High School Love Story

High School Love Story
S2#24



Hari ini setelah camping satu minggu yang lalu kegitan belajar mengajar sudah dimulai seperti biasanya. Mereka disibukkan dengan materi ujian kenaikan kelas.


Entah kenapa hari ini mood Gia kurang baik.Sampai-sampai keluarganya terkena amarah Gia.


"Aduh Mommy,jam tangan Gia hadiah dari Daddy dimana." Teriak Gia frustasi karena tidak menemukan apa yang dia cari.


"Mom taruh di laci meja belajar kamu sayang." Seru Dea dari arah dapur.


"Kenapa gak kasih tau Gia sih Mom." Sungut Gia kesal,membuat Dea heran dengan sikap anaknya itu.


Saat ingin kembali ke kamar,Gia berpapasan dengan Gio dan juga Gavin.


"Kenapa muka anak Daddy pagi-pagi udah cemberut gitu." Ujar Gavin menahan tawanya karena muka Gia yang lucu itu.


"Udah seperti bebek yang mau beranak." Sambung Gio tertawa.


Gia yang sedang berada dalam mode mood tidak baik menjadi kesal karena ditertwai Daddy dan abangnya.


"Ah kalian berdua sama kayak Mom sama-sama ngeselin." Ujar Gia berlalu masuk ke dalam kamar.


"Lah marah." Seru Gio menggelengkan kepalanya.


Setelah berhasil menemukan jam tangannya Gia segera bersiap berangkat sekolah tidak lupa mengajak Rheina untuk pergi bersama.


"Rhein lo mau ikut gue atau mau dianter supir." Tanya Gia di ruang makan.


"Ikut lo aja." Ujar Rheina beranjak dari kursinya mengambil tas.


"Sayang kamu gak mau di anter supir?." Tanya Dea.


"No Mom,Gia mau bawa mobil sendiri."


"Giana kamu gak sarapan." Tanya Gavin.


"Sarapannya di sekolah aja Dad." Seru Gia,setelah menyalami mereka semua Gia berlalu pergi.


Di dalam mobil.


"Gue mau tanya sesuatu boleh gak Gi." Ujar Rheina.


"Tanya aja Rhein."


"Tipe pacarnya bang Gio seperti apa?."


"Lah kenapa tiba-tiba nanya tipe pacarnya bang Gio."


"Ya cuma pengen tau aja."


"Gue juga gak tau tapi yang pasti bisa bikin bang Gio bahagia."


"Gue boleh jujur Gi.?"


"Silahkan Rhein."


"Gue suka sama bang Gio,dari awal gue dateng ke indonesia dan ketemu sama bang Gio gue udah jatub cinta Giaa." Jelas Rheina,membuat Gia kaget mendengar kejujuran Rheina. Tapi sebisa mungkin dia menormalkan ekspresinya.


"Tapi kita saudara spupu Rhein."


"Gue tau,lagian banyak kok diluar sana menikah meskipun saudara spupu.Asalkan bukan saudara kandung."


"Iya gue ngerti Rhein,tapi kan masih banyak laki-laki lain selain bang Gio."


"Terus kenapa kalau bang Gio? lo gak suka."


"Astaga Rheina,bukannya gue gak suka tapi... Ah sudahlah."


"Ehm lo mau gak bantuin gue."


"Bantuin gimana?." Tanya Gia.


"Bantuin supaya bang Gio suka sama gue."


"Kita lihat aja nanti." Seru Gia sambil memikirkan cara untuk membuat Rheina jauh dari abangnya.Bukannya bagaimana,Gia tau sendiri kalau sampai sekarang abangnya itu masih mencari gadis panti duabelas tahun yang lalu.


"Tapi gue saranin jangan terlalu dalam mencintai bang Gio,gue takut lo akhirnya sakit hati." Sambung Gia,Gia hanya takut nantinya Rheina akan kecewa dengan Gio.


Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di sekolah,setelah Gia memarkirkan mobilnya dia langsung menuju kelas di ikuti oleh Rheina.


Sesampainya di kelas,Gia sudah melihat Iffy dan Zea sedang duduk manis di mejanya.


"Bisa diem gak,gue lagi pusing nih." Bentak Gia.


"Woww santai girls,kenapa jadi ngegaz."


"Bicara lagi gue seret lo ke lapangan."


"Ah elah lagi pms lo." Seru Iffy.


"Stefffyyyyy." Peringatan dari Gia. Seketika itu Iffy diam menutup mulutnya rapat-rapat,Zea yang melihat itu menjadi tersenyum. Mungkin kalau mereka berpisah nanti moment seperti ini yang akan sangat dirindukannya.


Sementara Gia langsung tidur dilipatan tangannya di atas meja.Entah lah mood Gia hari ini benar-benar sangat buruk.


Beberapa saat kemudian,Devan dan Ansel datang dan masuk ke dalam kelas.Devan yang melihat Gia tidur pagi-pagi di mejanya mengernyit heran tidak biasanya Gia seperti itu.


"Woy Gia,kenapa lo pagi-pagi udah ngebo." Seru Ansel.


"Mending lo diem kalau gak mau kena semprot sama Gia." Ujar Iffy.


"Lah emang Gia kenapa." Tanya Ansel.


"Gak tau nih anak,tadi dateng-dateng udah marah-marah pms kali." Jawab Iffy.


Gia yang merasa tidurnya terusik menggebrak meja.


"Woy bisa gak sih gak usah berisik, panas kuping gue dengernya." Bentak Gia.


"Wahhh kalem Gi,gue minta maap udah ganggu lo." Seru Ansel menatap Gia bingung.


"Mode bar-barnya udah on." Seru Iffy lirih.


"Gue denger Steffy Denia Abraham." Ujar Gia menekan setiap perkataannya.


"Hehhe sory." Seru Iffy cengengesan.


Sementara Gia yang udah kesal langsung beranjak dari kursinya ,Gia ingin bolos jam pelajaran pertama. Tapi sebelum melangkah tiba-tiba Devan menarik tangan Gia membuat Gia berhenti bergerak,dengan perlahan Devan memakaikan jaketnya di pinggang Gia membuat Gia mengernyit heran.


"Lo pms." Seru Devan lirih tepat di telinga Gia,membuat Gia memekik kaget pantas saja hari ini moodnya benar-benar berantakan.


Shit,kenapa harus di sekolah malu banget gue sama Devan.Batin Gia,sementara Iffy,Zea dan Ansel diam-diam menertawakan kebodohan Gia.Mereka sekarang sadar kenapa Gia dari tadi marah-marah.


Tanpa banyak bicara Devan menarik pergelangan tangan Gia keluar kelas,sebelum sampai di pintu Devan berbalik.


"Ansel,izinin gue sama Gia." Ujar Devan,Ansel menganggukkan kepalanya.


Devan melanjutkan menarik tangan Gia,sementara Gia hanya diam saja menuruti langkah kaki Devan karena dia sudah sangat malu sekali.Bagaimana bisa dia tidak ingat jadwal bulanannya.


Sampai akhirnya mereka berdua berhenti di uks.Devan membawa Gia masuk ke dalam Uks.


"Lo tunggu di sini jangan kemana mana." Ujar Devan dan di angguki oleh Gia.Sebenarnya Devan sudah tau kalau Gia merasa malu dengannya tapi Devan berusa tetap cool agar Gia tidak terus-terusan merasa malu.


Setelah kepergian Devan.


"Bodoh banget lo Gia bisa-bisanya lo malu-maluin diri lo sendiri." Seru Gia lirih merutuki kebodohannya dan yang lebih parah sekarang dia bingung karena tidak membawa seragam ganti dan pantyliner.


Sementara Devan pergi ke kantin yang berada di pojok sekolah,kebetulan kalau jam sekarang masih sepi karena kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.


"Bu,ada pembalut wanita." Tanya Devan sopan.


"Ada,sebentar." Ujar bu kantin.


Tidak berselang lama kemudian,bu kantin membawa sebuah kantong plastik yang sudah berisi pembalut.


"Untuk pacar nak Devan ya." Goda bu kantin,Devan tersenyum kecil.


"Bukan bu,untuk calonn istri saya." Jawab Devan.


Setelah itu Devan segera pergi dari kantin menuju ruang koperasi sekolah untuk membeli seragam buat Gia.


Setelah membeli seragam Devan kembali ke uks untuk menemui Gia.


.


.


.