
Devan menarik tangan Gia ke taman tapi melihat tangan Devan yang berdarah akhirnya Gia menarik tangan Devan ke uks.
"Ansel lo susulin Iffy dulu pasti dia ada di roftoop nanti gue sama Devan nyusul." Ujar Gia dan diangguki oleh Ansel.
"Lo mau bawa gue kemana Gi." Tanya Devan. Tapi tidak ada jawaban dari Gia. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan uks.
"Wah bentar dulu nih Gi,gue belum siap lagian kalau mau kita jangan ngelakuin di sini gak aman mending nanti pulang sekolah di rumah gue atau di rumah lo." Goda Devan.
"Ih dasar mesum." Ucap Gia memukul tangan Devan.
"Habisnya lo bawa gue ke sini,apalagi cuma berdua siapa yang pikirannya gak akan traveling coba."
"Ngomong lagi gue sumpel nih mulut sama sepatu gue."
"Oke gue ganteng gue diem."
Gia hanya memutar matanya malas. Setelah masuk ke dalam uks Gia langsung mencari obat P3k dengan telaten Gia langsung mengobati tangan Devan yang terluka membuat Devan terpaku melihat Gia dari jarak dekat.
Gigi kecil yang baik hati. Batin Devan,tanpa sadar Gia juga sebenarnya merasa hal yang aneh di dalam hatinya saat berjarak sangat dekat dengan Devan.
"Udah,lain kali kalau masih mau mengeluarkan darah gak usah sok main pukul." Seru Gia.
"Lo lagi marah atau perhatian Gi." Tanya Devan.
"Yeee gitu aja baper lo."
Jlebb. Devan merasa ada yang sakit mendengar ucapan Gia.
Kalau berharap itu sakit,biarkan gue berharap selamanya meskipun diiringi dengan rasa sakit yang hebat.Batin Devan.
"Siapa yang baper coba,lagian mau baper sama Gigi hidup kek lo." Goda Devan sambil tertawa.
"Awas lo baper sama gue,gue gak akan tanggung jawab." Ucap Gia dan pergi meninggalkan Devan yang mematung atas ucapan Gia.
"Huftt Devan anggap ini ujian." Seru Devan lirih dan menyusul Gia.
Sesampainya di roftoop mereka berdua melihat pemandangan yang sangat romantis dimana Iffy sedang menangis di pelukan Ansel. Melihat kedatangan Gia dan Devan,Iffy menjadi salah tingkah dan langsung melepas pelukan Ansel juga mendorongnya.
"Santai aja kali neng gak usah ngedorong gitu tadi aja nyaman." Goda Ansel.
"Diem lo Ransel." Ujar Iffy.
"Gi lo kalau mau narik gue yang lembut dikit kek,cewek kok bar-bar." Sungut Ansel kesal.
"Ngomong lagi lo gue tarik lo ke pabrik tas biar lo di jadiin ransel sekalian,mau lo?." Bentak Gia membuat Ansel mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Gila mereka berdua,gak ada lembut-lembutnya jadi cewek." Seru Ansel.
"Diem lo,kalau gak mau Gia beneran bawa lo ke pabrik tas." Ujar Devan.
"Tumben lo gak bacot kek biasanya."
"Males gue."
"Gayamu nak."
Beberapa saat kemudian Zea datang menyusul mereka,Zea langsung memeluk Iffy yang masih menangis di pelukan Gia. Zea sudah tau permasalahannya setelah mendengar penjelasan dari Gia tadi di telfon. Sebelum menyusul Iffy ke roftoop Gia sempat menghubungi Zea dan menyuruh Zea menyusulnya ke roftoop.
"Udah,lo gak usah cengeng kek gini yang ada nanti Aly sama Maya ngetawain lo. Lagian lo harusnya bersyukur dengan lo tahu fakta yang sebenarnya itu bisa membuka mata hati lo kalau dia gak baik buat lo yang udah setulus hati sama dia. Kalau lo malah begini artinya lo kalah dari mereka,lo harus bangkit Fy lo gak boleh lemah hanya gara-gara sampah masyarakat itu. Lo tau? lo seperti ini itu gak pantes jadi saudara spupu Gia jadi sahabat gue,udahlah lupain dia masih banyak orang baik di luar sana yang mau milikin lo. Gak usah bales dendam cukup lo liat aja karma apa yang akan mereka dapat setelah membuat lo begini." Jelas Zea panjang lebar mebuat Ansel dan Devan tertegun mendengarnya apalagi Gia dan Iffy hanya menjadi pendengar yang setia tidak membantah .
"Wah benar-benar pawang yang hebat." Seru Ansel.
Membuat mereka bertiga menoleh ke arah Ansel dengan tatapan yang tajam. Ansel seketika bersembunyi dibalik punggung Devan.
"Pengecut lo beraninya sembunyi di ketek Devan." Goda Gia.
"Jelas-jelas ini punggung Gia,bukan ketek."
"Serah lo ."
Astaga nambah lagi nih adu bacotnya Gia. Udah Iffy,Kenzo,sekarang ditambah Devan sama Ansel. Lengkap sudah penderitaanmu Zea. Batin Zea dengan menatap jengah ke arah mereka berempat.
.
.
.
Jangan pernah bosen ya guys🤎