
2 tahun kemudian...
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, dua tahun sudah hubungan Gavin dan Alea. Saat ini Alea dan teman-temannya yang lain sudah duduk di bangku kelas 3 SMA, sedangkan Gavin dan teman-temannya sudah kuliah di kampus yang sama karena mereka berempat tidak bisa terpisahkan kecuali si kembar yang memilih kuliah di luar negeri semuanya.
"Al, rencananya kamu mau kuliah dimana?" tanya Vina.
"Yaelah, masih ditanya aja sudah jelas di tempat yang sama dengan Bang Gavinlah," sahut Alexa.
"Alea sama Bang Gavin sudah gak bisa terpisahkan, jangan-jangan keluar sekolah mereka bakalan nikah lagi," goda Dira.
"Ishh..ishh..ishh...enggaklah, aku masih ingin menggapai cita-citaku. Aku ingin seperti Mami jadi seorang dokter," sahut Alea.
"Kalau Aleena pasti cita-citanya ingin jadi ustadzah terkenal kan?" seru Vina.
"Siapa bilang? kata Abi aku, aku bebas mau jadi apa pun karena Abi dan Umi tidak pernah memaksakan kehendaknya yang penting aku masih dijalurku jangan keluar dari jalur," sahut Aleena.
"Asyik, berarti kita masih bisa satu kampus sama-sama," seru Vina girang.
"Kalau aku sepertinya mau kerja saja, soalnya Ayah sama Bunda tidak akan sanggup membiayai kuliah aku," seru Dira.
Alea merangkul pundak Dira. "Tidak apa-apa, kita masih bisa bersahabat kok karena persahabatan kita akan selamanya seperti ini," seru Alea.
"Sorry lama," seru Vira.
"Kamu itu ke toilet atau ke pasar, lama banget," kesal Alexa.
"Sorry, perut aku sakit banget."
Semenjak keluar dari pondok pesantren dulu, Vira memang sudah berubah dan bergabung dengan geng Alea.
"Vir, kamu mau lanjutin kuliah dimana?" tanya Alea.
"Kayanya aku mau nyusul Kak Garra deh ke Kanada," sahut Vira.
"Idih, bucin banget," ledek Gabby.
"Biarin, mendingan aku bucin daripada kamu suka sama Kak Ghani tapi gengsi gede-gedean," ledek Vira.
Gabby yang malu langsung memiting leher Vira membuat Vira berteriak.
"Apa kamu bilang?"
"Ampun Gab, sakit!" teriak Vira.
Alea dan yang lainnya bukannya menolong malah tertawa melihat tingkah Gabby dan Vira yang memang selama ini tidak pernah akur.
Saat ini mereka sedang duduk di depan gerbang sekolah, karena menunggu jemputan mereka masing-masing. Hari ini para guru ada rapat dadakan, jadi mereka semua harus menunggu jemputan mereka.
Tiba-tiba rombongan penjemput datang membuat semua gadis tersenyum kegirangan.
"Ayo sayang," seru Gavin.
Alea menghampiri Gavin dan Gavin segera memakaikan helm kepada Alea.
"Sudah lama nunggu, Yang?"
"Tidak."
Vina langsung masuk ke dalam mobil Langit, begitu pun dengan Aleena dan Dira yang masuk ke dalam mobil Arsya. Aleena memang tidak menolak kalau Arsya menjemputnya, tapi Aleena minta ditemani sama Dira biar di dalam mobilnya tidak berduaan.
Melihat para sahabatnya sudah di jemput oleh pasangannya masing-masing, Gabby pun segera menaiki motornya.
"Ogah, aku gak biasa naik motor nanti rambutku berantakan mana panas juga," sahut Vira.
"Ya sudah kalau gak mau."
Gabby langsung menancapkan gasnya meninggalkan Vira, karena Vira kesal yang jemput lama, akhirnya Vira memutuskan untuk naik taksi saja.
Gavin melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" seru Gavin.
"Memangnya Kakak gak kuliah?"
"Enggak."
"Ya sudah, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu."
"Siap, Tuan putri."
Alea semakin mengeratkan pelukannya, sementara itu dari kejauhan, di dalam sebuah mobil.
"Bos, laki-laki yang berboncengan dengan gadis itu dan gadis yang pakai motor tadi di sekolah adalah anaknya Gea Alexander Crush yang tidak lain dan tidak bukan anaknya Mr.G," seru seseorang yang menjadi sopir mobil itu.
"Akhirnya aku bisa menemukan keturunan Mr.G, sudah lama aku menunggu saat-saat kehancuran keluarga mereka karena mereka sudah membuat keluargaku hancur dan mati dengan cara mengenaskan," gumam seorang pria tampan dengan senyumannya.
Pria tampan dalam mobil itu tampak mengepalkan tangannya, matanya menyiratkan dendam yang sangat membara kepada keluarga Gea dan kemungkinan untuk saat ini keluarga Gavin dan Gabby sedang dalam bahaya.
***
Hari ini Gavin dan Alea menghabiskan waktu bersama, bahkan mereka tampak sangat bahagia. Gavin dan Alea seperti mempunyai firasat buruk, karena hari ini mereka seperti tidak mau terpisahkan.
Gavin dan Alea duduk di kursi taman dengan memakan es krim.
"Sayang, apa kamu pernah memikirkan bagaimana hubungan kita ke depannya?" tanya Gavin.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?"
"Entahlah, tapi untuk saat ini aku benar-benar merasa takut kehilangan kamu."
Alea menggenggam tangan Gavin dengan senyumannya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Kak, jadi Kakak jangan bicara seperti itu."
Gavin mengubah posisinya menghadap ke arah Alea, Gavin menatap Alea dengan sangat dalam membuat Alea bingung.
"Pokoknya apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama dan aku janji, akan selalu ada di samping kamu," seru Gavin.
Alea mengusap pipi Gavin. "Aku percaya kalau Kakak akan selalu ada di samping aku."
Gavin menarik tubuh Alea ke dalam pelukannya, sungguh saat ini perasaan Gavin sangat tidak enak dan Gavin merasa akan terjadi sesuatu tapi entah apa itu.
"Ya Allah, semoga perasaanku salah," batin Gavin.
Sementara itu di sebuah rumah megah berlantai dua, seorang pria tua duduk di atas kursi dengan menyesap rokok.
"Pa, aku sudah menemukan keturunan keluarga Mr.G."
Pria tua itu menyunggingkan senyumannya, seolah-olah dia sangat bahagia karena sudah puluhan tahun dia mencari keturunan Mr.G dan tidak pernah menemukannya saking pintarnya mereka bersembunyi.
"Gea Alexander Crush, kamu harus bertanggung jawab atas meninggalnya Jovan sepupuku," gumam pria tua itu dengan mengepalkan tangannya.