High School Love Story

High School Love Story
S2#17



Sepulang sekolah,sesuai janji Gia Gia mau ikut dengan Devan. Saat ini Gia sudah berada diatas moge milik Devan,Gia sebenarnya kesal karena Devan yang tiba-tiba tadi bilang mau ke toilet padahal Gia sudah kepanasan berada di parkiran.


"Emang dasar si Devan,udah tau nunggu itu gak enak ini malah hampir setengah jam gue nunggu dia. Ah seorang Giana disuruh menunggu manusia gak ada akhlak yang satu itu." Cerocos Gia dengan kesal. Gia sangat tidak suka jika menunggu,karena menurut Gia menunggu itu sangatlah membosankan terlebih lagi menunggu manusia seperti Devan.


Tanpa Gia ketahui ternyata Devan mengerjai dirinya, Devan masih kesal atas sikap Gia tadi di kelas. Devan sengaja membuat Gia menunggu.


"Ish lima menit lagi si ketan gak dateng gue balik, yakali gue mau nunggu dia di sini sampe malem mana suasananya horor lagi." Ujar Gia menggerutu.


Mendengar itu Devan segera keluar dari persembunyiannya dengan gaya cool.


"Eh lo di toilet lagi ngapain hah,lama banget lagi konser." Sungut Gia kesal.


"Yaelah gitu aja lama lebay lo." Jawab Devan.


"Woy gue hampir meleleh nungguin lo di sini tau gak."


"Meleleh? Es cream dong."


"Ihhh Devann,lo jadi ngajak gue gak sih."


"Hahaha oke oke santai,kita berangkat sekarang. Sory gara-gara gue lo jadi keringetan gini." Seru Devan menatap wajah Gia yang memerah karena panas.


"Udah tau di sini panas makanya ayo berangkat." Seru Gia,tapi Devan malah membuka jaketnya membuat Gia mengernyit heran.


"Nih mau gue pakein atau lo pakek sendiri?."


"Hah?."


"Udah cepet nanti keburu sore."


Gia segera memakai jaket Devan yang lumayan kebesaran di tubuh Gia,Devan yang melihatnya tersenyum tipis dia merasa Gia sangat lucu sekali.


"Terus kalo jaketnya gue pake nanti lo kepanasan dong."


"Cuma sekali aja gak bakalan bikin gue item."


"Serah lo deh."


Setelah itu Devan melajukan moge nya menuju mall yang lumayan terkenal di kota itu. Sesekali Devan melihat Gia dari kaca spion,entah kenapa setiap berdekatan dengan Gia ada rasa aneh yang Devan rasakan dan yang dia tidak pernah dapatkan dari orang lain.


Ah gigi kecil yang lucu.Batin Devan.


Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai. Setelah memarkirkan mogenya Devan mengajak Gia masuk ke dalam.


"Eh Dev,nih jaket lo btw makasih." Ujar Gia.


"Katanya kepanasan tadi,yaudah pakek aja."


"Udah enggak kok." Ujar Gia sambil menyerahkan jaketnya.


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam.


"Dev,lo mau cari barang apa."


"Entahlah apapun itu asalkan bagus."


"Lah lo gimana sih,seharusnya tuh lo pikirin dari tadi biar sampe sini gak bingung."


"Terus apa gunanya gue ajak lo kalau gue masih harus bingung mikir." Ujar Devan tanpa mengalihkan pandangan matanya ke sebuah topi yang menurutnya lucu.


Tanpa pikir panjang Devan langsung menarik tangan Gia. Devan mengambil topi yang dia lihat tadi.


"Eh Gi cobain nih."


"Lah kok gue." Seru Gia heran.


"Ah kelamaan lo." Ujar Devan sambil mencoba memakaikan topi itu dengan perlahan ke Gia.Gia yang mendapat perlakuan seperti itu dari Devan membuat dirinya kembali merasakan apa saat dia berada di uks waktu itu.


"Perfect." Seru Devan membuyarkan lamunan Gio.


"Gue ambil topi ini." Sambung Devan.


"Emang buat siapa sih Dev,kenapa harus gue yang nyobain."


"Bisa diem gak." Sungut Devan kesal karena Gia yang selalu mengajaknya berbicara dari tadi.


"Gue denger Gianaa."


Upss,Gia langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Setelah itu mereka menuju ke sebuah toko perhiasan.


"Sekarang lo pilihin gue cincin yang menurutlo itu bagus." Ujar Devan.


"Lo sebenernya mau beliin siapa sih Dev kenapa harus gue juga yang milih." Seru Gia kesal.


"Ya karena ukuran tangan dia itu sepertinya sama kek lo." Ucap Devan asal membuat Gia menatapnya jengah.


Lama-lama gue kutuk juga lo ketan.Umpat Gia dalam hati.


Setelah beberapa saat memilih,Gia tertuju pada sebuah cincin yang menurutnya sangat unik. Cincin yang dilapisi berlian kecil-kecil dengan permata indah berwarna merah muda. Akhirnya Gia menyuruh Devan untuk memilih cincin itu.


"Beruntung sekali pacar lo itu punya pacar kek lo."


"Iyalah,secara gue udah ganteng baik hati lagi."


"Nyesel gue udah bilang kek tadi."


Setelah puas berkeliling Gia yang merasa lelah menatap sedih kepada Devan.


"Kenapa." Tanya Devan seolah mengerti tatapan Gia.


"Laper."Jawab Gia dengan puppy eyesnya.


"Lo jelek kalo udah kek gini." Ujar Devan sengaja membuat Gia kesal.


"Ya allah sabar Gia,orang sabar di sayang semua orang." Ujar Gia kepada diri sendiri.


Setelah itu Gia menyusul Devan yang udah berjalan mendahuluinya. Mereka berdua menuju ke restoran yang ada di mall itu. Setelah memesan beberapa makanan,suasana di sana terlihat canggung tidak seperti tadi.


Awkward banget ini mah.Batin Gia.


"Kenapa lo liatin gue."


"Siapa juga yang liatin lo gr banget jadi orang."


"Terus?."


"Gue lagi liatin cogans dibelakang lo."


"Dasar cewe gak bisa liat cowok ganteng dikit."


"Dasar cowo apa-apa emosi."


Devan yang ingin menjawab lagi terhenti karena makanan mereka sudah datang.


.


Di lain tempat,Gio sedang memikirkan surat yang sudah ia simpan duabelas tahun yang lalu. Surat itu masih dalam keadaan sangat bagus karena Gio yang menyimpannya dengan baik.


"Gadis yang lucu dan manis,dia berceloteh seakan-akan dia sudah mengerti dengan keadaan gue waktu itu. Entah kenapa setiap gue liat matanya,gue seperti terhipnotis. Pandangan mata yang bisa saja membuat semua orang takluk." Seru Gio lirih sambil tersenyum tipis.


Sudah beberapa kali juga Gio mencari orang pemilik surat itu,tapi sekeras apapun usaha Gio hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


Gio masih ingat ucapannya yang sampai sekarang selalu berada di pikiran Gio.


"Kalo mau bunuh diri jangan di sini,mendingan berdiri aja di rel kereta api."


Sampai sekarang Gio selalu ingat ucapan gadis berumur limatahun itu. Gadis yang sudah salah paham dan beranggapan dia mau mengakhiri hidupnya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Gio,dia merasa ingin sekali mencari gadis kecil yang sudah menaklukkan hatinya dengan tatapannya itu. Gio pikir itu hanyalah perasaan bocah sembilan tahun yang masih tidak mengerti apa-apa.


Tapi setelah ia dewasa sekarang,Gio tidak bisa mengendalikan perasaannya lagi untuk tidak mencari gadis kecil itu. Seberapa keras usaha Gio untuk melupakan gadis itu,Gio akan semakin tambah penasaran apalagi setelah membaca isi surat itu kembali serta beberapa foto gadis itu dengan senyumannya yang hangat.


.


.


.