IF LOVE

IF LOVE
If Love 9



"Sayang aku merindukan mu." Ucap Darvin yang baru saja sampai di rumah nya. Ia memeluk erat pundak Zevina dari belakang. Zevina kini sedang berada duduk dimeja makan. Ia mengecup berkali kali puncak kepala Zevina.


Zevina hanya terdiam berkutat dengan pikiran nya. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan tentang kehamilan nya pada Darvin.


"Hei, kau kenapa?" tanya Darvin bingung melihat tingkah aneh kekasihnya.


"Tidak." Jawab Zevina singkat dan tersenyum kaku. Wajahnya tampak pucat.


"Sayang kau pucat." Ucap Darvin lalu merasakan suhu tubuh Zevina dengan menempelkan telapak tangan nya dikening Zevina.


"Tidak demam." Gumam nya.


"Ada apa sayang?" tanya Darvin sedikit khawatir. Zevina tidak menjawab dan malah menunduk.


"Ah, bagaimana hasil pemeriksaan mu di rumah sakit tadi?" tanya Darvin. Zevina semakin gugup.


"I, i'm pregnant Darv." Ucap Zevina terbata.


"Jangan bercanda Zev." Ucap Darvin. Hati nya mulai tidak tenang. Apa yang ia hindari selama ini sekarang terjadi. Zevina hanya mengangguk.


"Hahaha katakan benih pria mana?" Ia mulai mencengkeram dagu Zevina dengan kuat. Zevina mulai terisak. Inilah yang ia takutkan. Darvin tidak menerima kenyataan.


"Tidak Darv. Ini milik mu." Ucap Zevina menahan sakit dagunya.


"Hah, kau pikir aku akan percaya. Kau ingin menjebak ku. Kau tahu itu tidak akan berhasil wanita jalang." Darvin beteriak lalu ia menampar pipi Zevina dengan sangat kuat.


"Wanita murahan. Aku selama ini selalu setia dengan mu dan tidak menyentuh wanita manapun. Tapi ini balasan mu padaku. Kau dihamili pria lain dan ingin aku bertanggung jawab?" Ucap Darvin dengan suara menggelegar. Ia kembali menampar pipi Zevina.


"Aku tidak bohong Darv. Ini anak mu." Ucap Zevina menangis.


"Percuma apa yang kau katakan. Aku tidak akan mempercayai apalagi bertanggung jawab untuk benih sialan itu." Ujar Darvin lalu ia mendorong Zevina dengan sangat kuat hingga perut Zevina menabrak sisi meja.


Ia langsung pergi meninggalkan Zevina tanpa melihat kondisi Zevina. Zevina jatuh tersungkur. Darah terlihat sudah mengalir keluar dari celah pahanya. Ia menangis menahan sakit nya.


"Astaga Nona, apa yang terjadi?" tanya salah satu pelayan yang mendekat.


"Tolong aku." Pinta Zevina.


Dengan segera pelayan itu menghubungi rumah sakit dan meminta ambulance untuk datang. Tak lama menunggu ambulance pun sampai dirumah nya. Para perawat membawa tubuh lemah Zevina menggunakan brankar yang dibawa mereka. Pelayan tadi juga ikut mendampingi Zevina.


"Bertahan lah nona. Kau akan baik baik saja." Ucap pelayan nya menggenggam erat tangan Zevina.


"Bayi ku ... " Ucap Zevina menangis sambil memegang perutnya yang sangat sakit.


Tidak lama akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Para perawat tadi segera mendorong brankar Zevina menuju ruang UGD. Segera dokter pun menangani nya. Setelah selesai Zevina pun dipindahkan ke ruang perawatan. Zevina masih tertidur efek dari obat bius yang disuntikan kepada nya. Pelayan yang tadi ikut bersamanya dengan setia menemani nya.


Pagi telah datang. Perlahan Zevina membuka matanya. Zevina tidak melihat siapa pun disisi nya. Pelayan nya sedang membeli makanan untuk nya.


"Nona Zevina, kau sudah bangun?" tanya dokter yang bertugas merawat nya.


"Dokter, bagaimana bayi ku? Dia baik baik saja kan dokter?" tanya Zevina khawatir. Dokter tersebut menghela nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan Zevina.


"Maaf Nona. Tapi kami terpaksa harus mengeluarkan janin anda. Karena janin mu sudah tidak bernyawa saat anda sedang dilarikan kerumah sakit." Ucap Dokter tersebut dengan penyesalan.


"Baby ... " Ucap Zevina memeluk perutnya.


"Maafkan Mommy sayang. Maaf tidak bisa melindungi mu." Ucap nya dan menangis sejadi jadi nya.


"Jaga diri mu Nona Zevina. Jangan terlalu stres." Ujar sang Dokter lalu keluar meninggalkan Zevina.


Zevina tidak berhenti menangis. Ia mengeluarkan semua rasa sakit nya. Pelayan yang baru kembali terkejut melihat kondisi Zevina. Ia langsung mendekati Zevina dan memeluknya. Memberikan kekuatan kepadanya.


"Nona yang kuat. Jangan lemah Nona." Ucap pelayan itu. Zevina tidak menjawab dan terus menangis.


"Bayi ku ... " Hanya itu yang terus Zevina ucap kan dari bibir nya. Pelayan nya dengan setia memeluk nya, memberi nya kekuatan. Hingga suara Zevina semakin melemah dan akhirnya terlelap.


Setelah ia terlelap, pelayan nya membaringkan tubuhnya dengan berhati hati.


"Kau terlalu baik untuk terus disakiti Nona. Lepaskan lah semua dan cari kebahagiaan mu yang sesungguhnya." Gumam pelayan nya.


Tiga hari telah berlalu. Kondisi Zevina mulai membaik walau masih sedikit lemah. Ia kini tengah bersiap untuk pulang dibantu pelayan nya yang senantiasa menemani nya.


"Apa Darv ada dirumah?" tanya nya tiba tiba.


"Tidak Nona. Sudah tiga hari ini Tuan tidak pulang." Ucap pelayan nya.


"Hem, baiklah." Jawab nya singkat.


Setelah selesai mereka pun segera meninggalkan rumah sakit. Zevina berjalan perlahan karena tubuhnya masih sedikit lemah. Mereka pulang menggunakan taxi. Tidak lama akhirnya mereka pun sampai dirumah.


Zevina melangkah dengan perlahan memasuki rumah itu. Ia memperhatikan setiap yang ada di rumah itu seolah sedang merekam semuanya kedalam ingatan nya. Air mata nya mulai menetes. Ia berjalan dan terus berjalan hingga sampai ke kamar nya.


Setelah dikamar ia duduk di tepi ranjang nya, mengingat setiap hal yang ia lalui bersama Darvin. Namun dengan cepat ia menghapus air mata nya. Ia kemudian meraih koper nya dan mulai mengemas pakaian dan barang barang yang menurut nya penting kedalam koper nya.


Setelah selesai ia memutuskan untuk menulis sepucuk surat untuk Darvin. Setelah selesai ia pun bergegas untuk pergi. Saat dibawah ia berpapasan dengan pelayan yang sudah merawat nya selama ia sakit.


"Terima kasih Ana. Kau sudah merawat ku dan menemani ku selama aku sakit." Ucap Zevina memeluk pelayan nya yang bernama Ana itu.


"Sama sama Nona. Jangan bersedih lagi. Pergi lah sejauh mungkin. Lepaskan penderitaan mu dan raih kebahagiaan mu Nona." Ucap Ana membalas pelukan Zevina dan mengusap punggung nya.


"Jaga Darvin. Aku pergi." Zevina kemudian melepas pelukan nya dan melangkah pergi.


"Bahkan disaat kau sudah terluka seperti ini pun kau masih peduli pada Tuan Darvin." Batin Ana lalu beranjak pergi untuk mengerjakan pekerjaan nya.


"Aku pergi Darv ... "


Disisi lain terlihat Darvin sedang berada di rumah sakit kepercayaan nya. Tempat ia memasang dan mengganti alat kontrasepsi nya jika sudah kadaluarsa.


"Kau percaya jika aku bilang kontrasepsi yang kau berikan tidak bekerja?" tanya Darvin pada Andrew, dokter kepercayaan nya.


"Tidak mungkin. Selama ini aku selalu memasangkan yang terbaik untuk mu." Jawab Andrew sambil menggeleng.


"Maka benar dugaan ku. Dia hamil dengan pria lain." Ucap Darvin tersenyum sinis.


"Oh, astaga." Andrew menepuk jidat nya saat ia menyadari sesuatu. Dengan segera ia langsung memeriksa kalender.


"Sial." Gerutu nya.


"Ada apa?" tanya Darvin yang juga mulai tidak tenang saat melihat Andrew memeriksa kalender


"Waktu jatuh tempo kontrasepsi mu sudah melebihi batas waktu seharusnya. Dua bulan Vin, kadaluarsa dua bulan." Ucap Andrew.


Seketika Darvin langsung berlari keluar dari rumah sakit, ia mengemudi kan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Penyesalan kini menghantam nya.


"Zevina, baby ... " Batin nya. Ia bahkan memukul setir mobilnya berkali kali.


"Tunggu aku Zevina. Tunggu aku ... "


*****


Mohon maaf jika readers masih bingung dengan urutan cerita dan episode nya. Karena cerita sedang aku revisi.


Terima kasih buat yang udah baca. Dukungan kalian sangat berarti buat aku.


Sayang kalian.