IF LOVE

IF LOVE
If Love 54



NOTE : Aku ada nulis cerita baru judulnya "Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)" atau bisa langsung klik di bio aku aja. Tinggalkan jejak komentar dan like yah.


...~ Happy Reading ~...


.


.


.


BUUKKK


Zevina menabrak seseorang dan pinggang nya diraih sebelum ia sempat terjatuh.


Saat Zevina melihat, ternyata pria yang sama yang tidak sengaja ia tabrak saat di pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu.


"Kau tidak apa apa Nona?" Pria itu adalah Derex.


"Um, tidak aku tidak apa apa." Zevina segera membenarkan posisinya dan berdiri di hadapan Derex lalu membungkuk beberapa kali.


"Maaf Tuan aku tidak sengaja." Zevina meminta maaf.


Derex tersenyum manis.


"Kau sudah dua kali menabrak ku Nona. Sepertinya takdir memang akan membawa mu untuk merasa nyaman dalam pelukan ku." Ucap Derex menatap dalam mata Zevina.


Zevina bingung dengan perkataan Derex.


"Aku Derex." Derex mengulurkan tangan nya.


"A aku Zevina." Zevina menerima uluran tangan Derex sedikit gugup.


"Apa kabar mu?" Derex kembali bertanya.


Zevina semakin bingung.


"A aku baik." Zevina kembali menjawab dengan gugup.


"Jaga dirimu dan kesehatan mu baik baik. Kita pasti akan bertemu lagi." Ucap Derex tersenyum manis lalu berlalu meninggalkan Zevina.


"Apa apaan?" Zevina membatin.


Zevina pun segera kembali ke tempat dimana Jack dan yang lain sudah menunggunya.


"Zev, kau tidak apa apa?" Jack bertanya khawatir melihat wajah bingung Zevina.


"Um tidak. Aku baik baik saja." Zevina menjawab seadanya malas membahas.


"Ya sudah, cepat habiskan makanan mu." Titah Jack.


Zevina pun segera menghabiskan makanannya dengan perasaan bingung.


Selesai makan mereka tidak langsung pulang. Jack membawa mereka kw sebuah kedai desert yang cukup terkenal di kota itu atas permintaan Raina.


"Dad, aku ingin yang ini." Raina menunjuk pada foto es krim berbentuk kepala panda di menu.


"Baiklah, kau yang mana Zev?" Jack bertanya pada Zevina.


"Aku terserah saja." Zevina menyerahkan pilihan nya pada Jack.


Pikiran nya masih berputar memikirkan tentang perkataan Derex tadi.


"Baiklah, aku samakan punya Raina untuk mu." Ucap Jack dan Zevina hanya tersenyum.


"Uncle Roy, uncle mau yang mana?" Raina bertanya pada Roy.


"Uncle tidak terlalu suka manis. Apa disini ada kopi?" Roy balik bertanya pada Raina.


"Ada uncle. Kopi disini saat nikmat. Aunty Liz sangat menyukai nya." Ucap Raina.


Wajah Jack tiba tiba berubah menjadi sendu mendengar nama Liz.


"Raina sstt." Zevina memberi kode agar Raina tidak menyebut nama Liz.


Raina menoleh kearah Ayahnya dan langsung menutup mulut nya dengan telapak tangan nya saat melihat perubahan wajah Ayahnya.


"Sudah. Aku akan memberikan pesanan ini pada mereka." Ucap Jack lalu berjalan untuk menyerahkan pesanan nya pada pelayan disana.


Jack kembali dan duduk di tempat nya semula.


"Aku mencoba Zev, tapi sampai detik ini aku tidak bisa menemukan keberadaan nya." Ucap Jack sendu.


"Hah, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Liz?" Zevina menggerutu bingung.


"Dia mengira aku tidak mencintai nya dan ingin menikahinya hanya karena tanggungjawab dari perbuatan kami." Jack menjelaskan yang ia ketahui.


"Apa karena dia mengandung anak mu?" Zevina bertanya asal.


Deg


Seketika jantung Jack berdetak tak karuan. Mengingat terakhir kali pertarungan mereka sangat sengit dan berulang kali.


"Tapi dia bilang padaku dia memasang kontrasepsi ditubuh nya." Jack berusaha menyangkal.


"Jack, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan kau lihat keadaan ku, suami ku pergi meninggalkan ku disaat aku paling membutuhkan nya." Zevina berkata sambil menahan air matanya.


"Entahlah Zev. Jika memang benar dia mengandung anak ku, aku sangat bersyukur. Itu artinya aku punya alasan kuat untuk mempertahankan diri nya tetap disamping ku jika dia tetap tidak percaya aku mencintai nya." Ucap Jack lemah.


"Kau pasti bisa Jack." Zevina tersenyum manis.


Tampak dari luar kedai itu, Derex sedang memantau keadaan Zevina dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Kenapa kau dikelilingi pria pria jahat itu Vin." Derex menggumam seolah berbicara pada Zevina.


"Dan bagaimana aku bisa membuktikan sesuatu yang rahasia itu agar aku bisa meyakinkan diri mu dan membawa mu dan bayi mu pulang bersama ku." Derex kembali menggumam.


"Sudah dua puluh tahun lebih dan rasanya sulit sekali. Tatapan mu sama sekali tidak berubah, tapi ap kau tidak mengingat sedikitpun masa kecil kita?" Lagi lagi Derex seolah berbicara pada Zevina.


Cukup lama, hingga akhirnya Derex memutuskan untuk pergi dari tempat itu setelah mengambil beberapa foto Zevina.


#####


"Darv, kau benar benar yakin tidak ingin pulang pada istri mu?" Liz bertanya pada Darvin.


"Aku ingin pulang tapi tidak sekarang." Ucap Darvin sendu.


Mereka sedang makan malam saat ini. Tentu saja dirumah Liz.


"Jika kau terlalu lama bersama ku, kau bisa jatuh cinta pada ku." Liz berkelakar.


"Aku tidak mungkin jatuh cinta pada mu. Kau milik pria lain, lagipula istri ku jauh lebih segalanya dari mu." Darvin meremehkan Liz membuat Liz melotot tajam pada nya.


"Aku tidak pernah menginginkan milik orang lain karena aku punya milik ku sendiri." Darvin kembali berucap serius.


"Aku hanya bercanda. Untuk apa kau menanggapi nya dengan begitu serius." Liz mengomeli Darvin.


"Agar kau tahu aku punya prinsip dalam hidup ku." Ucap Darvin serius.


"Terserah kau saja." Liz berkata dengan kesal.


"Liz, kau mencintai Jack?" Darvin bertanya tiba tiba.


"Tidak." Liz menjawab asal tanpa menatap Darvin.


"Mata mu tidak bisa berbohong." Darvin menuntut kebenaran.


"Terserah kau saja." Liz bangkit dari duduknya dan langsung berjalan masuk ke kamarnya.


Darvin seorang pria yang dicintai oleh istrinya, dan tentu saja ia bisa melihat cinta dimata Liz untuk Jack. Tanpa Liz mengatakan pun Darvin bisa tahu.


"Sayang, semoga kau dan baby bisa menunggu hingga aku siap kembali pada kalian. Semoga saja." Batin Darvin.


******


Lagi gak semangat buat ngetik, setelah ngeliat viewer turun drastis di kedua novel ku.


Entah salah dan kurang ku dimana, pada ngilang gitu aja.


Padahal aku dengan senang hati menerima kritik dan saran serta masukan, selama kalian menyampaikan dengan sopan.


Tapi pada main ngilang aja.


Aku lanjut up karena mikirin kalian yang masih setia dan ku ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya dan tulus dari lubuk hati yang terdalam.


Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian dan suatu hari aku bisa membalas kebaikan kalian yang menghargai karya ku.


~ loph you ~