High School Love Story

High School Love Story
S2#31



###


Hari ini Gia tidak seceria biasanya saat sampai di sekolah membuat Iffy dan Zea mengernyit heran.


"Lo kenapa Gi." Tanya Iffy.


"Gue juga gak tau,tiba-tiba kepala gue pusing banget." Jawab Gia lirih.


"Astaga Gia,hidung lo keluar darah." Pekik Zea kaget.


Dengan reflek Iffy kaget dan memegang kepala Gia untuk menghadap kepadanya,Iffy pun juga kaget.Iffy segera mencari tissue di tas nya beruntung saat itu Iffy sedang membawanya.


Dengan segera Gia merampas tissue itu dan membersihkan darahnya sendiri.Gia juga sebenarnya kaget kenapa dia sampai bisa mimisan.


"Apa gue perlu hubungi Gio biar lo dijemput." Ujar Zea.


"Eh gak usah Ze,plis gue mohon sama kalian jangan kasih tau bang Gio sama Devan gue mohon."Ujar Gia seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Tapi lo yakin gak papa." Tanya Zea khawatir,dan dijawab dengan senyuman oleh Gia.Kalau boleh jujur saat ini Gia merasakan pusing di kepalanya dan rasa sesak di dadanya tapi dia tahan sebisa mungkin.Wajah Gia juga sudah mulai memucat.


Tiba-tiba Devan datang dengan perasaan khawatir melihat wajah Gia yang sangat pucat sambil memegang sebuah tissue untuk membersihkan hidungnya.


"Ini darah siapa." Tanya Devan dingin.


Sementara Zea dan Iffy takut menjawab pertanyaan Devan karena melihat wajah datar dari Devan.


"Ini bukan darah apa-apa kok Dev." Ujar Gia.


"Yang gue tanya ini darah siapa bukan darah apa Giana." Bentak Devan membuat Gia kaget.


"Darah gue,tapi paling gara-gara luka di dalam hidung gue." Ujar Gia dengan nada bergetar takut.


"Sampai kapan lo mau nyembunyiin ini semua dari gue Gia,apa lo masih gak percaya sama perasaan gue ke lo?." Tanya Devan dengan emosi.Sedangkan baik Ansel,Iffy,maupun Zea tidak ada yang berani ikut campur karena melihat kemarahan di muka Devan.


"Tapi ini beneran bukan darah apa-apa Dev lo tenang aja."Ucap Gia berusaha tenang meskipun saat ini dia sedang menahan rasa pusing yang hebat di kepalanya.


Brakkkk.Devan menggebrak meja karena kecewa dengan Gia yang tidak mau jujur dengannya.Devan pergi dengan keadaan yang emosi meninggalkan kelas,sementara Gia seketika itu langsung menangis melihat kemarahan Devan.


Iffy dan Zea pun memeluk Gia berusaha menenangkan Gia.


"Gue susul Devan dulu." Seru Ansel dan diangguki oleh Iffy.


"Sekarang lo jujur sama gue,lo sakit apa kalau lo gak mau jujur terpaksa gue bilang kejadian ini sama Gio." Seru Zea,Gia menatap Zea dengan tatapan sendunya.


"Gue punya penyakit yang sewaktu-waktu bisa hilangin nyawa gue Ze.Gue gak mau cerita sama Devan karena gue gak mau membebankan pikiran Devan.Gue juga masih ragu sama perasaan gue sama Devan Ze,Fy .Gue takut suatu saat akan ninggalin dia dan bikin dia lebih kecewa daripada ini." Jelas Gia terisak.Zea merasa kaget gadis ceria seperti Gia mempunyai penyakit yang mematikan,tapi sebisa mungkin Zea berusaha untuk menguatkan Gia.


"Yaudah lo sekarang tenangin diri dulu." Seru Iffy.


"Gue boleh minta tolong,anterin gue ke uks gue pusing banget tapi gue gak mau pulang di rumah ada Mommy sama Daddy gue gak mau mereke berdua khawatir." Ujar Gia .


Iffy dan Zea pun menganggukkan kepalanya dan mengantar Gia ke uks untuk istirahat.


"Lo seharusnya gak semarah itu sama Gia Dev apalagi ngebentak dia,dia perempuan hatinya sangat rapuh." Ujar Ansel mencoba menasehati Devan.


"Lo gak tau seberapa takutnya gue saat ngelihat dia kek tadi Ans,gue panik ngelihat muka dia yang pucat." Seru Devan lirih.


"Lo harus selalu bahagiain Gia sebelum lo benar-benar kehilangan dia untuk selamanya Dev." Ujar Ansel membuat Devan menatapnya penuh tanda tanya.Setelah mengucapkan itu Ansel meninggalkan Devan di taman sendirian.


Ansel memang mengetahui penyakit Gia dari Iffy kekasihnya,tapi dia sudah berjanji dengan Iffy untuk tidak memberitahukannya kepada Devan.Iffy juga mengatakan kalau itu atas perintah Gia.


Sementara Devan masih memikirkan kata-kata Ansel tadi,seakan-akan terus menari-nari di pikiran Devan. Devan hanya merasa kecewa karena sudah dua kalinya Devan mencoba bertanya tapi jawaban Gia selalu sama.


"Lo gak tau seberapa takutnya gue ngelihat lo gak baik-baik aja Giana." Seru Devan lirih.


*Jam istirahat...


Gia sudah dijemput Iffy dan Zea untuk kembali ke kelas.


Saat ini Rheina juga bergabung di kelas Gia untuk mengajak temannya makan di kantin bersama.


Saat melewati lapangan basket,tidak sengaja Gia melihat Devan yang sedang duduk di pinggir lapangan bersama kakak senior nya.Dia perempuan yang dari dulu menyukai Devan.


Munafik kalau Gia tidak merasakan cemburu.Tapi dia mengerti kalau sekarang Devan pasti sedang kecewa dengannya,Gia masih percaya dengan perasaan Devan padanya.Sungguh ironi.


Sementara Iffy,Zea dan Rheina yang ikut berhenti mengikuti arah mata Gia. Iffy dan Rheina menjadi kesal karena bisa-bisanya Devan senyaman itu dengan kakak kelasnya.


"Gi apa perlu gue samperin terus gue jambak tuh cewe cabe." Seru Iffy kesal.


"Iya Gi,terus gue ulek tuh muka terus gue campur sama terasi." Sambung Rheina yang juga mulai merasa kesal.


Gia menarik tangan mereka berdua yang ingin menghampiri kakak kelasnya itu.


"Udah Devan lagi kecewa sama gue,kalau kalian sekarang buat masalah gue takut Devan makin ngejauhin gue. Kalian tenang aja gue percaya sama cinta nya Devan ke gue." Jelas Gia membuat Iffy dan Rheina yang mendengarnya menjadi terharu.Sementara Zea bangga dengan Gia karena Gia sekarang menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi dalam menyikapi sebuah masalah.


Sementara di lapangan,Ansel mencoba mengusir kakak kelasnya itu karena dia merasa risih dengan kehadirannya.Tapi yang Ansel heran Devan bisa-bisanya senyaman itu dengan kehadiran kakak kelas yang sangat centil dan alay menurut Ansel.


"Dev liat tuh,lo lagi dilihatin Gia." Seru Ansel mencoba mengalihkan perhatian Devan,sementara Devan hanya menoleh sesaat dan mengacuhkan Gia.


Sementara Gia yang merasa di acuhkan oleh Devan,menarik nafasnya perlahan .Jujur Gia merasa sakit melihat sikap Devan yang acuh seperti itu tapi Gia juga tidak ingin Devan mengetahui penyakitnya.


Gue sayang sama lo Dev,tapi gue gak mau ngebebanin pikiran lo karena gue.Batin Gia tersenyum mencoba menguatkan hatinya.


"Mendingan sekarang kita ke kantin karena jam istirahat bentar lagi akan selesai." Ajak Gia kepada teman-temannya dan berjalan mendahuli mereka bertiga.


Iffy,Zea dan Rheina saling pandang melihat sikap Gia yang sok tegar.


"Gak akan gue biarin siapapun nyakitin lo Gia." Seru Iffy lirih dan menyusul saudara spupunya itu diikuti Zea dan Rheina.


.


.