High School Love Story

High School Love Story
S2#22



"Bu lapor,kelompok kita kehilangan satu orang."


"Hah kenapa bisa? siapa yang hilang."


"Giana Zafra bu."


Membuat Iffy,Zea,Rheina,Devan,Ansel,dan Kenzo menatap ke arah bu Syifa.


"Bukannya Gia ada di dalam tenda." Seru Iffy.


"Iya tadi Gia masih tidur." Sambung Rheina.


"Tadi Gia menghampiri ibu dan meminta diikutkan kelompok terakhir." Ujar bu Syifa yang mulai khawatir.


Sementara anggota osis yang lain mengumpulkan semua murid di tengah lapangan.


"Kalian tenang dulu kita cari Giana sama-sama." Ujar Rizki selaku ketua osis.Tapi tidak dengan Devan yang diam-diam meninggalkan lokasi camping untuk mencari Gia seorang diri.


Shit!.Bodoh banget lo gigi kecil.Batin Devan sambil mencari Gia,meskipun dia merasa sedikit bersalah dengan kejadian tadi sudah meninggalkan Gia.


"Lo bilang tenang,adek gue lagi sendirian di tengah hutan ini. Gia tidak pernah sendirian." Bentak Kenzo dengan emosi dia beranjak ingin mencari Gia seorang diri tapi ditahan dengan Aly wakil osis.


"Kita harus cari Gia bareng-bareng,kalau lo sendirian nanti yang ada lo nya tersesat dan kita juga yang panik." Ujar Aly.


"Persetan dengan kalian,gue mau cari adek gue sekarang.Iffy lo mending tunggu di sini." Seru Kenzo menatap Aly tajam karena menghalangi langkanhnya tapi tatapan Kenzo beralih kepada Iffy yang sudah menangis.


Iffy menganggukkan kepalanya mendengar perintah Kenzo,setelah itu Kenzo pergi seorang diri mencari Gia tapi beberapa osis mengikuti Kenzo dari belakang karena tidak mau ada murid yang tersesat lagi.


"Ze,Rhein.Gia gak pernah sendirian di tengah hutan kek gini. Dia paling benci kalau ditinggal sendirian dan sekarang dia berada di tengah hutan yang gelap itu." Ujar Iffy sambil menangis,Zea dan juga Rheina berusaha menenangkan Iffy tidak menutup kemungkinan mereka merasa sangat khawatir dengan Gia.


"Masih satu malam aja udah tersesat dan bikin semua orang susah,apalagi kalau sampai dua malam di sini yang ada kita semua di bikin repot." Ujar Maya pacar Aly.


"Eh chili,bisa diem gak mulut lo? Kalau gak bisa jangan salahin gue kalau gue seret lo ke tengah hutan ini mau lo."Bentak Iffy yang emosi.Melihat tatapan tajam Iffy membuat Maya menelan ludahnya kasar,dia belum melihat Iffy yang semarah itu pada seseorang bahkan saat diselingkuhi Aly. Sifat Iffy menurun dari Dena.


Sedangkan bu Syifa sangat cemas dengan wajahnya yang pucat pasi.Bagaimana tidak,Gia adalah putri kesayangan keluarga Raymond. Bagaimana kalau sampai daddy nya tau bisa tamat riwayat keluarga bu Syifa bahkan kariernya.


"Semoga Giana segera ditemukan,entah apa yang akan terjadi jika pak Ray tau dengan kejadian yang menimpa putrinya ini." Seru bu Syifa lirih.


Sementara Devan yang mencari Gia ke dalam hutan masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Gia.Sampai akhirnya Devan sampai di persimpangan yang dilewatinya tadi.Dia masih hafal tanda panah itu waktu berangkat tadi untuk mencari kayu bakar.


"Seharusnya tanda panah ini ke arah kanan,kenapa berubah ke arah kiri." Gumam Devan.


"Apa jangan-jangan ada yang sengaja melakukan ini untuk mencelakai Gia." Seru Devan lirih.Akhirnya Devan pergi ke arah kiri karena Devan yakin Gia pasti mengikuti tanda panah yang keluar dari jalur itu.


Sementara Gia yang masih bingung dirinya berada dimana,akhirnya duduk di batu besar yang berada di dekat sungai karena merasa sangat kelelahan. Gia saat ini berada di tepi sungai yang sangat gelap,beruntung tadi dia sempat membawa senter.


"Ya ampun gue ini dimana,masak iya cari bakar harus lewat sungai dulu." Gumam Gia.


"Daddy,mommy bang Gio,Gia takut. Gia gak pernah sendirian di tempat gelap seperti ini. Devan,Kenzo kalian kemana masa kalian gak mau cari gue." Ujar Gia mulai meneteskan air matanya.


Di lain tempat.


"Al,perasaanku ga enak." Ujar Dea .


"Kenapa sayang." Tanya Gavin.


"Entahlah,sepertinya ada suatu hal yang terjadi dengan Gia."


"Yaudah aku coba hubungi bu Syifa dulu."


"Bagaimana sayang." Tanya Dea.


"Bu Syifa masih belum respon,mungkin sekarang sedang ada kegiatan di sana. Biar aku coba hubungi Kenzo dulu." Ujar Gavin dan di angguki oleh Dea.


Sampai sambungan telfon ketiga akhirnya Kenzo mengangkat telfon dari Gavin walaupun dia merasa ragu.


"Halo Kenz,apa Gia sedang bersamamu nak." Tanya Gavin.


"Ehm Gia lagi ada di tempat camping om,Kenzo lagi cari air di hutan." Ujar Kenzo terpaksa berbohong.


"Baiklah,lanjutkan saja kegiatan kamu jangan lupa nanti kalau sudah kembali bilang sama Gia,daddy sama mommy nya nyariin."


"Siap om."


Setelah itu Gavin memutuskan sambungan telfonnya.


"Sayang Gia lagi sama teman-temannya di sana,kalau Kenzo lagi mencari air.Kamu tenang saja Giana pasti baik-baik saja." Ujar Gavin menenangkan Dea.


"Baiklah,tapi nanti aku harus mendengar suara Gia."


"Iya sayang,lebih baik kita istirahat sekarang." Dea menganggukkan kepalanya dan menggandeng tangan suaminya masuk ke dalam kamar.


Perasaanku juga tidak nyaman. Batin Gavin.


Back to Gia.


Gia yang sudah lama berada di sana,dia semakin ketakutan.Sampai Gia mendengar suara-suara yang menurutnya aneh sampai ada suara seperti binatang buas membuat Gia berteriak.


"Daddy,mommy." Teriak Gia dengan tubuh yang bergetar. Tanpa Gia sadari teriakannya barusan membuat Devan menghampiri suara itu.


Devan yang mencari asal suara teriakan tadi,semakin yakin bahwa itu adalah suara Gia.Akhirnya Devan sampai di dekat sungai,Devan lalu melihat bayangan seperti manusia yang tengah duduk di atas batu.


"Apa itu Gia,atau mungkin ghost?." Tanya Devan dengan dirinya sendiri.Tapi dengan keyakinan hati Devan akhirnya Devan memberanikan diri menghampiri bayangan itu.


"Astaga Giaaaa." Teriak Devan saat melihat bayangan itu adalah Gia yang tengah duduk sambil menangis.Mendengar suara Devan membuat Gia menoleh dan langsung memeluk Devan dengan sangat erat.


"Dev,Deva ini lo kan. Tolongin gue Dev,gue takut di sini sepi dan gelap." Ujar Gia terisak tanpa melepaskan pelukannya dari Devan.


"Gia,tenang dulu iya ini gue Devan. Lo tenang dulu sekarang lo aman." Ujar Devan tanpa sadar dia mencium kening Gia.


"Bawa gue pergi dari sini Dev,gue gak suka." Ujar Gia.


"Oke kita pergi dari sini,ayo naik." Ucap Devan sambil berjongkok supaya Gia naik ke punggungnya,tanpa menunggu lama Gia mengerti dengan maksud Devan dia segera naik dan memeluk leher Devan dengan kencang.


"Gi,meluknya santai dong. Lo mau bunuh gue." Seru Devan.


"Eh sory Dev,gue cuma takut." Jawab Gia melonggarkan pelukannya.


"Kalau lo takut,lo tutup mata terus kepala lo taruh di pundak gue." Ujar Devan ,Giapun menganggukkan kepalanya.


Sementara Kana dan Sharen merasa senang karena Gia masih belum ditemukan,tidak ada yang curiga terhadap Kana dan Sharen karena dari awal mereka tidak pernah menujukkan rasa tidak suka kepada Gia. Jadi mereka berdua bisa bermain cantik tanpa disadari semua orang.


.


.


.