
Saat ini Gia sedang berada di dalam kamar Zea.Gia suka bermain di panti tempat tinggal Zea,karena di sana Gia tidak kesepian dan selalu terhibur oleh anak-anak yang ada di panti.
"Gue buatin lo minum dulu." Ujar Zea.
"Buatin susu hangat aja Ze." Ucap Gia.Memang setiap bermain ke panti Zea,Gia sangat suka susu buatan Zea.
Zea mengiyakan permintaan Gia dan berajak pergi ke dapur.Sementara Gia yang kepo dengan isi kamar Zea,dia memperhatikan barang-barang yang ada di kamar Zea satu persatu sampai akhirnya pandangan mata Gia tertuju pada salah satu buku yang dia pikir itu adalah diary Zea.
Saat ingin menyentuh buku itu tiba-tiba Zea datang dan langsung merampas bukunya membuat Gia terlonjak kaget.
"Astaga Zea lo bikin jantung gue hampir mau lepas tau gak." Seru Gia mengusap dadanya.
"Sory Gi." Ujar Zea,kemudian Zea berniat memindahkan buku itu tetapi ada sesuatu yang jatuh dari dalam buku itu tapi tidak disadari oleh Zea.Gia mengambilnya sepertinya itu foto Zea waktu kecil.
Kenapa gue sepertinya pernah melihat foto ini ya,tapi dimana.Batin Gia mencoba mengingat-ingat soal foto itu.
"Ze,ini foto kamu waktu kecil?." Tanya Gia.
"Hah iya Gi,kenapa jelek ya." Seru Zea.
"Enggak,bukannya gitu.Gue merasa pernah lihat foto ini tapi gue lupa." Ucap Gia.Sampai tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
"Ya ampun bang Giooo." Seru Gia mebuat Zea mengernyit heran.
"Gue pamit pergi dulu Ze,gue ada urusan.Bye Zea sayang." Ujar Gia setengah berteriak sambil meninggalkan kamar Zea.
"Eh Gia tunggu bentar,susunya belum lo minum Gi." Teriak Zea,tapi Gia tidak peduli dengan teriakan Zea.
"Next time Ze." Jawab Gia sampai benar-benar hilang dari pandangan Zea.
"Gio,kenapa dengan Gio." Seru Zea lirih.
Sementara Gia.
Saat ini Gia sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh,dia ingin segera memberitahukan kabar behagia ini kepada abangnya.Gia yakin kalau foto yang dia lihat tadi di kamar Gia sama persis dengan foto yang selalu Gio tunjukkan pada Gia.
Saat melewati basecamp geng Devan,Gia masih saja mengebut tanpa memperdulikan keselamatannya.Tanpa dia sadari Devan melihat kelakuan Gia itu.
"Wah gila tuh orang nyetir mobilnya bar-bar banget." Ujar salah satu teman Devan.
"Semoga saja dia selamat." Sambung teman Devan yang lain sambil melihat mobil Gia yang terus menjauh. Sementara Devan merasa emosi melihat itu.Devan beranjak dari tempat duduknya dan mengendarai moge nya berniat menyusul Gia yang seperti orang kesetanan menyetir mobil.
"Woy Devan lo mau kemana." Tanya teman Devan.
"Wait,gue ada urusan." Jawab Devan dan langsung menancapkan gas mogenya.
Sampai di persimpangan Devan sengaja mendahului mobil Gia,dia berhenti agak jauh dari depan karena tidak ingin membahayakan nyawa Gia.
Sementara Gia yang melihat pengendara motor itu mendecak kesal karena telah mengganggu perjalanannya.
"Apaansih nih orang gak tau apa orang lagi buru-buru." Ujar Gia kesal,mau tidak mau Gia turun dari mobilnya.Setelah pengendara motor itu membuka helm full face nya barulah Gia menyadari kalau itu Devan.
Mati gue.Umpat Gia dalam hati.
Setelah Devan mendekat Gia cengengesan karena dia tau pasti habis ini dia akan dimarahi oleh Devan.
"Lo mau mati hah.Gak sayang nyawa lo." Ujar Devan dingin.
"Sory,gue lagi buru-buru ada urusan penting ." Jawab Gia.
"Urusan penting apa sampe lo ngebahayain diri lo sendiri."
"Tapi lo mikir gak,dengan lo nyetir seperti tadi seperti orang kesurupan itu bisa membahayakan nyawa lo Giana. Sepenting apapun urusan lo tetap utamain keselamatan nyawa lo sendiri." Bentak Devan membuat mata Gia berkaca-kaca.
Gia tidak berani menjawab pertanyaan Devan,karena sekarang baru pertama kalinya Gia melihat Devan semarah itu sampai-sampai membentak Gia.
Pecah sudah tangis Gia yang dia tahan dari tadi,membuat Devan merasa bersalah karena sudah membentak Gia.
"Astaga Gia,lo selalu bikin gue kalang kabut seperti orang gil*." Ujar Devan dan menarik Gia ke dalam pelukannya.
"Gue cuma lagi seneng aja Dev,gue tadi gak mikir apa-apa selain ingin cepet sampe ke rumah." Seru Gia terbata-bata karena menangis.
"Sekarang lo gak usah nangis lagi,kita duduk dulu." Ujar Devan dan diangguki ole Gia.
Setelah melihat Gia sudah tidak menangis lagi,Devan mencoba bertanya kepada Gia.
"Sekarang lo cerita sama gue,kenapa lo sampe ngebut kek tadi." Ujar Devan.
"Gue cuma bahagia karena gue tau sekarang siapa sebenarnya gadis kecil yang selalu bang Gio cariin selama ini." Seru Gia.
"Memang dia siapa?." Tanya Devan.
"Dia Zea,lo tau Dev gue bahagia banget setelah tau kenyataan ini.Gue yakin bang Gio juga pasti senang."
"Iya tapi karena kesenangan lo,lo hampir membahayakan nyawa lo sendiri."
"Dan ngebuat ketan gue ini khawatir,itu yang paling penting." Sambung Gia sengaja menggoda Devan.
"Percaya diri banget lo jadi orang." Seru Devan sinis.
"Lo bisa gak sih Dev,kalo udah nerbangin gue tinggi-tinggi jangan langsung bikin gue jatuh waktu itu juga. Sakit Dev sakit." Seru Gia dengan wajah kesalnya.
"Kita tidak perlu sebuah ucapan untuk mengikat sebuah hubungan Gi." Ujar Devan.
"Maksud lo.?"
"Apa lo gak sadar selama ini perhatian gue ke lo seperti apa.Kehawatiran gue saat lo lagi dalam bahaya." Ujar Devan.Tetapi tiba-tiba otak Gia sedang dalam mode lemotnya jadi dia tidak mengerti apa yang Devan katakan.Gia menggeleng pelann merespon Devan.
Membuat Devan sangat gemas dengannya,langsung saja Devan mencubit pipi Gia dengan gemas membuat Gia kesal karena pipinya memerah akibat ulah Devan.
"Gue gak bisa ikat lo sekarang dengan pacaran,karena gue gak mau kita pacaran terus putus.Yang gue mau lo mulai sekarang selalu ada disamping gue,dan lo harus mau gue jadi pelindung buat lo.Setelah lulus nanti gue langsung ikat lo sebagai tunangan dan calon istri gue,kalau untuk sekarang lebih baik kita saling menjaga hati satu sama lain gue gak mau lo dalam bahaya sebisa mungkin gue akan jaga lo dengan nyawa gue." Jelas Devan sambil memegang tangan Gia.Gia tersentuh dengan kata-kata Devan barusan.
"Sweet banget sih.Gue emang gak mau pacaran dulu karena gue takut kata putus.Iya gue mau lo jagain gue,gue janji akan selalu ada di samping lo,dan lo juga harus janji lo gak akan pernah ninggalin gue sampai gue bener-bener yakin mau labuhin hati gue ke hati lo." Ujar Gia menatap mata Devan.
"Tapi gue takut Dev,setiap orang perasaannya pasti akan berubah suatu saat." Sambung Gia.
"Liat mata gue,lo gak perlu takutin hal-hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi.Saat gue merasakan nyaman sama lo detik itu juga gue percayain hati gue sama lo." Jawab Devan. Gia langsung memeluk Devan dengan erat,entah kenapa dia bahagia dengan ucapan Gia tadi.
"Mending sekarang gue anterin lo pulang ini udah malem,gak baik perempuan pulang larut malam. Gue ikutin lo dari belakang tapi ingat jangan ngebut seperti tadi lagi " Ujar Devan menegaskan ucapannya yang terakhir.
"Siap captain." Seru Gia,secara reflek Gia mencium pipi Devan dan berlari masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar gigi kecil." Seru Devan tersenyum.
Ya ampun kalau lebih lama lagi berada di deket Devan bisa-bisa jantung gue keluar dari tempatnya.Batin Gia tersenyum mengingat kelakuan Devan tadi.
.
.
.