High School Love Story

High School Love Story
S2#27



Devan mengikuti Gia dari belakang,dia takut gadisnya akan melakukan tindakan bodoh lagi.Beberapa saat kemudian mereka sampai di kediaman Gia. Gia memasukkan mobilnya dulu ke pekarangan rumah setelah itu menghampiri Devan di depan.


"Lo gak mau mampir dulu.?" Tanya Gia.


"Next time aja,udah malem gak enak sama orang rumah.Habis ini lo bersih-bersih terus langsung istirahat besok sekolah,gue pulang dulu." Ujar Devan menghidupkan mesin motornyam


"Hati-hati ganteng." Teriak Gia yang masih bisa didengar oleh Devan. Devan pun tersenyum dengan tingkah Gia.


Bagaimana mungkin gue lepasin cewek yang udah lancang masuk ke hati gue,apalagi cewek langka seperti gigi kecil yang hidup seperti lo Giana Zafra.Batin Devan,setelah itu Devan kembali menuju ke bascamenya yang tadi.


Sementara Gia,tidak hentinya tersenyum dari tadi. Dia merasa senang karena perasaannya terbalas tidak bertepuk sebelah tangan. Sampai akhirnya menyadari sesuatu.


"Astaga,gue kan niatnya pulang dari panti mau kasih tau bang Gio soal Zea." Pekik Gia dan langsung berlari menuju kamar Gio.


"Bang,abang tukang bakso... Eh kok malah nyanyi,ish bang,bang Gioo buka dong. Pakek dikunci segala udah kayak anak perawan aja." Teriak Gia karena Gio tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Beruntung Daddy dan Mommynya belum pulang dari pesta.


"Berisik,orang lagi mandi ganggu aja." Seru Gio menatap adik laknatnya itu jengah.


"Bodoamat,abang harus dengerin cerita Gia karena ini penting banget untuk kelangsungan hidup bang Gio."


"Iddih bahasamu udah seperti guru ipa."


"Mau dengerin gak,tapi jangan di sini. Kita pergi ke ruang kerja Daddy aja supaya gak ada yang nguping." Ujar Gia dan langsung menarik tangan Gio,sementara Gio dengan kesal hanya menuruti adiknya itu.


"Coba aja kamu bukan adek abang,udah abang pajang di depan rumah." Seru Gio lirih.


"Gia denger bang."Ujar Gia menatap Gio tajam. Gio langsung terdiam melihat tatapan adiknya itu.


Setelah sampai di ruang kerja langsung saja Gia mengunci pintunya dari dalam.


"Duduk dulu bang,capek Gia" Ujar Gia.


"Lebay,baru jalan dari kamar abang aja udah capek."


"Serah abang deh.Ah iya Gia sampek lupa,apa abang udah dapat informasi soal gadis pemilik surat itu?." Tanya Gia. Gio seketika menatap adiknya dengan intens.


"Kenapa.?"


"Gia tau pemilik surat itu siapa.Dia adalah-" Ucapan Gia terhenti karena dipotong Gio.


"Jangan aneh-aneh abang gak mau bercanda."


"Ish diem dulu Gia belum selesai."


"Dia Zea sahabat Gia yang tinggal di panti itu."Sambung Gia.


Jleb.Gio kaget penuturan Gia,bagaimana mungkin Zea adalah gadis pemilik surat itu.


"Abang gak percaya."


"Tadi Gia kan pergi ke pantinya Zea,terus gak sengaja Gia liat foto Zea pas masih kecil sama seperti foto yang selalu abang tunjukin ke Gia.Zea bilang itu fotonya pas masih kecil." Jelas Gia membuat Gio semakin terkejut.


"Tapi nama dia disurat itu bukan Zea tapi Sisilia." Seru Gio lirih.


"Ya ampun,apa bang Gio tau nama lengkapnya Zea?." Tanya Gia,Gio pun menggelengkan kepala.


"Sisilia Zeha,itu nama panjangnya Zea.Kalau abang gak percaya lebih baik langsung tanya aja sama Zea.Besok libur sekolah abang bisa temuin Zea di panti yang selalu bang Gio datengin saat nganterin Gia." Ujar Gia dan berlalu pergi dari ruang kerja.


"Sisilia Zeha,apa benar lo gadis kecil yang gue cari selama duabelas tahun ini. Kalau pun memang benar gue gak akan pernah ngelepas lo lagi ." Seru Gio lirih.


###


Keesokan harinya.


"Bang Gio mau kemana,kenapa rapi sekali." Seru Rheina di meja makan.


"Bang Gio lagi ada acara sama teman kampusnya Rhein." Gia menjawab.


"Rheina boleh ikut gak bang." Tanya Rheina,seketika Gio menatap Rheina dan Gia bergantian.Gio berharap Gia mau membantunya agar Rheina tidak akan ikut dengannya.


"Ehm Rhein,kan lo udah janji mau temenin gue ke toko buku hari ini." Ujar Gia.


"Ah iya gue lupa,next time aja lah ikut bang Gio." Seru Rheina.


Gio pun merasa lega karena Gia membantunya,sementara Gia tersenyum manis memandang ke arah Gio.Gio sudah tau kalau adiknya seperti itu pasti ada maunya. Saat Rheina mengambil tasnya ke dalam kamar Gia mendekat ke arah abangnya.


"Gia denger ada diskon novel best seller di mall deket kampus bang Gio." Ujar Gia dengan senyum nya yang pasti.


"Sudah kuduga." Seru Gio lirih.


Setelah menunggu Gia dan Rheina berangkat,akhirnya Gio juga berangkat ke panti tempat tinggal Zea.


Sementara Gia dan Rheina.


Gue gak akan biarin Rheina menjadi penghalang bagi bang Gio dan Zea.Gue gak mau Rheina nantinya sakit hati gue sayang juga sama Rheina karena Rheina spupu gue.Batin Gia.


"Kenapa lo ngelamun gitu,lo gak seneng ikut gue?." Tanya Gia kepada Rheina.


"Eh enggak Gi,bukannya gak seneng gue lagi mikir gimana caranya gue bisa jalan sama bang Gio."


"Astaga Rheina." Ujar Gia menatap Rheina jengah,ada perasaan bersalah dan juga kasihan terhadap Rheina.


Beberapa saat kemudian,Gio sampai di panti. Gio sejenak melamun di dalam mobilnya dia takut apa yang dikatakan Gia hanya omong kosong belaka.Gio juga membawa surat itu di dalam kantong jaketnya. Setelah menarik nafas panjang akhirnya Gio turun dari mobil dan masuk ke dalam panti.


"Assalamualaikum,selamat pagi bu." Ujar Gio sopan sambil menyalami pengasuh panti itu.


"Waalaikumsalam nak,iya ada apa.?" Tanya bu panti.


"Saya ingin bertemu dengan Zea bu."


"Oh nak Zea,kalau boleh ibu tau ada urusan apa nak."


"Hanya tentang masalalu bu." Ujar Gio sopan. Sejenak bu panti diam menatap Gio.


"Baiklah kamu tunggu dulu,saya panggilkan nak Zea dulu."


"Mohon maaf bu,apa saya boleh menunggunya di atap?." Tanya Gio,karena Gio ingin mengulang kembali pertemuan pertamanya dengan gadis kecil itu.


"Baiklah silahkan." Ujar ibu panti itu ramah.


Setelah kepergia pengasuh itu,Gio berlalu pergi ke atap sambil menunggu kedatangan Zea.Setelah sampai di atas Gio sejenak mengingat masa kecilnya dulu,tidak berapa lama kemudian Gio mendengar suara seseorang mendekat ke arahnya.


"Mohon maaf dengan siapa." Seru Zea sopan,sejujurnya Zea penasaran siapa orang yang mencarinya bahkan meminta menemuinya di atap.


Gio berbalik,dan seketika itu pandangan mereka bertemu lagi. Baik Gio maupun Zea sama-sama mengingat kejadian seperti ini duabelas tahun yang lalu.


"Sisilia Zeha,gadis pemilik surat yang diam-diam menyukai donatur panti yang ditinggalinya saat ini."


Degg.Zea mematung di tempatnya,mendengar penuturan Gio.


.


.


.