IF LOVE

IF LOVE
If Love 8



Tidak terasa sebulan telah berlalu sejak pertengkaran Darvin dan Zevina. Darvin sepertinya benar benar menepati janjinya untuk berubah. Ia tidak lagi kasar pada Zevina walau kadang ia mendapati ada pria lain yang mencoba merayu Zevina. Ia berusaha menahan amarah nya dan memegang janjinya.


Mereka tampak masih terlelap dengan tubuh yang hanya ditutupi oleh selimut. Yah, semalam Darvin kembali melakukan kegiatan panas dengan Zevina. Darvin benar benar tidak pernah bosan untuk melakukan berulang kali dengan wanitanya. Bahkan ia ingin jika bisa melakukan nya setiap saat.


Zevina tiba tiba terbangun saat merasakan sesuatu ingin keluar dari perut nya. Dengan cepat ia melepaskan pelukan Darvin dan berlari kekamar mandi. Darvin ikut terbangun karena pergerakan Zevina.


"Huekk huekk." Zevina memuntahkan cairan bening beserta sisa sisa makanan yang ia makan kemarin malam.


"Kau tidak apa apa sayang?" tanya Darvin sambil menepuk punggung Zevina. Zevina hanya menggeleng. Darvin lalu kembali kekamar nya dan meraih sehelai kemeja nya lalu memakaikan nya pada Zevina.


Zevina tampak lemas setelah ia memuntah kan seluruh isi perutnya. Darvin tidak tega melihat wanita nya dan langsung menggendong wanita nya ke atas ranjang.


"Aku akan memanggilkan Dokter." Ucap Darvin. Namun tangan nya dihentikan oleh Zevina.


"Tidak perlu. Aku pasti hanya masuk angin saja." Ucap Zevina tersenyum dengan wajah pucat nya.


"Baiklah. Aku akan membuat makanan untuk mu." Ucap Darvin. Ia lalu meraih pakaian untuk ia kenakan. Setelah itu ia pun turun kedapur untuk membuat makanan untuk Zevina.


Sedangkan Zevina dikamar sedang berkutat dengan pikiran nya.


"Apa aku hamil?" tanya Zevina pada dirinya.


"Tapi bagaimana mungkin, sedangkan selama ini Darvin memasang kontrasepsi ditubuhnya." Ucap nya lagi.


Ya, selama menjalin hubungan dengan Zevina, Darvin memang memasang kontrasepsi ditubuhnya. Bukan tidak menginginkan keturunan, tapi Darvin merasa ia belum siap untuk berkomitmen lebih jauh. Ia belum siap menjadi seorang Ayah yang baik.


"Hah, aku pasti hanya masuk angin saja." Ucap Zevina. Ia kemudian memejamkan matanya.


Kenangan kenangan nya bersama Darvin mulai menari nari dipikiran nya. Dari awal pertemuan mereka hingga akhirnya menjalin hubungan. Pertama kali Mereka saling menyerahkan diri mereka hingga pertarungan panas mereka tadi malam membuat Zevina tersenyum sendiri.


"Aku sangat mencintai mu Darvin." Ucap Zevina masih memejamkan matanya dan tersenyum.


"Aku juga mencintai mu sayang." Jawab Darvin yang baru saja memasuki kamar nya dan mendengar perkataan Zevina.


"Kenapa kau menguping?" tanya Zevina sok kesal.


"Jika aku tidak menguping aku tidak akan bisa mendengar ungkapan cinta dari mu bukan?" Ucap Darvin tersenyum sambil menata makanan nya.


"Kau ini." Zevina menepuk ringan lengan Darvin. Membuat Darvin tertawa renyah.


"Aku mencintai mu sayang." Ucap Darvin kembali lalu mengecup bibir Zevina sekilas.


"Sekarang makanlah." Lanjut nya. Ia memutuskan untuk menyuapi Zevina. Zevina pun tidak menolak nya.


"Kau tidak makan?" tanya Zevina di sela sela kegiatan makan nya.


"Aku ingin memakan yang lain." Ucap Darvin melirik nakal dada polos Zevina dari balik kemeja yang ia kenakan.


"Ya ampun kau ini." Ucap Zevina mengacak gemas rambut Darvin.


"Apa kau tidak bosan kita melakukan nya hampir setiap hari dan tidak hanya sekali?" tanya Zevina penasaran. Karena dalam pemikiran Zevina, pria akan cepat bosan jika hanya dengan satu wanita.


"Tidak. Aku bahkan tidak pernah puas dengan mu sayang." Bisik Darvin ditelinga Zevina dan mulai menciumi leher nya. Makanan yang ia pegang ia letakkan kembali ke atas nakas. Tangannya mulai menjelajahi tubuh Zevina. Dan akhirnya pertempuran panas mereka kembali terjadi.


"Aku lelah sayang akhh, dan kita harus segera bekerja." Ucap Zevina disela sela kegiatan panas mereka sambil mendesah.


"Terima kasih sayang." Bisik Darvin ditelinga Zevina. Lalu ia bangun dan menuju ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathup. Zevina membulatkan mata nya dan berusaha mencerna pikiran nya. Ini pertama kalinya Darvin mengucapkan terima kasih kepadanya setelah aksi ranjang mereka.


"Ayo kita mandi." Dengan spontan Darvin menggendong tubuh Zevina dan meletakkan Zevina didalam bathup.


Setelah selesai mandi mereka pun segera bersiap untuk berangkat. Namun lagi lagi Zevina berlari kekamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Sayang apa kau yakin tidak ingin ke dokter?" tanya Darvin khawatir.


"Nanti saja aku pergi sendiri. Kau ada meeting penting hari ini." Ucap Zevina.


"Baiklah." Darvin menyetujui ide Zevina dan membantu Zevina untuk berjalan.


Ia memapah Zevina dengan hati hati menuruni setiap anak tangga menuju ke mobilnya. Setelah itu ia membuka pintu mobilnya dan mendudukan Zevina dengan hati hati. Lalu ia pun melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Setelah sampai di kantor mereka pun berjalan masuk seperti biasa. Zevina sudah lebih baik walau agak pucat.


"Sayang jam berapa kau akan pergi?" tanya Darvin saat sudah diruangan nya.


"Jam sebelas." Jawab Zevina singkat dan mendudukan dirinya dikursi kerja nya.


"Baiklah." Jawab Darvin singkat.


Mereka pun segera melakukan pekerjaan mereka masing masing. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas. Zevina pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit.


"Sayang aku pergi sebentar." Pamit Zevina lalu mengecup sekilas bibir Darvin. Darvin hanya mengangguk. Jika ia tidak punya meeting penting, sudah pasti ia akan memaksa ikut.


Zevina pergi dengan menaiki taxi. Sepanjang perjalanan perasaan nya tidak tenang.


"Apa yang akan aku lakukan jika aku benar benar hamil?" batin nya. Ia tampak memainkan jari nya yang saling bertautan.


"Atau ini memang keinginan Darvin?" tanya nya lagi.


Tidak lama akhirnya ia pun sampai dirumah sakit. Ia harus mengantri sebelum akhirnya giliran nya sampai. Ia masuk kedalam ruangan dokter dengan perasaan tidak tenang. Ia senang jika memang benar dirinya hamil, tapi ia juga ragu. Jika itu benar apa Darvin bisa menerima nya, atau ini memang rencana Darvin.


Zevina sangat tidak keberatan jika ia harus mengandung bayi dari pria yang ia cintai. Saat diruangan, sang dokter segera memeriksa nya dengan teliti berdasarkan keluhan yang Zevina katakan. Setelah selesai dokter itu pun melangkah dan duduk di kursi kerjanya disusul Zevina.


"Dokter, aku sakit apa?" tanya Zevina deg degan.


"Kau tidak sakit Nyonya Zevina. Selamat kau akan menjadi seorang Ibu." Ucap dokter tersebut tersenyum ramah. Zevina diam mematung tanpa berkata apapun.


Setelah mendapatkan resep dari dokter, ia pun segera keluar dari ruangan dokter itu. Perasaan nya sungguh tidak tenang. Bukan memikirkan kehamilan nya, tapi ia memikirkan Darvin. Ia tahu selama ini Darvin belum siap berkomitmen lebih jauh soal keturunan. Maka dari itu Darvin memasang kontrasepsi ditubuh nya. Tapi sekarang bagaiman ia bisa hamil?.


"Sayang, aku langsung pulang kerumah. Aku menunggu mu. Love you." Ia memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat lalu langsung pulang kerumah nya.


*******


Terima kasih kalian yang sudah membaca cerita ku.


Mohon maaf jika isis episode nya masih berantakan karena aku sedang merevisi nya dari cerita sebelum nya berjudul "Secret Admirer".


Tunggu terus kelanjutan nya yah