
Nara melempar tasnya keatas kasur saat baru sampai dikamarnya lalu menyusul-lah tubuhnya yang ia lempar keranjang. Ia memegangi bibirnya dengan bibir berkedut. Kemudian menangkup pipinya sendiri dengan senyum mengembang, kejadian hari ini seperti mimpi saja rasanya.
Flashback on.
"NARA!!! I LOVE YOUUUU!!!!" Nara melongo. Netranya mengerjap tak percaya atau lebih tepatnya, belum percaya dengan apa yang ia tangkap sedetik lalu. Menahan rasa malu yang memuncak, kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit mengintip reaksi Nara, Gema beralih membawa tangan Nara yang satunya lagi kedalam genggamannya.
"Love you Ra.. a-aku gak tahu cara yang romantis saat ngungkapin perasaan, jadi aku hanya ajak kamu kesini, pemandangannya disini bagus, pas banget ciptain momen-momen yang kayak difilm-film gitu."
"Kaya gini misalnya.." lanjutnya mencicit. Hening, tidak respon sama sekali dari Nara, tapi kedua pipinya dirambati oleh gurat hangat, tangannya terguncang saat digoyangkan oleh Gema menuntut sebuah jawaban pasti dari dirinya.
"Kok diam aja sih? Jawab dong.. aku jadi gak tahu apa jawaban kamu.."
Nara meneguk salivanya kasar, bukannya tidak bersedia memberikan jawaban positif, tapi otak Nara sedang ngeblank karena ungkapan perasaan yang terlalu tiba-tiba ini, ia--kehilangan kosa kata.
Melihat gejolak batin yang tidak dapat disampaikan melalui kata-kata pun, sehingga Gema pun akhirnya mengangkat suara lagi. "Kalau seandainya kamu belum siap, aku gak maksa kamu untuk jawab sekarang maupun memaksamu untuk memberikan jawaban iya. Kamu berhak menolak ataupun menerimaku. Yang intinya, jangan memberikan jawaban yang enggak sesuai dengan pilihan hatimu."
Nara menggigit bibir bawahnya kalut, ia ingin mengeluarkan sepata kata sebagai jawaban, tapi entah mengapa, saking tegangnya, kalimat-kalimat itu jadi terurung, sebisa mungkin Gema mencoba memasang senyum. Percaya atau tidak, dibalik raut tenangnya, sebenarnya dalam batinnya sudah bergemuruh, ia takut ditolak mentah-mentah oleh Nara.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Apapun jawaban kamu, aku akan menerimanya lapang dada dan kita tetap bisa menjadi sepasang Adik dan Kakak, atau seenggaknya masih bisa menjadi teman."
Tidak benar memang jika Gema berkata demikian. Dibumi ini, tak ada dua orang berbeda jenis bisa kembali menjalin hubungan normal selayaknya teman biasa jika salah satu pihak telah menyatakan perasaan. Tangan Gema melayang lalu singgah di sebelah pipi Nara. Dia mengelusnya lembut, Nara sampai memejamkan mata terlena oleh belaian tangan kekar Gema.
"Kalau kamu masih bingung, kita pulang aja ya? Aku akan memberimu kesempatan satu minggu untuk memikirkan jawabannya." Nara mencekal pergelangan tangan Gema yang hendak beranjak dari sisinya, ia melemparkan gelengan kepala untuk mencegah Gema.
"Gak usah beri kesempatan sampai satu minggu. Aku bisa menjawab sekarang juga." Niat Gema jadi terbatal, Nara kembali meluruskan badan dan mengeratkan genggamannya, ia menghirup udara secara dalam lalu berteriak seperti yang dilakukan oleh Gema tadi.
"GEMA, I LOVE YOU TOO!!!"
Eh? Gema sontak menoleh, menunjukkan raut seolah menuntut sebuah pertanyaan besar. Apakah kamu benar-benar menerimaku? Kira-kira seperti itulah maksud dari ekspresi wajahnya.
Nara yang paham, memberinya anggukkan persetujuan, Gema masih belum percaya sepenuhnya, ia mencoba mencari kebohongan dibalik wajah Nara, tapi yang ada dimatanya tidak ada unsur kebohongan. Nara mendengus kesal karena Gema kelihatan tak mempercayainya. "Yasudah kalo kamu gak percaya, aku tarik kembali kat--"
"Eh--jangan dong!" Cegah Gema dengan cepat. Senyumnya merekah. Melalui cara Nara memperlakukannya selama ini, Gema sesungguhnya sudah menduga, jika Nara memiliki perasaaan yang sama seperti dirinya, tapi entah mengapa ia masih ragu terlepas dari itu.
Gema meraih satu tangan Nara yang lainnya yang sempat terlepas tadi, ia merogoh kantong celana abu-abunya, mengambil sebuah gelang rantai berwarna silver dari dalam sana. "Ini gelang peninggalan Ibu kandung aku." Nara menatap Gema yang memasang sebuah gelang dipergelangan tangannya.
Mengangkat tangannya, Nara meneliti gelang yang memiliki desain klasik, tapi cukup cantik dan bagus. Jika ini milik Ibu kandungnya, sudah tentu ini adalah barang yang amat berharga. Lantas, mengapa Gema memberikan barang ini kepadanya?
"Kalau ini memang milik Ibumu, kenapa kamu memberikannya padaku?"
"Kamu tahu maksudnya?" Nara menggeleng sebagai respon.
Sekali lagi, kedua sudut Gema terbentuk senyuman. Ia menyelipkan anak rambut Nara kebelakang telinga. Sorot matanya terlihat lembut dan teduh. "Bukan hanya sekedar suka. Tapi aku, mencintaimu, sangat."
Gema membawa tangan Nara dan meletakkannya didadanya. "Aku tahu ini masih terlalu dini untuk berbicara mengenai keseriusan . Meskipun kita masih duduk dibangku SMA dan masih golongan remaja. Jangan anggap remeh keseriusan aku. Aku serius padamu."
"Anggap saja gelang itu sebagai lamaran."
"Hah?" Nara dibuat cengo dan terdiam seribu bahasa. Melamarnya?! Jelas ia terkejut bukan main! Karena terus-terang ia belum berpikir sampai kesana.
"Tentu, nanti kalau kita sudah sama-sama dewasa dan matang, aku akan kembali meminang mu dengan mahar yang lebih mewah dan mahal." Jemari Gema turun, mengusap bibir terbelah Nara, belum lagi saat Gema semakin terkikik, menghapus jarak ke wajahnya, Nara menegang.
Tengan Gema menjalar kebelakang, menahan tengkuk Nara. Sepasang mata itu nyaris menjuling tatkala jarak antara paras mereka tinggal dua atau tiga centi lagi.
Detik berikutnya, objek bertekstur kenyal dan lembut menyatu sempurna dengan bibir pink cerah Nara. Gadis itu mencengkram seragam Gema dibagian dada, matanya terpejam gugup, merasa tidak penolakan dari Nara, Gema menggerakkan bibirnya.
Wajahnya miring kekiri dan kenanan, mel*umat pelan dan penuh kelembutan. Nara dapat merasakan saluran cinta dan kasih sayang melalui itu. Tiga detik, Gema mungkin tak akan menjauhkan wajahnya jika saja Nara tak menepuk-nepuk dadanya pertanda jika oksigen disekelilingnya sudah mulai terkuras.
Gema mengusap bibir Nara yang bengkak dan basah akan salivanya dengan jempol. Ia mengais poni Nara sebelum selanjutnya membingkai pipinya menggunakan dua telapak tangannya. "First kiss?"
"Eum?" Nara terlihat gugup. Anggukkannya kaku.
"Good. Pantes aja manis." Celetuknya masem-masem tak jelas.
"Jadi, kalo bukan lagi first kiss, gak akan manis, gitu?" Nara menyerang balik.
"Humm? Selama itu bibir kamu, tetap akan terasa manis. Tapi, aku rasa kamu gak pernah ngerasain kiss-kiss-an sebelum dengan aku. Anak introvert, anti sosial yang suka mengurung diri dikamar. Bagaimana bisa masuk akal pernah berciuman dengan cowok? Sekali pun kamu mengatakan itu bukan first kiss mu, gak akan ada yang percaya. Termasuk aku."
Nara memanyunkan bibirnya. Mau mengelak, tapi memang fakta. Tak ada yang salah dari omongan yang dilontarkan oleh Gema. "Kalo kamu gimana? Udah pernah ciuman dengan mantan-mantan kamu?"
Gema segera menggeleng, wajahnya kembali maju, menyatukan dahinya dan dahi Nara yang terlapisi poni. "Enggak. Aku gak tahu gimana caranya pacaran terlalu romantis-romantis. Lihat saja? Aku mengakui perasaan sama kamu saja, kaku banget kaya tadi."
"Tapi cara kamu cium aku tadi--gak terlalu amatir-amatir banget. Bisa dibilang cukup--mahir."
Tangan Gema kini mengalun indah dipinggang ramping Nara. "Naluri, Nara..aku laki-laki--" Momen manis itu dihancurkan oleh deringan ponsel Gema. Sial! Seharusnya tadi ia mengalihkan nada panggilannya jadi silent mode biar tak ada yang mengusik suasana romantis mereka.
"Sepertinya aku mendengar bunyi dari saku bajumu, Gema? Hpmu kah yang bunyi?"
Gema menarik dirinya dari Nara, mengambil sebuah benda pipi dan memilih mengangkat panggilan yang menjadi sumber pengganggu momen spesial mereka. Melihat siapa si penelepon membuat mimik dongkolnya seketika digantikan raut bingung.
...Bapak g guna!...
"Hallo?"
"Hallo? Gema. Kau lagi dimana? Reza sudah pulang sejak tadi. Tapi, kau? Gak ada yang berubah, masib tetap keluyuran gak jelas. "
Jadi, Papa sudah pulang? Berarti Papa sekarang telah berada dirumah? Itulah isi otak Gema untuk sekarang. Ia dapat mengambil asumsi hanya sepatah kata kalimat yang diucapkan oleh Papanya.
"Heh? Emangnya, apa pedulimu? Lagian, aku bukan anak Perempuan yang diwajibkan mengurung terus dirumah. Anak muda laki-laki butuh healing setiap hari dan setiap saat, Pah."
Tidak berniat menganggu Gema yang sedang gaya obrolan dingin dengan orang diseberang sana, Nara hanya menatap Gema dengan pikiran yang akhirnya tersimpul. 'Jadi, yang nelepon adalah Papa, Gema?'
Terdengar helaan napas kasar dari seberang telepon. "Pulang. Ada yang perlu Papa bicarakan sama kau."
"Ap--"
Tut..tut..tut..
Belum juga tuntas kalimat yang akan disampaikan oleh Gema berikutnya, panggilan sudah diputuskan secara sepihak dari Papanya. "Papa kamu?"
Seraya mengantongi handphone-nya, Gema menoleh kearah Nara lalu mengangguk, ia mengambil tangan Nara, membawanya kedalam genggaman hangat. "Kita harus pulang. Papa aku suruh aku pulang, secepatnya."
Flashback of.
*****