High School Love Story

High School Love Story
Bab 39.Dijodohkan?



Gema masuk kedalam ruangan kerja Papanya sesuai interuksi Irwan saat sore tadi. Ia tak tahu dalam rangka apa Papanya menyuruhnya untuk hadir keruang kerjanya, yang jelas Gema hanya melaksanakan apa yang diperintahkan.


Tok..Tok..Tok..


"Masuk.." Gema membuka daun pintu dan masuk begitu mendengar izin dari balik pintu.


"Ada perlu apa menyuruhku bertemu disini? Apa yang ingin Papa bicarakan?" Gema mengambil posisi. Duduk disalah satu kursi sofa yang tersedia di ruangan kerja Irwan, ruangan ini jadi terlihat kurang terurus akibat keseringan ditinggal oleh Tuannya pergi melakukan perjalanan bisnis.


"Baiklah, Papa akan langsung keintinya. Papa, akan menjodohkanmu dengan anak tekan bisnis Papa."


Brakkk!


Gema menendang meja berbahan kaca itu dengan kuat sehingga tergeser. Emosinya tiba-tiba tersulut mendengar penyampaian sang Papa yang tidak rasional. Bagaimana bisa seorang anak yang masih dalam usia remaja sepertinya akan dijodohkan? Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Terus--Nara? Dirinya dan Nara baru jadian, dan sekarang? Papanya ingin menghancurkan hubungan mereka dengan perjodohan yang tak masuk akal ini?!


"Kemana saja kau selama ini?! Bahkan disaat anak sedang lagi sekarat gak pernah kelihatan batang hidungmu, lalu sekarang? Datang-datang langsung menjodohkan anak sendiri dengan perempuan yang gak dikenal? Otak Papa udah gak berfungsi atau bagaimana?! Terus juga, Gema masih sekolah! Bagaimana bisa menikah?!"


"Perempuan yang gak dikenal?" Irwan membeo. " Dia, putri semata wayang dari Kevin. Setahu Papa, dia satu sekolah denganmu." Imbuhnya berhasil menciptakan kerutan dalam didahi Gema. "Karla? Papa maksud Karla?! Mantan Gema yang murahan itu?!" Meskipun hanya beberapa waktu, Gema pernah kenal dengan Ayah dan Ibu Karla karena ia sering berkunjung kerumah Karla, kedua orang tua Karla jadi akrab malahan dengannya.


"Murahan apa yang kau maksud, Gema? Putri mereka anak yang baik-baik. Papa sudah pernah bertemu dengannya. Dan dia gadis yang cantik dan ramah."


Gema berdecih sinis mendengar ucapan Irwan. "Anak yang baik-baik? Cantik dan ramah?! Papa percaya dengan sampulnya?! Gema yang paling kenal dengan dia karena Gema pernah menjalin hubungan dengannya! Dia bukan perempuan yang baik buat Gema!" Oh ya ampun, Gema ingin tertawa murka sekarang.


Apakah ia bisa membeberkan aib mantannya disini?! Sebaiknya jangan, Gema tak sejahat itu. Karla memang selingkuh, tapi Gema rasa sudah tak mempermasalahkannya, lagi pula mereka sudah cukup lama, putus hubungan dan Gema sudah lama pula move on darinya.


Irwan meletakkan berkas yang ia pegang ke atas meja dengan gerakan kasar. Gema membalas tatapan tajam yang ia hunuskan. "Kau tidak ada hak menentang keinginan Papa! Ini bukan hanya perkara kalian. Tapi bisnis Papa! Kevin salah satu partner yang bekerja sama dengan perusahaan Papa. Jadi Papa harap, kau tidak mengecewakan Papa. Papa akan mendapat keuntungan lebih besar yang sangat disayangkan kalau dilewatkan begitu saja."


"Bisnis, bisnis, bisnis dan bisnis terus! Apa gak ada dipikiran Papa selain bisnis?! Pekerjaan lebih penting dibandingkan kebahagiaan anak sendiri? Iya?!"


Membuang napas cukup berat, Irwan lantas kembali bertutur. "Ini demi kebaikan kau juga Gema.. kebaikan keluarga kita..Reza dan Hanum.. kau pikir aku bekerja keras demi siapa? Demi kalian. Sekarang Papa tanya, kalau Papa gak bekerja, kalian akan makan apa?"


"Makan pasir!" Sarkas Gema masih dalam keadaan amarah yang menguasai. "Papa pikir kebahagiaan hanya berpusat pada uang?! Enggak Pah! Papa boleh kerja, boleh melakukan perjalanan bisnis bahkan sampai kenegeri cina! Tapi, sedikit saja, bagi waktu luangmu pada keluarga Pa.. kami juga butuh Papa.. kapan Papa akan berubah? Dari sebelum almarhumah Ibu meninggal, Papa gak pernah berubah! Selalu seperti ini, lebih mementingkan pekerjaan dari pada kebahagiaan keluarga sendiri! Apakah Papa ingin kehilangan lagi?!"


Irwan menggeleng pelan. "Papa gak akan pernah berubah, karena Papa gak salah. Keputusan Papa sudah bulat, kau tetap akan Papa jodohkan dengan pilihan Papa."


"Tapi, Gema sudah punya pacar Pah.."


"Nara?"


"Tanpa Gema jawab, Papa sudah tahu apa jawabannya."


"Lalu Papa kira, dengan Gema gak ada hubungan dengan Nara, bisa membuat perasaan Gema hilang?! Gak akan Pah.. sekalipun hubungan kami berakhir, perasaan Gema gak akan berubah.."


"Perasaanmu akan berubah jika menerima perjodohan itu. Papa yakin, kau akan mencintainya seiring waktu berjalan dengan kalian menghabiskan waktu bersama"


Gema menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dengan kedua tangan terkepal. Sebelum akhirnya ia memilih bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu, dari pada ia terus-menerus berdebat dengan Papanya yang ada hanya membuat dirinya naik pitam, lebih baik ia meninggalkan ruangan ini. "Terserah!"


BRAKKK!!


Bunyi daun pintu dibanting kuat oleh Gema terdengar nyaring memenuhi ruangan, Irwan memijat keningnya merasa frustasi sendiri dalam meyakinkan Gema. Sepertinya ini adalah hal yang sulit. Gema adalah anak yang sangat keras kepala.


Gema terkejut mendapati Nara berdiri didepan pintu. Apakah ia mendengar percakapan dirinya dan Papanya? "N-nara? Sejak kapan kamu disitu?"


*****


"Papi!!" Karla menerjang Kevin yang tidak lain adalah Papi Karla sendiri dengan pelukan. Beliau baru pulang dari kantor dan langsung disambut dengan pelukan sang Putri tunggal. Disamping Papinya ada Windri--Mami dari Karla.


"Ada apa hmm?"


"Papi sama Mami makin cakep aja hehehe.."


"Tumben muji, ada udang dibalik batu nih pasti.." timpal Windri. Setahunya, Putrinya ini akan menyanjung-nyanjung mereka pas ada maunya saja.


"Mami tahu aja.." Karla menyengir memamerkan gigi putihnya yang tertata rapi lalu mendongak agar menatap Papinya. "Papi, kalo Karla punya keinginan, Papi bakal kabulin?"


"Yup. Tapi sebelum itu, kita masuk dulu. Gak bagus bicara diambang pintu kaya gini. Kita bicarakan didalem perihal keinginan Putri kesayangan Papi ini.." Kevin menoel hidung mancung Karla. Mereka akhirnya masuk kedalam rumah agar lebih nyaman berbincang-bincang.


Kevin menundukkan dirinya disofa, sambil melonggarkan dasi yang ia kenakan, ia menatap kedua perempuan tercintanya yang sedang duduk diseberangnya, Karla sedang memeluk lengan Windra sambil bermanja-manja dengannya.


"Apa keinginanmu Karla? Katakan saja. Selagi Papi mampu mengabulkan, akan Papi wujudkan demi kebahagiaanmu."


"Humm? Tapi Papi sama Mami, janji harus mewujudkannya."


Kevin dan Windri saling bersitatap satu sama lain mendengar omongan Karla, mereka menjadi penasaran, Windri lantas mengusap-ngusap sayang kepala Putrinya. "Apa sih yang enggak demi anak Mami dan Papi..? Katakan saja, Mami dan Papi akan berusaha mewujudkan keinginanmu."


"Hmm--" Karla menatap Mami dan Papinya secara bergantian, terus terang saja, ada sedikit keraguan, karena keinginannya ini bukanlah hal yang patut dijadikan mainan. "Karla pengen menikah dengan Gema Pih, Mih. Dengan kekuasaan Papi apapun pasti bisa dilakukan, termasuk Karla pengen dijodohin dengan Gema.. bujuk Papa Gema untuk menjodohkan kami berdua.."


*****