IF LOVE

IF LOVE
If Love 55



Note : Aku ada nulis cerita baru judulnya " Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat) " **Jangan lupa mampir yah dan tinggalkan jejak komentar dan like. Makasih.


...~ Happy Reading** ~...


.


.


.


.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tidak terasa kehamilan Zevina sudah memasuki usia enam bulan.


Dan hari ini dia berniat untuk memeriksa kehamilan nya.


"Zev, ijinkan aku menemani mu." Pinta Roy.


"Kau harus bekerja Roy. Aku tidak ingin merepotkan mu." Zevina menolak halus.


Hubungan nya dan Roy semakin membaik walaupun Zevina belum sepenuhnya membuka hati. Jauh didalam lubuk hati nya ia masih mengharapkan keajaiban untuk Darvin.


"Tidak Zev, aku sudah minta cuti hari ini. Aku mohon. Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada mu." Pinta Roy memelas.


"Ya sudah. Tapi kau tidak boleh banyak bicara." Zevina mengingatkan keras.


Terakhir kali yaitu saat usia kandungan Zevina berusia tiga bulan, Roy juga menemani Zevina memeriksa. Zevina dibuat kesal olehnya karena Roy mengaku suami nya dan Ayah dari anak nya.


"Aku tidak banyak bicara Zev. Aku hanya membantu mu." Roy membela diri dan itulah kalimat yang ia ucapkan pada Zevina kala itu.


"Aku ingin kau cukup diam saja." Zevina menegaskan.


"Baiklah." Roy menjawab pasrah.


"Ya sudah aku segera bersiap." Roy berkata lalu berlari ke kamar nya.


Salah satu sudut kosong di apartemen Zevina, direnovasi oleh Roy dan dijadikan kamar nya.


Zevina menunggu dengan sabar. Untung saja semakin besar kehamilannya ia sudah tidak merasakan gelaja yang menyiksa nya lagi.


"Sudah." Roy keluar dengan pakaian rapi.


"Ingat jangan berbicara yang tidak tidak." Zevina kembali mengingatkan Roy.


"Baik sayang." Roy menjawab dengan lembut


"Lancang." Zevina mengomel.


Walau sudah bukan kali pertama Roy memanggil nya seperti itu, tapi ia masih seperti merasa pada Darvin.


Mereka pun berangkat. Roy mendapat fasilitas kendaraan dari perusahaan Jack karena kinerja nya yang bagus, jadi Roy sudah tidak berhubungan lagi dengan orang suruhan nya.


"Roy, bagaimana kabar Rexa?" Zevina tiba tiba saja bertanya.


"Entahlah. Sejak aku bangkrut dia juga sudah tidak bersama ku." Roy berbohong lagi.


Entah sudah berapa banyak kebohongan yang dia katakan pada Zevina.


"Aku pikir dia mencintaimu, padahal terlihat sekali dari caranya menatap mu." Zevina menduga.


"Tidak. Kau tahu saat seorang pria mempunyai segalanya, wanita yang mata duitan aka dengan mudah mencintai mereka." Roy berkilah.


Zevina hanya mengangguk lalu menatap keluar jendela mobil.


"Darv." Tiba tiba Zevina kembali mengenang Darvin.


Roy meraih tangan nya kedalam genggaman nya.


"I love you Zev." Ucap Roy kemudian mengecup punggung tangan Zevina.


"Aku akan mencoba Roy." Zevina tahu, dirinya tidak bisa selamanya terpuruk, demi anak nya dia harus bangkit.


"Terima kasih Zev." Roy tersenyum.


Walau Roy tidak lagi menakutkan dan dipenuhi nafsu seperti dulu, tapi tetap saja banyak kebohongan yang ia katakan pada Zevina.


Entah apa yang akan dilakukan Zevina jika mengetahui semua itu.


Kurang lebih empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Zevina memeriksa kandungan nya.


"Hati hati." Roy membantu Zevina untuk turun dari mobil nya.


"Ayo masuk." Roy kemudian menuntun Zevina seperti seorang suami siaga.


Mereka memang sudah membuat janji sebelum nya, jadi tidak perlu menunggu lama.


Saat berada di dalam ruangan dokter, Zevina segera diperiksa.


"Lihat Zev, bayi mu laki laki dan sangat tampan." Ujar Dokter yang memeriksa Zevina.


Zevina memang meminta dokter tersebut untuk memanggil nya nama saja agar lebih akrab.


"Benar dok. Andai saja Daddy nya ada di sini." Zevina kembali bersedih.


"Zev, tidak boleh bersedih. Kau lihat dia menjadi murung." Dokter tersebut mengingatkan Zevina.


Zevina melakukan USG empat dimensi, jadi bisa melihat wajah bayi nya dengan jelas walau tidak sepenuhnya nyata.


"Aku akan berusaha." Ucap Zevina pelan.


Dokter yang menangani nya memang sudah tahu cerita tentang Darvin.


Jadi dia bisa mengerti saat Zevina seperti itu.


"Mari." Setelah selesai memeriksa, dokter tersebut menuntun Zevina untuk bangun dan turun dari ranjang.


Mereka kemudian keluar dari ruang pemeriksaan menuju ke ruang utama dalam ruangan dokter tersebut.


Roy tampak seperti suami yang sedang menunggu istrinya.


"Bagaimana Zev?" Roy bertanya khawatir.


"Semuanya baik baik saja." Zevina menjawab singkat.


"Duduklah." Dokter meminta mereka untuk duduk.


"Bayi Zevina tidak adalah masalah, semuanya normal. Tapi satu hal selalu aku ingatkan, jangan terlalu sering bersedih karena itu berdampak besar pada emosional bayi mu nanti nya. Kau juga lihat sendiri tadi kan?" Tanya dokter tersebut.


Zevina mengangguk.


"Baiklah. Ini resep vitamin mu. Pastikan kau konsumsi secara teratur dan ingat pesan ku." Ucap dokter tersebut.


"Baik dokter." Kemudian Zevina dan Roy pun keluar dari ruangan dokter tersebut.


"Zev, setelah ini kau mau kemana?" Tanya Roy.


"Aku sebenarnya ingin ke rumah Jack. Aku ingin bertemu Raina." Pinta Zevina.


"Baiklah, aku akan mengantar mu. Lalu setelah itu aku akan kembali ke apartemen." Ucap Roy.


"Terima kasih Roy." Zevina tersenyum manis.


Setelah didalam mobil, Roy pun melaju menuju ke rumah Jack.


Setelah itu, Roy pun kembali ke apartemen Zevina.


Hari tidak terasa telah berganti malam. Roy yang dari tadi istirahat diruang tamu, terbangun saat mendengar bunyi ponselnya.


Tanpa melihat siapa yang menelpon dan ia malah mengira Zevina meminta jemputan, ia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa sayang?" Tanya Roy.


"Wah wah, ternyata sudah se akrab itu kau dengan wanita itu." Ucap si penelpon yang ternyata adalah seorang pria.


Roy menjauhkan ponselnya dari telinga nya dan melihat ternyata nomor yang menghubungi nya adalah orang yang pernah ia bayar untuk mencelakakan Darvin.


"Mau apa kau menghubungi ku?" Tanya Roy marah.


"Haha tentu saja aku ingin uang." Pria itu mengungkap keinginannya.


"Aku tidak akan memberikan mu. Lagi pula kerja sama kita sudah selesai." Roy membentak pria tersebut.


Titt


Bunyi pintu apartemen terbuka, tapi Roy tidak menyadari.


"Kau yakin tidak ingin memberi ku uang? Apa jadinya hubungan mu dengan wanita itu setelah aku memberi bukti bahwa kau yang sudah mencelakakan suaminya?" Pria itu mengancam.


"Coba saja kalau kau berani? Kau pikir aku takut pada mu, kau itu hanya menggertak ku." Roy tetap tidak takut pada ancaman pria itu.


"Baiklah, kau tunggu saja kabar baik dari ku. Akan ku pastikan wanita itu membenci mu bahkan mungkin akan membunuh mu setelah tahu kau yang telah mencelakakan suaminya." Pria itu kembali mengancam Roy.


"Coba saja. Aku yakin Zev akan lebih percaya pada ku. Kau katakan saja bagaimana aku sudah mencelakakan suaminya dan kita lihat apakah dia akan percaya pada mu." Roy menantang pria itu dan panggilan pun ia matikan.


"Roy."


...~ Bersambung ~...


Like dan komentar jangan lupa kakak, adik, om, tante semua.


Makasih.