
Saat Gia ingin menyusul Iffy dan yang lainnya,tiba-tiba Devan menarik tangan Gia.
"Apaan sih Dev,nanti kita ketinggalan jauh sama mereka." Seru Gia.
"Gue tau lo sama Kenzo nyembunyiin sesuatu."
"Astaga,lo masih mikirin yang tadi?Gue emang gak kenapa-napa Devan."
"Gak usah bohong sama gue."
"Iya beneran gue sama Kenzo udah jujur kan tadi."
"Sudahlah percuma tanya sama kamu." Ujar Devan berlalu meninggalkan Gia. Gia yang sadar ditinggal sendirian seketika berlari mengejar rombongan yang lain karena udah lumayan jauh jaraknya.
Gia kewalahan karena isi tas yang lumayan berat,dan juga Gia merasa sedikit pusing tapi dia harus segera menyusul teman-temannya.
"Tega banget sih si Devan,awas aja nanti kalo pas nyampe." Gerutu Gia.
Sementara Devan yang masih kesal karena Gia tidak mau jujur,tetap saja berjalan tanpa memperdulikan Gia yang jauh tertinggal di belakang.
Setelah beberapa menit kemudian mereka sampai di lokasi pendirian tenda.
"Eh Dev,bukannya lo bareng Gia?." Tanya Kenzo.
"Di belakang."
"Ah sialan lo ninggalin Gia." Ujar Kenzo yang sudah emosi sambil menyusul Gia.Sementara Devan masih dengan mode kesalnya terhadap Gia.Zea dan Rheina yang melihat gelagat Devan menjadi heran tidak biasanya Devan bersikap acuh terhadap Gia.
Awas aja kalau sampai Gia kenapa-napa.Batin Iffy kesal.
Sementara Kenzo yang mencari Gia,akhirnya menemukan Gia sedang duduk di bawah pohon yang lumayan besar.
"Gi lo gak papa kan.? Tanya Kenzo.
"Ah Kenzo,akhirnya lo pengertian juga jemput gue ke sini.Sans ae lah gue lagi istirahat cape tau jalan jauh-jauh gue takutnya nanti kalau dipaksa yang ada kaki gue bengkak kek trotoar bogor" Ujar Gia.
"Gue tadi tanyain lo ke Devan eh dia kek gak peduli gitu."
"Tau tuh anak,ngambek sih kayaknya.Masalah yang tadi pas kita mau jalan ke sini."
"Yaudah yang penting lo gak papa,masih kuat jalan kan?."
"Kuat dong,ayo bawain barang gue pegel tangan gue." Ujar Gia tanpa merasa malu membuat Kenzo gemas dan mengacak rambut Gia.
"Ihh Kenz berantakan jadinya rambut gue." Ujar Gia cemberut.
Setelah itu Kenzo dan Gia kembali berjalan beruntung tempat Gia istirahat sudah tidak jauh dari lokasi camping.Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai dan Iffy langsung menghampiri Gia.
"Gi lo gak papa kan,tadi kemana aja kenapa lama banget." Tanya Iffy menatap Gia khawatir.
"Udah gue gak papa,mendingan sekarang lo bantu gue ke tenda karena pusing gue udah tambah parah ini." Ujar Gia dengan wajah yang sudah pucat.Beruntung tenda kelompok Gia sudah selesai .
"Gi apa perlu gue telfon bang Gio buat jemput lo ke sini.?" Tanya Kenzo dengan nada khawatir.
"Gak,gue gak mau Kenz gue gak papa lagian gue kalo pulang nanti bakalan bosen di rumah terus." Jawab Gia.
"Tapi lo yakin gak papa?". Kali ini Iffy yang bertanya.
"Astaga,iya gue gak papa Fy,Kenz gue cuma butuh istirahat masih ada waktu tigapuluh menit kan untuk kegiatan selanjutnya?."
"Iyasih,yaudah ayo gue anter ke tenda lo istirahat nanti gue bangunin kalau udah sampe waktunya." Ujar Iffy sambil lalu mengajak Gia ke tenda diikuti oleh Kenzo yang membawa tas Gia.
Tanpa mereka ketahui sedari tadi Devan menatap mereka dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
Kenapa seakan-akan mereka akan kehilangan Gia. Batin Devan.
Malam harinya...
"Baik bu." jawab semua.
Iffy mengajak Ansel dan Devan satu kelompok dengannya dan juga Zea dan Rheina.
"Kasihan Gia dia kelelahan banget,tadi gue udah izin sama bu Syifa kalau Gia istirahat."
"Yaudah kita udah pas berlima." Sambung Ansel.
"Terus Kenzo gimana?." Tanya Rheina.
"Gue ikut kelompok lain." Ujar Kenzo yang masih kesal dengan Devan karena meninggalkan Gia.
Setelah terbentuk kelompok mereka berangkat dengan dibimbing dua anggota osis.Sampai pada kelompok terakhir Gia tiba-tiba datang.
"Bu mohon maaf saya ketinggalan." Ujar Gia.
"Loh Gia,bukannya kamu sakit kata Iffy tadi?." Tanya bu Syifa.
"Udah enakan bu,lagian saya ke sini ingin mengikuti kegiatan camping bukan mau malas-malasan." Jawab Gia.
"Yaudah kamu ikut kelompok ini,kebetulan kurang satu sisiwi."
"Baik bu."
Sialan gue gak dibangunin sama mereka,awas aja kalo ketemu nanti.Batin Gia kesal,karena dia tadi sudah berpesan untuk dibangunkan tetapi yang dia dapat malah ditinggal.
Setelah itu mereka semua berpencar mencari kayu bakar.Kelompok Gia berangkat setelah kelompok Kana dan Sharen berangkat terlebih dahulu.Mengetahui Gia ikut dalam kelompok lain dan jauh dari temannya,membuat Kana dan Sharen tersenyum licik.
Karena jarak kelompok Kana dan Sharen tidak terlalu jauh dari kelompok Gia,membuat mereka berdua menunggu Gia berjalan sendirian. Dan pas saat itu juga Gia merasakan tali sepatunya lepas membuat dia tidak nyaman berjalan,akhirnya Gia berhenti sejenak untuk memasang tali sepatunya tanpa diketahui teman satu kelompoknya.
Melihat itu,Kana dan Sharen sengaja mengubah arah panah yang seharusnya dilewati Gia sebentar lagi.Padahal itu bukanlah jalur yang seharusnya.
"Hilang,hilang dah tuh anak." Ujar Sharen.
"Sekalian biar dimakan binatang buas." Sambung Kana sambil tertawa membayangkan nasib Gia.
Setelah selesai memasang tali sepatunya,Gia melanjutkan perjalanannya dia kaget karena teman kelompoknya sudah tidak ada di depannya.
"Sial,gue tertinggal jauh." Seru Gia sambil berjalan agak lebih cepat karena merasa merinding berada di tengah hutan itu.
Sampai di persimpangan,Gia melihat arah panah yang menujukkan Gia harus ke kiri padahal yang sebenarnya adalah ke arah kanan.Gia tidak sengaja dia telah keluar dari jalur.
"Kenapa makin kesini jalannya makin aneh.Kalaupun gue tertinggal seharusnya mereka gak sejauh ini mana gue gak bawa ponsel lagi." Seru Gia yang lama-lama merasa takut karena dia tidak menemukan siapapun di sana.
"Duh mereka kemana coba,jelas-jelas tadi gue berhenti gak seberapa lama masak udah jauh aja." Gerutu Gia yang semakin lama merasa sangat cemas.
Sementara di lokasi camping semua kelompok sudah sampai dengan membawa kayu bakar ditangannya.Sementara kelompok Gia salah satu siswi merasa ada yang hilang.
"Eh bukannya di kelompok kita tadi ada Giana ya."
"Lah iya,kemana dah tu anak."
"Astaga jangan-jangan dia tersesat di hutan."
"Yaudah gue lapor bu Syifa dulu."
Setelah itu salah satu dari mereka melapor ke bu Syifa tentang hilangnya Gia.
.
.
.