IF LOVE

IF LOVE
Extra Chapter If Love 2 ( The Anthony Twins)



Seperti yang Darvin katakan tadi malam, hari ini ia akan mengantarkan kedua putrinya berangkat ke sekolah. Tidak lupa juga si sulung Arzevin yang juga akan diantar ke sekolah dasarnya.


Mereka saat ini sedang berada di meja makan dan sedang sarapan bersama.


"Ar, apa disekolah mu juga memiliki masalah yang sama?" Tanya Darvin pada putra sulungnya.


Arzevin menggeleng.


Darvin memang sudah menceritakan masalah yang dialami si kembar tadi sambil memberi pengertian pada mereka.


"Sekolahku sangat ketat Dad. Setiap hari sebelum masuk kedalam kelas selalu ada pemeriksaan. Jika ketahuan melanggar, para murid akan langsung diberikan peringatan dan orang tua juga akan mendapatkan pemberitahuan pelanggaran." Jawab Arzevin.


Darvin mengangguk lega.


Setidaknya dari ketiga anaknya, hanya satu yang sedikit susah diatur.


"Arzena ayo cepat habiskan makanan mu." Titah Darvin tegas saat melihat Arzena hanya memainkan sarapan nya.


"Aku tidak lapar Dad. Tadi aku sudah meminum susu ku." Ucap Arzena.


"Ya sudah, nanti kau bawa bekal saja seperti kakak Ar dan Vina." Usul Zevina.


Arvina dan Arzevin memang selalu meminta untuk membawa bekal sendiri dari rumah untuk makan siang mereka, sedangkan Arzena selalu tidak mau dan menolak.


"No no. Aku tidak butuh bekal. Aku ingin ponsel." Pinta Arzena.


Zevina dan Darvin mendengus kesal.


"Jika kau sampai mendapatkan ponsel dari Daddy ataupun Mommy, maka lihat saja kau tidak akan mendapatkan sedikitpun uang jajan bagian mu." Ucap Arvina mengancam karena memang uang jajan sikembar selalu dipercayakan pada Arvina selaku kakak.


"Okay, i'm sorry. Aku tidak butuh ponsel. Lebih baik aku mendapatkan jajan agar bisa ku tabung untuk membeli album artis favorit ku." Ucap Arzena semangat.


Sepertinya Arvina adalah pawang untuk Arzena.


Mereka pun melanjutkan kegiatan sarapan mereka dalam diam.


"Sudah siap semuanya?" Tanya Darvin saat mereka sudah selesai sarapan.


"Sudah." Jawab Arzena semangat.


"Ayo kita berangkat sekarang." Ucap Darvin berjalan duluan diikuti istri dan anak-anaknya.


Mereka pun masuk kedalam mobil.


Darvin segera menjalankan mobilnya menuju ke sekolah Arzevin terlebih dulu untuk mengantar putranya.


Mereka sampai disekolahan Arzevin.


"Hati-hati boy. Belajar yang rajin." Ucap Darvin saat Arzevin turun dari mobil.


Darvin dan Zevina tidak perlu terlalu khawatir tentang Arzevin karena Arzevin sangat penurut dan bukan anak yang nakal.


Cari pun kembali menjalankan mobilnya menuju ke sekolah si kembar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahan Arzevin.


Mereka pun kini sampai disekolahan si kembar.


"Ayo, hati hati." Ucap Darvin membukakan pintu mobilnya untuk Zevina dan juga si kembar.


Saat mereka turun dari mobil dan melangkah masuk, semua mata tertuju pada mereka.


Banyak bisikan-bisikan yang mulai terdengar.


"Ya ampun, keluarga yang sempurna."


"Apa mereka adalah keluarga selebritis?"


"Pantas saja si kembar sangat cantik, ternyata orang tua mereka sangat berkilau. Cantik dan tampan."


"Apa suaminya butuh istri kedua atau simpanan?"


Begitulah bisikan-bisikan yang terdengar.


Zevina dan Darvin memilih tidak menanggapi, tapi mereka juga heran kenapa banyak juga para orang tua murid yang berkumpul.


Biasanya mereka hanya akan mengantarkan si kembar sampai didepan gerbang sekolah dan pergi setelah memastikan si kembar sudah masuk dengan aman.


Mereka memilih kembali mengabaikan dan langsung menuju ke kelas si kembar sebelum menemui kepala sekolah.


"Belajarlah yang rajin. Jangan nakal. Mengerti?" Ucap Darvin mengecup kening putrinya bergantian begitupun Zevina melakukan hal yang sama.


Si kembar mengangguk dan berjalan masuk menuju tempat duduk mereka.


Darvin dan Zevina pun segera menuju ke ruang kepala sekolah.


"Ya, silahkan masuk." Ucap suara seorang wanita dari dalam ruangan.


Darvin dan Zevina pun masuk kedalam.


"Oh, hi Mrs. Anthony." Ucap sang kepala sekolah yang mengenal Zevina.


"Hi mam, ini suamiku Darvin Anthony." Ucap Zevina memperkenalkan Darvin.


Mereka pun dipersilahkan untuk duduk.


"Jadi apa yang membawa Tuan dan Nyonya Anthony kemari?" Tanya sang kepala sekolah dengan sopan.


Darvin pun mulai menceritakan keluhannya.


"Oh God, apa benar anak anak kecil itu sudah separah itu?" Tanya sang kepala sekolah terkejut.


"Aku minta agar Mam bisa menindaklanjuti masalah ini demi kebaikan bersama." Ucap Darvin sopan.


"Baiklah. Apa bisa Tuan dan Nyonya Anthony ikut saya ke kelas twins untuk membujuk mereka mengatakan siapa yang sudah membawa ponsel ke sekolah?" Tanya sang kepala sekolah.


Darvin dan Zevina mengangguk, mereka pun keluar dari ruangan kepala sekolah dan menuju ke kelas twins.


•••••••••••


Di kelas si kembar.


PLAKK


Arvina menampar seorang anan laki laki yang mencium bibir kembarannya.


"Kau bersikap sopan sedikit. Tidak baik anak kecil seperti kita melakukan hal itu." Ketus Arvina menunjuk wajah bocah lelaki itu.


Bocah lelaki itu tersenyum sinis memegang bekas tamparan Arvina.


"Saat dewasa nanti kita pun akan melakukan itu, jadi kenapa tidak sekarang saja?" Ucap anak lelaki itu.


"Kau tidak sopan Dave, aku akan melaporkan mu pada kepala sekolah dan juga Daddy ku." Ancam Arvina.


Arvina memang selalu berusaha menjaga dan melindungi Arzena dari hal apapun itu.


"Oh ya?" Dave menyeringai dan melangkah maju membuat Arvina melangkah mundur.


Sigap Dave meraih tengkuk leher Arvina dan menyatukan kening mereka.


"Kau milikku Arvina. Mulai detik ini kau menjadi milikku dan aku akan mendapatkanmu saat dewasa nanti." Ucap Dave penuh penekanan.


Ia lalu mengambil tas nya dan meninggalkan kelas tersebut.


"Ada apa ini?" Tanya sang kepala sekolah yang baru memasuki ruang kelas bersama Darvin dan Zevina.


"Dave mencium adik ku, dan aku menampar serta memarahinya." Jawab Arvina jujur.


Sang kepala sekolah mendengus kesal.


"Arvina, siapa yang membawa ponsel di kelas ini?" Tanya sang kepala sekolah pada Arvina.


"Dave. Siapa lagi jika bukan dia? Dia satu satunya anak nakal di kelas ini. Dia juga selalu mencium bibir para murid perempuan." Ucap Arvina dengan lantang tanpa takut apapun.


"Dave? Yang mana anak itu sebenarnya?" Gumam sang kepala sekolah.


"Dia baru saja pergi." Ucap Arvina.


Mereka tidak ada yang sadar bahwa Dave sedang menguping obrolan mereka.


"Arvina." Batin Dave geram.


"Kau berani melawan dan mengganggu kesenangan ku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas mu saat dewasa nanti. Lima belas tahun dari sekarang aku akan mempersiapkan semuanya untuk mu." Ucap Dave geram mengepalkan kuat tangannya.


Ia memutuskan untuk meninggalkan sekolah itu agar tidak berurusan dengan kepala sekolah dan yang lainnya. Sudah dipastikan ia akan meminta pindah sekolah dengan Ibunya.


"Sudah sudah, semuanya duduk kembali. Dengarkan Mam baik baik! Mulai besok semua murid akan dilakukan pemeriksaan sebelum masuk kedalam lingkungan sekolah dan juga kelas. Siapa yang ketahuan melanggar akan langsung mendapatkan peringatan dan orang tua mereka akan dipanggil kemari." Ucap sang kepala sekolah membuat Darvin dan Zevina sedikit bernafas lega.


Setelah selesai dengan urusan mereka, mereka pun meninggalkan sekolah tersebut.


Mungkinkah jika masalah sudah benar-benar selesai? Atau masalah malah akan menjadi semakin rumit kedepannya?


...~ **END ~...


######


Okay, untuk IF LOVE aku akhiri sampai disini ya. Jika berkenan menunggu jangan dulu di unFav untuk menunggu pemberitahuan season dua yang akan bercerita seputar tentang Si Kembar Anthony**..