High School Love Story

High School Love Story
Bab 26 Hari Pertama Puasa Part I



Setelah selesai makan malam bersama, kemudian para santri dan santriwati segera masuk ke dalam kamar masing-masing.


Abi Alwi memanggil Genk Gavin, Si kembar, Vira, dan juga Genk Alea untuk menemuinya di kediamannya.


"Saya memanggil kalian, karena ingin memberitahukan bahwa selama kalian mondok di sini, kalian harus mengumpulkan ponsel kalian karena di sini tidak ada yang boleh memegang ponsel," seru Abi Alwi.


"Tapi Pak Ustadz, kalau nanti ada kabar penting dari keluarga bagaimana?" tanya Ghani.


"Tenang saja, tadi saya sudah infokan kepada orangtua kalian jadi kalau ada hal penting, mereka bisa menghubungi saya langsung," sahut Abi Alwi.


"Silakan kalian simpan ponsel kalian di dalam plastik ini, dan jangan lupa ponselnya matikan dulu," seru Umi Annisa.


Semuanya merasa keberatan saat ponsel mereka dikumpulkan, karena ponsel bagi anak muda zaman sekarang sangat penting bagaikan nyawa mereka.


Kalau diibaratkan, anak zaman sekarang lebih memilih ketinggalan dompet daripada harus ketinggalan ponsel.


"Sudah, Abi," seru Umi Annisa.


"Baiklah, sekarang kalian boleh kembali ke kamar kalian dan beristirahatlah," seru Abi Alwi.


"Baik Pak Ustadz."


Semuanya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, Gavin memperlambat langkahnya karena ingin menunggu Alea.


"Kak Gavin jangan dekat-dekat, nanti kita dimarahin," seru Alea.


"Enggak ada siapa-siapa kok, aku cuma ingin ngobrol sebentar sama kamu soalnya sekarang ponsel sudah tidak ada jadi kita tidak bisa chat-chatan lagi," sahut Gavin.


"Ya Allah, tapi kan kita masih satu tempat Kak, dan Kakak juga masih bisa lihat aku," seru Alea.


"Iya sih."


Gavin perlahan mulai mendekati Alea dan ingin menggenggam tangan Alea, tapi tanpa mereka sadari, di belakang ada Pak Komar yang sedang memperhatikan.


"Hai, santri dan santriwati tidak boleh berdekatan seperti itu!" teriak Pak Komar.


Bukan Alea dan Gavin saja yang tersentak kaget, tapi semuanya pun kaget dengan teriakan Pak Komar, yang merupakan guru galak di pondok pesantren itu.


"Mampus Lo Vin, Pak kumis ngamuk tuh," seru Putra.


"Kabur, guys!" teriak Gavin.


Semuanya langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar masing-masing.


Malam ini Gavin dan yang lainnya tidak bisa tidur karena kasur yang keras seperti triplek dan juga gerah tidak ada AC di sana.


"Astaga, gerah banget mana badan gue sakit-sakit lagi," keluh Putra.


"Heem, gak kebayang kita satu bulan di sini, baru satu malam aja sudah menderita," sahut Arsya.


"Bisa diam gak sih kalian? berisik banget, tinggal tidur aja banyak ngeluh. Masih untung kalian gak tidur di atas lantai!" sentak Garra.


Plukkk...


Gavin melempar bantal ke wajah Garra. "Lo yang diam, tidur aja kalian jangan banyak bacot!" bentak Gavin.


"Iya, tapi ocehan kalian itu berisik bikin kita gak bisa tidur!" sentak Gaza.


Plukkk...


Sekarang giliran Arsya yang melempar bantal ke wajah Gaza. "Kalau berisik, kalian pindah aja tidurnya di Aula atau di mushala!" sentak Arsya.


Akhirnya mereka semua malah saling perang bantal satu sama lain hingga kondisi di kamar itu berantakan. Waktu berjalan dengan sangat cepat, pukul 1 subuh semuanya mulai kelelahan dan tertidur.


Tepat pukul 3 subuh, alarm berbunyi dengan sangat nyaring membuat semuanya terkejut. Para santri dan santriwati segera bangun, para santri langsung menuju mushala dan membersihkannya sedangkan para santriwati menuju dapur untuk membantu Bu Farida memasak.


"Astaga, suara apaan sih itu?" kesal Vira.


Alea dan teman-temannya mulai bangun dengan mata yang masih tertutup.


"Itu suara apaan?" tanya Vina dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Mana aku tahu, ini masih jam 3 subuh juga," sahut Alexa.


Pintu kamar mereka ada yang mengetuk, hingga dengan langkah gontai Alea pun membuka pintu kamar.


"Ada apa?" tanya Alea.


"Maaf aku di suruh Pak Ustadz untuk membangunkan kalian karena sekarang waktunya makan sahur," seru salah satu santriwati.


"Ini baru jam 3, kenapa awal banget?" tanya Alea.


"Soalnya para santriwati biasanya harus membantu masak untuk sahur."


"Ya sudah, sebentar lagi kami bangun dan menyusul ke dapur," sahut Alea.


Alea dan teman-temannya langsung memakai kerudung dan dengan langkah gontai karena masih ngantuk, mereka segera menuju dapur.


"Eh tunggu!" seru Alexa.


Semua menghentikan langkahnya. "Ada apa, Alexa?" tanya Dira.


"Si Vira ketinggalan."


"Idih, memangnya kamu kenal sama dia?" seru Vina.


"Eh lupa, kita kan gak saling kenal," sahut Alexa.


Mereka semua pun langsung menuju dapur, sementara itu di kamar Gavin dan kawan-kawan, seorang santri sudah sangat kesal karena sudah lama dia mengetuk pintu kamar mereka, tapi tidak ada satu pun yang bangun.


"Ya Allah, mereka tidur apa pingsan? kok gak ada yang bangun sih?" gumam santri itu.


Akhirnya dia pun memilih pergi dan melaporkannya kepada Abi Alwi.


"Assalamualaikum, Ustadz."


"Waalaikumsalam, ada apa, Roni?"


"Itu Ustadz, kamar penghuni baru susah dibangunin, padahal tadi saya sudah mengetuk pintunya dengan sangat keras dan berteriak juga, tapi tidak ada satu pun yang bangun," sahut santri yang bernama Roni itu.


"Ya sudah, kamu boleh kembali membersihkan mushala."


"Baik Ustadz."


Sepeninggal Roni, Abi Alwi memutuskan untuk membangunkan mereka. Abi Alwi membuka pintu kamar mereka, dan betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi kamar yang sangat acak-acakan.


"Astagfirullah, mereka main perang-perangan atau apa ini?" batin Abi Alwi.


Abi Alwi yang sudah mempersiapkan membawa toa, lalu menyalakannya kemudian berteriak membangunkan semuanya membuat mereka kaget.


"Ayo bangun semuanya!" seru Abi Alwi dengan nada yang lumayan tinggi.


Semuanya langsung terbangun, bahkan Gavin sampai jatuh dari tempat tidurnya saking kagetnya dengan suara Abi Alwi.


"Anjir, pa*tat gue sakit," keluar Gavin keceplosan.


Abi Alwi menghampiri Gavin dan menjewer telinga Gavin.


"Barusan kamu bilang apa?"


"Aduh, ampun Ustadz barusan aku keceplosan," rengek Gavin.


"Usap wajah kamu dan ucapkan istighfar sebanyak sepuluh kali," seru Abi Alwi.


Gavin pun mengikuti perintah Abi Alwi, sedangkan yang lainnya sudah berdiri dengan wajah yang tertunduk. Sungguh mereka sangat takut melihat wajah Abi Alwi.


Sebenarnya wajah Abi Alwi sangatlah tampan dan menyejukkan, tapi entah kenapa Abi Alwi mempunyai aura berbeda yang membuat para santri dan santriwati sangat segan kepada Abi Alwi.


"Sekarang juga, kalian bangun dan bantu santri yang lain untuk membereskan mushala sembari menunggu makanan untuk sahur siap!" tegas Abi Alwi.


"Baik, Ustadz."


Semuanya langsung berlari keluar kamar karena takut dengan Abi Alwi.


"Busyet, bagaimana gue bisa dapetin Aleena? calon mertuanya aja galak seperti itu," batin Arsya.