High School Love Story

High School Love Story
Bab 28 Lemah, letih, lesu



Keringat mulai bercucuran di wajah dan tubuh Gavin and the geng.


"Astaga, capek banget mana haus lagi," seru Arsya.


"Ingat, ini puasa," sahut Langit.


"Iya, tahu gue tapi hari pertama puasa membuat gue lemah, letih, lesu," seru Arsya dengan duduk sebentar di bawah pohon pepaya.


Gavin dan yang lainnya ikut beristirahat, sungguh hari pertama puasa sangat menyiksa mereka.


"Woi, kerja malah enak-enakan duduk!" teriak Garra.


"Diam Lo, kalau mau, Lo ikut aja gak usah banyak cingcong," sahut Putra.


"Gue laporin sama Pak Ustadz supaya kalian dihukum," seru Gaza.


"Wah, si kutu buku mau cari gara-gara sama kita," seru Arsya.


Akhirnya dengan terpaksa, Gavin dan kawan-kawannya kembali bekerja karena takut dilaporkan kepada Abi Alwi.


Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, dan matahari sudah berada tepat di atas kepala.


"Semuanya, waktunya shalat Dzuhur, ayo semuanya segera ambil air wudhu setelah shalat nanti sambung lagi pekerjaannya!" teriak Pak Komar.


Semua santri dan santriwati langsung berbaris untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Dzuhur secara berjama'ah.


Setelah melaksanakan shalat Dzuhur, semuanya kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


"Sumpah, gue lemas banget ini serasa mau pingsan," seru Gavin.


Gavin pun duduk di gazebo dan merebahkan tubuhnya di sana, di susul oleh ketiga sahabatnya.


"Gue gak nyangka kalau kehidupan di pondok pesantren itu seperti ini. Gue kira kaya sekolah biasa bisa bebas melakukan apa-apa, mana kita gak boleh berdekatan dengan cewek lagi, sama saja bohong," keluh Arsya.


"Kalau tahu seperti ini, gue ogah masuk pondok pesantren," sahut Putra.


"Heem, lebih enak di rumah saat ini pasti lagi tiduran dengan nyenyak," sambung Langit.


"Geseran, kita juga capek ingin istirahat," seru Garra.


"Apaan sih, cari tempat lain," ketus Arsya.


"Hai bule stres, Lo gak lihat apa kalau semua gazebo penuh sama santri yang lain. Sudah ah, geseran dikit," seru Garra dengan duduk di samping wajah Arsya.


Arsya langsung bangun. "Busyet, Lo gak lihat ini kepala gue, main duduk-duduk saja!" sentak Arsya.


Garra tidak mendengarkan ocehan Arsya, dia mengibas-ngibaskan pecinya sedangkan Ghani dan Gaza memilih duduk di bawah pohon jambu yang berada di depan gazebo.


Gavin, Putra, dan Langit tidak menyahut sama sekali, tenaga mereka habis kalau harus berdebat dengan si kembar.


Arsya melihat dari kejauhan, Aleena dan teman-temannya sedang mengepel setiap ruangan.


"Subhanallah, sempurna sekali ciptaanmu," gumam Arsya dengan senyumannya sembari menopang wajahnya.


Garra menoyor kepala Arsya membuat Arsya kesal.


"Gak salah gue panggil Lo bule stres, memang Lo sudah stres senyum-senyum sendiri," ledek Garra.


"Berani Lo menyentuh kepala gue!" kesal Arsya.


Arsya memiting leher Garra membuat mereka terlibat perseteruan, hingga jatuh ke tanah dan berguling-guling di sana. Ghani dan Gaza hanya melihat mereka, sungguh mereka tidak ada tenaga untuk melerai perkelahian Garra dan Arsya.


"Lah, bukannya itu Kak Arsya dan Kak Garra mereka berkelahi," seru Dira.


"Astagfirullah, ngapain mereka berkelahi seperti itu," seru Alexa.


Vira langsung berlari menghampiri keduanya membuat semua orang menatap sinis ke arah Vira.


"Mau ngapain dia?" sinis Vina.


"Astaga, Kak Arsya, Kak Garra, hentikan!" teriak Vira.


Gavin, Putra, dan Langit yang sudah tertidur sampai tersentak kaget mendengar teriakan Vira begitu pun dengan Abi Alwi dan semuanya yang langsung berlari menghampiri Arsya dan Garra.


"Astagfirullah, hentikan!" teriak Abi Alwi.


"Kak Arsya tidak apa-apa?" seru Vira dengan membantu Arsya bangun.


Alea dan yang lainnya ikut menghampiri Arsya dan Garra.


"Kenapa kalian sampai berkelahi seperti ini? baru saja tadi subuh saya memberitahukan apa saja hal yang akan menggugurkan pahala puasa kalian, dan sekarang kalian justru melakukannya!" tegas Abi Alwi.


"Dia duluan yang mencari gara-gara kepada saya, Ustadz," tunjuk Arsya kepada Garra.


"Kalian juga, kenapa kalian justru membiarkan mereka berkelahi bukannya memisahkan mereka?" sentak Abi Alwi dengan menatap Gavin dan yang lainnya satu persatu.


"Kami sedang lemah, letih, lesu, Pak Ustadz, jadi kami malas dan tidak ada tenaga untuk memisahkan mereka," sahut Gavin dengan menundukkan kepalanya.


"Ayo Kak, biar aku obati luka Kakak," seru Vira dengan menarik tangan Arsya.


"Tunggu, kalian mau ke mana?" tanya Abi Alwi.


"Maaf Ustadz, saya mau bawa Kak Arsya ke UKS dan mengobati luka-lukanya," sahut Vira.


"Lepaskan pegangan tanganmu karena kalian bukan mahram," seru Abi Alwi.


Vira langsung melepaskan pegangan tangannya kepada Arsya.


"Duduk kalian semua, sepertinya kalian benar-benar tidak mengerti dengan apa yang saya jelaskan tadi subuh. Duduklah secara terpisah, antara laki-laki dan perempuan. Bagi santri dan santriwati lainnya, kalian boleh kembali melakukan aktivitas kalian masing-masing."


Semuanya kembali menjalankan kegiatan mereka, sedangkan geng Gavin, Alea, dan si kembar duduk di atas tanah dan Abi Alwi duduk di atas Gazebo.


"Puasa itu memang kalau dirasa akan terasa lemah, letih, dan lesu tapi puasa tidak ada alasan untuk kalian tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Tujuan saya memberikan tugas kepada kalian, supaya kalian tidak bermalas-malasan dengan tidur sepanjang hari," seru Abi Alwi.


"Tapi Ustadz, bukannya di bulan puasa itu tidur adalah sebagian dari ibadah?" seru Putra.


"Kata siapa? hadist yang mengatakan itu sangatlah lemah dan bisa dikatakan hadist palsu, justru di bulan puasa kita harus banyak beraktivitas, berdzikir, beramal, membaca Al-Qur'an. Kalau kalian banyak tidur, berarti kalian sudah melepaskan amal-amal yang seharusnya kalian perbanyak di bulan puasa. Tidur memang tidak dosa, tapi kalian tidak akan mendapatkan cinta dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala."


"Terus, kalau menangis batal tidak puasa kita, Ustadz?" tanya Vina.


"Tidak, menangis tidak akan membatalkan puasa kita, kecuali kalau kita nangis, terus airmatanya kita tampung di gelas lalu diminum, baru itu batal," seru Abi Alwi dengan senyumannya.


"Pak Ustadz bisa saja," seru Vina.


"Baiklah, sekarang kalian lanjutkan kembali pekerjaan kalian. Dan untuk kamu, Arsya dan Garra, kalian pergi ke UKS sendiri jangan sampai kejadian yang seperti ini terulang lagi. Terus, untuk Vira, lain kali jangan menyentuh laki-laki seperti itu karena kalian bukan mahram."


Vira menganggukkan kepalanya lemah, dan Abi Alwi pun segera pergi meninggalkan semuanya.


"Kak Arsya!" seru Aleena.


Arsya menghentikan langkahnya, dan membalikan tubuhnya.


"Ini ada betadine, obati luka Kak Arsya," seru Aleena dengan menundukkan kepalanya.


Seketika Arsya menyunggingkan senyumannya, sedangkan Aleena dan yang lainnya segera pergi meninggalkan para laki-laki tampan itu.


Arsya membalikan tubuhnya dan langsung memeluk Garra membuat Garra terkejut.


"Apaan sih Lo, peluk-peluk gue!" bentak Garra dengan mendorong tubuh Arsya.


"Terima kasih, berkat gue berkelahi sama Lo, Aleena jadi perhatian sama gue," seru Arsya kegirangan.


"Dasar, bule stres!" geram Garra yang langsung pergi menuju UKS.


Arsya kembali memeluk ke tiga sahabatnya dengan suka cita dan menciumi botol Betadine itu membuat Gavin dan yang lainnya mengerutkan keningnya.


"Lo, kenapa?" tanya Gavin.


"Lo gak lihat, dari dada gue keluar banyak bunga dan kupu-kupu," seru Arsya.


"Gila, memang benar Lang, kalau ada bunga dan kupu-kupu yang keluar dari dada si Arsya?" tanya Putra.


"Lo sama-sama gila sama si Arsya, gue bukan anak Indomie yang bisa melihat hal-hal gaib," sahut Langit.


"Lo juga sama gilanya," seru Gavin dengan menoyor kepala Langit.


Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka.