High School Love Story

High School Love Story
Bab 31 Saling Memaafkan



Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa satu bulan sudah Gavin dan yang lainnya mengikuti acara mondok di pondok pesantren Abi Alwi.


Hari ini adalah hari terakhir puasa dan hari terakhir mereka tinggal di pondok pesantren. Abi Alwi mengundang para orangtua dari masing-masing anak untuk buka bersama di kediamannya.


"Terima kasih Ustadz dan Bu Ustadzah karena sudah mau mendidik anak kami selama tinggal di sini," seru Daddy Angkasa.


"Sama-sama Pak Angkasa, semua ini memang sudah menjadi tugas kami," sahut Abi Alwi.


"Maafkan anak-anak kami jika selama belajar di sini, banyak menyusahkan dan menjengkelkan karena kami tahu bagaimana kelakuan anak-anak kami," seru Daddy Victor.


Abi Alwi dan Umi Annisa hanya bisa menyunggingkan senyumannya, tidak lama kemudian terdengar suara adzan mengumandang.


"Alhamdulillah."


Semuanya segera berbuka puasa, walaupun menu buka puasanya sederhana tapi terasa begitu sangat nikmat bila dimakan bersama-sama.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa pulang juga," seru Putra.


"Iya, dan tidak ada lagi drama ngantuk karena harus bangun jam 3 subuh," sahut Langit.


Papa Alfa dan Mommy Novelia mencubit paha anak mereka masing-masing membuat keduanya mengaduh kesakitan.


"Aw, sakit Mommy," keluh Langit.


"Kenapa kamu bicara seperti itu Nak, memalukan sekali," bisik Mommy Novelia dengan wajah yang memerah.


"Kalau di rumah, sudah Papa tabok kamu memalukan sekali," bisik Papa Alfa.


Semuanya malah tertawa melihat Putra dan Langit di cubit seperti itu, setelah berbuka puasa dan shalat Maghrib berjamaah, giliran semuanya berpamitan.


Abi Alwi menyerahkan ponsel masing-masing. "Maafkan kami ustadz karena selama ini kami sudah sangat nakal dan selalu membuat masalah di sini," seru Alea.


"Tidak apa-apa, anak-anak seperti kalian itu butuh adaptasi yang sangat lama untuk bisa melakukan semua aturan di dalam pondok pesantren. Yang terpenting, kalian sudah tahu dasar-dasar ajaran agama Islam dan apa saja hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dalam ajaran agama Islam," sahut Abi Alwi.


"Terima kasih Ustadz sudah dengan sabar membimbing kami semua di sini," seru Dira.


"Iya, sama-sama."


Sekarang giliran Gavin dan yang lainnya saling berpelukan meminta maaf.


"Ingat, perempuan dan laki-laki tidak boleh saling berpelukan," seru Umi Annisa.


"Iya, Umi."


Geng Gavin pun saling berpelukan dan maaf-maafan dengan geng si kembar, walaupun agak sedikit ada rasa keterpaksaan.


"Jangan senang dulu kalian, kita lakukan semua ini hanya di depan Pak ustadz dan para orangtua saja, setelah ini kita jalani saja hidup seperti biasanya," bisik Gavin dengan memeluk Ghani.


"Memangnya kita mau apa berdamai dengan kalian? kita juga ogah banget berteman dengan kalian," sahut Ghani dengan berbisik juga.


"Vira, kok kamu gitu sayang?" seru Mommy Virlie.


"Vira gak mau maaf-maafan sama mereka Mommy, mereka itu bukan teman Vira bahkan Vira yakin, habis ini mereka akan mengulangi perbuatan mereka lagi," ketus Vira.


"Astaga masih saja dia menyebalkan seperti itu," kesal Alexa.


"Lagipula, Vira gak butuh teman kaya mereka," sambung Vira.


"Idih, sombong banget sih kamu, Vira. Kita juga gak mau punya teman sombong dan angkuh seperti kamu!" bentak Vina.


Mommy Vio sampai membekap mulut anaknya dengan senyuman canggungnya.


"Maafkan ucapan anak kami," seru Daddy Nata dengan wajah yang memerah.


"Vira, dengarkan Umi. Kamu tahu tidak kalau iblis itu imamnya para malaikat, lebih beriman daripada malaikat, dan lebih berilmu daripada Jibril. Tapi Allah laknat dan campakkan dia dari surga karena hanya satu kesalahan saja, kamu tahu apa kesalahan iblis?" seru Umi Annisa.


Vira terdiam dan menggelengkan kepalanya, bahkan semua orang pun terdiam mendengar Umi Annisa berbicara.


"Kesalahan iblis itu ialah sombong, makanya iblis tidak pernah takut dengan shalatmu yang panjang-panjang, iblis tidak pernah khawatir dengan ilmumu walaupun setinggi langit, karena ketika ada kesombongan dihatimu walau sebesar biji Zara sekalipun, maka cukuplah itu menjadikan dirimu dalam golongannya dan kekal bersamanya di dalam neraka jahanam. Naudzubillahimindalik."


Abi Alwi mengusap kepala Vira dengan sangat lembut. "Jadi belajarlah menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, hilangkan sifat sombong di dalam dirimu karena kesombongan akan menghancurkan semuanya. Lihatlah mereka, mereka tulus ingin berteman denganmu tapi karena kesombongan sudah menguasai hatimu, makanya kamu mempunyai sifat su'udzon kepada orang lain," sambung Abi Alwi.


Vira menundukkan kepalanya, hatinya seakan tercubit dengan ucapan Umi Annisa dan Abi Alwi. Aleena menghampiri Vira dan menggenggam tangan Vira membuat Vira kaget.


"Kami tulus ingin berteman denganmu, kami bukan orang yang selama ini seperti yang kamu pikirkan," seru Aleena dengan senyumannya.


Lalu, Dira pun ikut menghampiri Vira. "Lihatlah aku Vir, aku bukan anak orang kaya bahkan Ayahku saja hanya seorang OB tapi coba kamu lihat, mereka menerima aku dengan tangan terbuka. Mereka adalah anak-anak yang baik, jadi semua yang kamu pikirkan selama ini terhadap mereka itu salah," sambung Dira.


Vira kembali menundukkan kepalanya, ucapan Aleena dan Dira memang benar selama ini dia terlalu sombong dan menganggap kalau dirinya tidak akan membutuhkan seorang teman.


"Maaf," lirih Vira.


Aleena dan Dira tersenyum, mereka berdua memeluk Vira begitu pun dengan Gabby, Alexa, Alea, dan juga Vina yang menghampiri mereka dan ikut memeluk juga.


"Jadi mulai sekarang kita temenan, ya," seru Alea.


Vira tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat para orangtua tersenyum, Arsya hendak melangkahkan kakinya tapi Gavin dengan sigap menarik baju Arsya dari belakang.


"Mau ke mana, Lo?" tanya Gavin.


"Ikutan berpelukan," sahut Arsya cengengesan.


Putra langsung memiting leher Arsya dan menjitak kepala Arsya dengan gemasnya. "Enak saja, kita juga mau kali berpelukan tapi Lo lihat tidak, tatapan Ustadz tajam banget kaya pisau penjual daging," bisik Putra.


Semua orang tertawa melihat tingkah anak-anak, akhirnya Vira menyadari kesalahannya.