IF LOVE

IF LOVE
If Love 47



"Tuan, kau tidak apa apa?" Seorang wanita bertanya pada pria yang sedang berbaring dengan posisi badan telungkup.


Tidak ada jawaban. Ia mencoba lebih mendekati pria itu, lalu ia meraih sebuah ranting kayu tak jauh dari nya. Perlahan ia membalikkan tubuh pria itu menggunakan ranting kayu tersebut.


"Oh my." Wanita itu terkejut saat mendapati tubuh pria itu penuh dengan luka bakar terutama pada wajahnya yang terbakar hampir seluruh nya.


Dia berusaha memberanikan diri untuk mendekat lagi dan menaruh jari telunjuk nya di atas bibir pria itu untuk merasakan deru nafas nya.


"Masih bernafas, walau lemah." Gumam nya.


Secepat mungkin ia meraih ponselnya dan menghubungi rumah sakit terdekat untuk dikirimkan ambulance.


Menunggu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya ambulance pun sampai.


"Bagaimana pria ini bisa disini dan seperti ini?" Salah satu perawat bertanya pada wanita itu.


"Aku tidak tahu. Tadi aku hanya ingin berjalan disekitar sungai dan menenangkan pikiran ku, tapi tiba tiba aku mendapati asa seseorang tergeletak di sini." Ucap wanita tersebut menjelaskan.


"Baiklah. Berdasarkan penuturan mu, tadi kami juga sudah menghubungi polisi dan mungkin akan segera sampai. Sekarang kami harus membawa nya terlebih dulu untuk menyelamatkan nyawanya. Kau bisa menyusul nanti bersama pihak kepolisian." Ucap perawat pria itu, lalu segera pergi dengan ambulance yang membawa tubuh terluka pria tadi.


Cukup lama wanita itu menunggu hingga polisi sampai.


"Nona, siapa nama mu?" Tanya salah satu polisi mendekati wanita tadi.


"Liz. Namaku Liz Cornor." Ucap wanita tersebut yang ternyata adalah Liz.


"Bagaimana kau bisa sampai menemukan pria tadi?" Polisi itu kembali bertanya.


Liz pun menjelaskan sesuai yang ia alami dan ketahui.


"Baiklah. Kau bisa ikut kami ke rumah sakit dan untuk sementara bertanggung jawab pada nya hingga dia siuman?" Polisi meminta kepastian Liz , karena tidak ditemukan barang lain disekitar pria tadi.


"Baik sir. Aku bisa." Liz menyanggupi.


Akhirnya ia pun mengikuti para polisi itu kerumah sakit.


#####


"Jack kau dan Raina dimana?" Zevina bertanya lewat panggilan telepon.


Jack dan Raina tadi memaksa nya untuk keluar dan makan siang bersama diluar. Tapi sudah hampir satu jam menunggu, Ayah dan anak itu masih belum tampak batang hidungnya.


"Kami sedang terjebak macet Zev. Aku mohon bersabar sebentar saja." Jack menjelaskan keadaan yang ia alami saat ini.


"Baiklah, aku akan menunggu." Zevina pasrah dan kembali menunggu kedatangan mereka.


"Hai Zev." Seseorang menepuk pundak Zevina dari belakang.


"Roy?" Zevina kaget ternyata pelaku nya adalah Roy.


"Kebetulan sekali kau ada disini. Boleh aku gabung?" Roy bertanya tanpa malu.


"Terserah saja." Zevina menjawab singkat.


Roy pun akhirnya duduk di depan Zevina.


"Kau sedang apa disini?" Roy bertanya penasaran.


"Aku sedang menunggu teman ku." Zevina kembali menjawab seadanya.


"Oh." Ucap Roy singkat.


Hening sejenak. Roy sedang berpikir cara untuk mendapatkan belas kasihan dari Zevina.


"Kau tahu Zev, sejak aku bangkrut seluruh teman teman ku menjauhi ku. Bahkan istri dan anak ku pergi meninggalkan ku." Ucap Roy dibuat sesedih mungkin.


Dan berhasil. Zevina tersentuh karena dia memang orang yang berhati lembut.


"Kau harus lebih bersabar Roy. Hidup memang kadang seperti itu. Saat kau sedang berada di puncak kebahagiaan, kau bisa jatuh seketika itu juga." Ucap Zevina menyindir diri nya sendiri dan reflek dia menggenggam tangan Roy yang sedang berada di atas meja seolah untuk menyemangati.


Roy tertawa penuh kemenangan didalam hati nya.


"Aku tahu Zev. Sekarang aku juga berusaha bangkit lagi." Ucap Roy kembali dan kini tangan satunya memegang tangan Zevina yang berada di atas tangannya yang tadi.


Dengan cepat Zevina melepaskan tangannya kembali.


"Maaf aku tidak sengaja." Ucap Zevina.


"Tidak, tidak apa. Aku yang salah." Roy berucap pura pura merasa bersalah.


Kembali hening.


Roy setia menatap wajah Zevina yang selalu cantik dimatanya. Ada rasa iba namun hasrat nya untuk memiliki Zevina lebih besar.


Zevina sebenernya tidak nyaman dipandang terus seperti itu, tapi malas menegur.


"Teman mu lama sekali Zev." Roy kembali memecah keheningan.


"Entahlah, aku juga bingung." Ucap Zevina.


Ia kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Jack kembali.


"Hei, kau dimana?" Zevina bertanya kesal.


"Ya sudah. Lain kali saja kita makan bersama." Zevina menjawab kesal, lalu menutup panggilan nya.


Zevina kemudian memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Roy segera mengejarnya, tidak ingin melewatkan kesempatan bagus.


"Hei Zev, bagaimana jika kau ikut aku ke satu tempat?" Roy menawarkan pada Zevina.


"Tidak Roy." Zevina menolak lembut.


"Aku janji tidak akan macam macam Zev." Roy berucap terdengar tulus.


Zevina ragu, ingin pulang tapi rasanya bosan sendirian di apartemen. Tidak ingin pulang tapi dia tidak tahu harus kemana.


"Baiklah. Tapi berjanji kau tidak akan macam macam." Ucap Zevina serius.


"Aku janji." Roy tersenyum tulus.


Zevina pun akhirnya ikut dengan Roy walau ada rasa takut dihati nya.


Setelah didalam mobil, Roy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka menelusuri jalan yang tidak tampak ada rumah disekitar nya, hanya pepohonan menjulang tinggi disisi kiri dan kanan jalanan.


Zevina menatap curiga dan takut pada Roy.


"Tenang Zev. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan macam macam. Aku pasti menepati janji ku." Ucap Roy yang mengerti akan tatapan Zevina.


Tidak lama mereka pun sampai di depan sebuah jembatan kayu yang tidak bisa dilewati mobil. Sehingga mereka harus berjalan kaki.


"Hati hati." Roy meraih tangan Zevina saat Zevina hampir jatuh karena terpeleset.


"Terima kasih." Ucap Zevina. Mau tidak mau ia mengijinkan Roy menggenggam tangan nya karena takut jatuh.


Mereka melewati jalan yang tidak rata, dari jalan jembatan hingga jalan dengan bebatuan besar dan licin.


Tak lama akhirnya mereka pun sampai.


"Wow." Zevina takjub akan keindahan padang bunga didepan mata nya.


"Indah bukan?" Roy kemudian memeluk Zevina dari belakang.


Zevina tersentak karena pelukan Roy yang tiba tiba.


"Roy ... " Zevina berusaha melepaskan diri.


"Sebentar saja Zev." Pinta Roy. Jujur saja, Roy merasa nyaman saat memeluk Zevina. Jantung nya berdegup kencang, hasrat jahat nya untuk memiliki Zevina seakan sirna seketika.


"Sangat nyaman Zev." Ucap Roy lagi dan menghirup dalam aroma wangi pada leher Zevina.


Jujur, entah kenapa ia juga merasa nyaman saat Roy memeluk nya, ia seperti merasa Darvin yang sedang memeluk nya.


Zevina memejamkan matanya sejenak, merindukan Darvin dan mengenang saat Darvin melamar nya.


"Darv, aku merindukan mu." Batin Zevina.


Roy kemudian melepaskan pelukan nya dari belakang dan mendekap Zevina dari depan.


Zevina menitikkan air mata karena merindukan Darvin.


"Maafkan aku Zev." Hanya itu yang terucap dari bibir Roy dan ia memeluk Zevina dengan erat seakan takut kehilangan Zevina.


Cukup lama mereka dengan posisi seperti itu. Hingga langit mulai gelap bukan karena malam melainkan mendung.


"Roy, hari sudah gelap." Ucap Zevina.


Roy segera melepaskan pelukan nya.


"Kau benar. Kita harus segera pulang." Ucap Roy.


Ia kemudian menggenggam tangan Zevina, dan membawa Zevina untuk berlari keluar dari tempat itu. Belum sempat mencapai mobilnya, hujan sudah turun terlebih dulu, tapi mereka masih tetap melangkah hingga sampai ke mobil.


Roy membukakan pintu untuk Zevina dan menuntun nya masuk. Setelah itu, ia pun masuk ke bagian kemudi.


"Pakai ini." Ucap Roy menyerahkan mantel nya yang tersimpan dibangku belakang mobilnya.


"Terima kasih." Zevina menerima mantel itu dan memakai nya asal.


Segera Roy pun melajukan mobilnya pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan hening, bahkan Zevina tertidur.


"Kau cantik Zev." Batin Roy sambil melirik Zevina yang terlelap. Ia tersenyum melihat Zevina yang tidak takut pada nya lagi.


"Apa hari ini hasrat untuk memiliki mu berubah menjadi mencintai mu?" Batin Roy kembali seolah bertanya pada Zevina.


- Imajinasi Visual Liz Cornor



*******


Yuk yuk jangan pelit komentar dan like yuk.


Semakin rajin kalian tinggalin komentar dan like, semakin semangat juga author untuk up terus.


Selamat berbuka puasa ya.