sesar yang akan dijalankan Zevina setelah perawat mengambil alih Zevina untuk dibawa ke ruang operasi agar bisa segera bersiap.


Setelah selesai, Darvin dan yang lain pun menyusul dan menunggu di depan pintu ruang operasi.


Darvin mengangkat kepalanya menoleh ke arah sumber suara.


"Keanu?" Ucap Darvin saat melihat Keanu datang bersama istrinya.


"Aku tidak gugup." Ucap Darvin berbohong, padahal jelas suara nya terdengar sedikit bergetar.


"Itulah yang aku rasakan saat Zev melahirkan Ar." Ucap Keanu sinis.


Darvin menatap wajah istri Keanu untuk mencari raut kecemburuan, namun Darvin tidak mendapatkannya.


"Apa kau tidak bisa jaga bicara mu? Kau sedang bersama istri mu." Ucap Darvin sinis.


"Istriku tidak cemburuan seperti mu. Lagi pula dia sudah tahu semua tentang ku dan Zev." Ucap Keanu tersenyum manis pada istrinya.


"Terserah kau saja." Ucap Darvin ketus.


Derex dan yang lain memilih untuk menjadi penonton.


Tak lama kemudian, lampu merah diatas pintu ruangan operasi pun menyala tanda operasi sesar Zevina mulai dijalankan.


Darvin semakin gugup.


"Oh Tuhan, jagailah ketiga nyawa ku didalam sana." Pinta Darvin berdoa didalam hati.


Menunggu cukup lama.


Ooee ooee


Terdengar lah suara gaduh tangis dua bayi yang saling bersahutan.


Darvin luruh terduduk lemas di kursi tunggu didepan ruangan karena sedari tadi ia hanya berdiri.


Jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga terasa akan copot.


Mereka masih menunggu cukup lama.


"Tuan Darvin?" Seorang dokter keluar dari ruangan operasi.


"Iya aku." Jawab Darvin menahan lemas di kaki nya dan berusaha berjalan mendekati dokter tersebut.


"Selamat, bayi kembar anda sehat semua dan berjenis kelamin perempuan keduanya. Ibunya juga dalam kondisi baik. Para perawat sedang menangani lebih lanjut Ibu dan bayi. Pihak keluarga bisa menengok nya setelah nanti dipindahkan ke ruang inap." Ucap dokter tersebut menjelaskan.


Darvin hanya mampu mengangguk.


Darvin kembali luruh, kini terduduk lemas di lantai.


Arzevin memilih menghampiri Ayahnya dan memeluk Ayahnya.


"Dad, kenapa Daddy bersedih?" Tanya Arzevin pelan.


"Daddy tidak bersedih nak. Daddy bahagia. Sangat bahagia memiliki mu, Mommy, dan kedua adik bayi perempuan mu." Ucap Darvin terisak pelan.


"Jadi adik ku perempuan keduanya? Yey....." Ucap Arzevin bersorak gembira dan melompat kesana kemari hingga akhirnya Derice juga ikut ikutan.


Semua nya tertawa kecil melihat tingkah dua bocah berbeda usia itu.


Tak lama kemudian, beberapa perawat pun keluar mendorong brankar dengan Zevina terbaring di atas nya beserta satu box bayi berukuran besar yang terdapat dua bayi mungil didalamnya yang masih berwarna merah.


Darvin sekali lagi terharu dan menitikkan air mata sambil mengikuti langkah para perawat itu.


Mereka pun masuk kedalam ruangan inap VIP.


"Silahkan Tuan." Ucap para perawat mempersilahkan Darvin dan anggota keluarga yang lain untuk menengok Zevina dan kedua bayi nya.


Zevina terlelap mungkin karena lelah.


Darvin menatap wajah lucu kedua bayi mungil nya.


"Selamat datang di dalam keluarga kecil kita sayang." Ucap Darvin kemudian mengecup pelan kening kedua putrinya.


Semua yang ada di dalam ruangan itu merasakan bahagia yang teramat menyambut kelahiran dua bayi mungil itu.


Darvin mendekati Zevina dan meraih tangan Zevina kedalam genggaman nya.


"Sayang, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk ketulusan mu dan kesetiaan mu selama ini. Terima kasih untuk kesabaran mu menghadapai ku. Bahkan disaat aku tidak ada disamping mu, kau dengan setia menunggu ku dan merawat putra kita dengan baik. Terima kasih karena sudah mau menahan sakit demi memberikan keturunan kepada ku. Aku tahu kata terima kasih saja tidak akan cukup untuk mengganti semua pengorbanan mu, tapi tetap aku ucapkan terima kasih. Aku mencintai mu sayang dan akan selalu mencintai mu." Ucap Darvin.


"Darv, siapa nama bayi kembar perempuan mu?" Tanya Derex menatap lekat kedua keponakan kembar nya.


"Arvina Anthony dan Arzena Anthony." Jawab Darvin tetap menggenggam tangan istrinya.


"Semoga kedepan nya, hanya bahagia yang melingkupi kehidupan kita semuanya. Tidak perlu lagi ada cobaan yang akan membuat kita terpisah lagi."


...~ END ~...


******


Like dan komentar jangan lupa.


Next bab, aku mau coba bikin part khusus penghargaan untuk Keanu, yang akan menceritakan bagaimana ia bertemu dengan istrinya.


Jika masih pengen tahu, pantengin lagi kelanjutannya. Jangan buru2 di UnFav dulu.


Makasih.


Oh yah, maaf kalo mungkin bab ini nggak terlalu persis dengan proses SC secara kenyataan, ini aku cuma tulis secara garis besar yang aku ketahui doang.