
Tiga Hari Kemudian.
"Sayang, apa kau yakin kalian akan pulang hari ini?" Tanya Darvin ragu.
Zevina memaksa untuk pulang setelah hampir seminggu dirawat bersama putra nya.
"Aku yakin sayang. Kau juga kan Ar?" Tanya Zevina pada Arzevin sambil mengangguk memberi kode pada putranya.
"Yeah Dad, aku dan Mommy sangat bosan di sini. Aku juga ingin bertemu uncle Keanu." Jawab Arzevin polos.
Darvin membulatkan mata nya menatap istri dan putra nya bergantian.
"Ho, jadi kalian ingin keluar cepat hanya karena ingin bertemu uncle Keanu?" Tanya Darvin dengan nada kesal.
Kedua orang itu mengangguk, jika Arzevin memang polos dan jujur, maka Zevina hanya mengerjai suaminya.
"Baiklah baik. Setelah keluar dari sini aku akan mengantar kalian pada nya. Aku berikan kalian secara gratis padanya." Ucap Darvin kesal.
"Terima kasih sayang. Kau memang yang terbaik." Ujar Zevina sengaja.
Darvin yang sedari tadi sedang mengemas barang barang istri dan putra nya, kini ia mengemasnya dengan kasar dan sembarangan.
Darvin cemburu.
Sayangnya Darvin yang sekarang bukan lagi Darvin yang dulu, yang mungkin akan langsung menampar Zevina saat Zevina menyebut nama pria lain
Zevina tersenyum puas melihat suaminya cemburu seperti anak kecil.
Sedangkan Arzevin tidak mengerti apa apa. Ia hanya sibuk bermain dengan mainan pemberian Derice.
"Sayang, kemarilah." Titah Zevina lembut pada suaminya yang kini sedang duduk di sofa.
Mereka masih harus menunggu perawat atau dokter datang memeriksa keadaan Zevina dan Arzevin sekali lagi.
Darvin tidak bergeming.
"Darvin Anthony, kemari." Titah Zevina dengan tegas.
Namun lagi dari Darvin tidak bergeming, mukanya masam seakan ingin menerkam seseorang.
Zevina akhirnya memakai jurus terakhir.
Ia memasang wajah sesedih mungkin.
Hiks
Zevina mulai terisak, walau pura pura namun terdengar nyata.
Darvin yang melihat itu menjadi panik dan segera berlari mendekati Zevina.
"Mana yang sakit sayang?" Tanya Darvin panik.
Zevina menunjuk pada dada nya.
"Hatiku. Sakit sekali karena suamiku mengabaikan ku." Ucap Zevina dengan wajah yang dibuat buat sedih.
Darvin mendengus kesal.
"Kau ini." Darvin mengepalkan tangannya kuat dan berakhir memeluk erat Zevina.
"Jangan menyebut nama pria lain lagi sayang." Pinta Darvin serius.
"Oh ayolah, apa kau masih perlu cemburu seperti ini? Kita ini sudah menjadi orang tua." Bujuk Zevina pada suami nya.
"Aku akan selalu cemburu, selalu dan selalu. Bahkan ketika kita sudah kakek nenek sekalipun." Ucap Darvin menolak bujukan istrinya.
Zevina tertawa geli.
"Bagaimana bisa aku menikah dengan pria bodoh ini?" Gumam Zevina sengaja.
"Mau bagaimana lagi? Hanya pria bodoh ini yang berhak mendampingi mu. Pria bodoh ini yang berulang kali menyakiti mu namun juga sangat mencintai mu." Ucap Darvin serius.
"Haha. Aku tahu sayang. Lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas." Keluh Zevina sengaja.
Darvin pun akhirnya melepaskan pelukan nya.
Darvin menatap lekat wajah cantik istrinya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada istrinya.
Mereka berciuman panas, untung saja Arzevin sibuk dengan mainannya dan tidak melihat kearah mereka.
"Ekhem." Suara seorang pria membuat mereka mau tak mau harus berhenti.
Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Derex dan Keanu sedang berdiri di ambang pintu.
Derex dengan tatapan tajam nya, dan Keanu dengan tatapan kesal dan sedikit tersirat kecemburuan.
"Masuklah." Titah Darvin sengaja merangkul mesra pundak istrinya.
Sengaja memancing Keanu.
Derex dan Keanu melangkah masuk.
Derex melemparkan sebuah map putih pada Darvin.
"Apa ini?" Tanya Darvin bingung membolak balikkan map itu.
"Surat cerai mu dan little. Tandatangani." Titah Derex kejam.
"Kau gila Derex. Aku tidak mungkin melakukan itu." Bantah Darvin pada kakak iparnya.
"Kau terlalu banyak menimbulkan masalah bagi little. Setelah aku memutuskan, Keanu lah yang terbaik untuk little." Ucap Derex tegas.
Keanu tersenyum sinis.
"No Derex. Kau tidak bisa seperti ini. Aku yakin semua ada jalan keluar nya." Pinta Zevina dengan wajah sedih dan memeluk suaminya.
"Tapi aku tidak ingin kau terus dalam bahaya little." Ucap Derex sendu.
Zevina menunduk, air matanya mulai menetes.
"Cepatlah tandatangani." Titah Derex.
Perlahan Darvin membuka map putih itu.
Matanya terbelalak melihat isi didalamnya.
"Bangsat kau Derex. Kau mengerjai ku." Ketus Darvin pada kakak iparnya.
Derex dan Keanu tidak bersuara.
Darvin membaca dengan teliti isi map itu, dan terdapat beberapa lembar foto didalam nya.
"Ini bukankah? Dia paman ku." Ucap Darvin menyadari isi map itu adalah segala informasi tentang paman nya yang ia jebloskan ke penjara dulu.
"Ya. Mark Anthony. Dialah yang sudah menyebabkan istri dan putra mu kecelakaan." Ucap Derex.
"Apa dia sudah tertangkap lagi?" Tanya Darvin bingung.
"Kami sedang memburu nya. Dia sangat handal berlari dan bersembunyi." Jelas Keanu.
"Bukankah seharusnya dia masih di penjara? Saat itu pengadilan menjauhi hukuman seumur hidup pada nya. Harusnya belum saatnya dia bebas." Ucap Darvin menimbang dan mengira jumlah tahun hukuman penjara yang sudah di jalani paman nya.
"Aku rasa dia mempunyai seseorang yang membantunya, atau bisa jadi dia kabur dari penjara." Jelas Keanu lagi.
"Jika kalian berhasil menangkap nya, biarkan aku yang menghukum nya." Pint Darvin pada Derex dan Keanu.
Derex memandang remeh pada adik ipar nya.
"Apa kau bisa?" Tanya Keanu mewakili tatapan Derex.
"Jangan meremehkan mu. Aku saja sebentar lagi akan menjadi Ayah untuk kedua kalinya. Tapi kau, mendapatkan satu wanita saja tidak becus." Ucap Darvin mengejek Keanu.
Keanu mengepalkan tangannya, geram.
"Baiklah, kami akan menyerahkan nya pada mu jika kau memang mau." Ucap Derex datar.
Setelah perbincangan mereka selesai, tak lama seorang dokter masuk kedalam ruangan itu.
Dokter tersebut segera memeriksa Zevina dan Arzevin.
Selesai memeriksa, dokter tersebut pun mengijinkan Zevina dan Arzevin untuk pulang.
...~ To Be Continue ~...