
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sebelum ashar semuanya sudah menyelesaikan pekerjaan. Para Santri dan Santriwati mulai masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh mereka.
Geng Gavin dan si kembar malah rebahan di atas tempat tidur masing-masing karena merasa lelah.
"Woi, kok malah rebahan semuanya, buruan giliran seorang-seorang yang masuk kamar mandi," seru Ghani.
"Lo aja sana duluan, gue masih capek," sahut Gavin.
"Sama, gue juga masih kelelahan jadi masih ingin rebahan," seru Ghani.
"Kalau begitu, ngapain Lo nyuruh-nyuruh kita?" kesal Putra.
Saking kelelahannya, mereka tak ada yang mau ke kamar mandi duluan, semuanya malah rebahan dan ternyata mereka justru ketiduran.
Sedangkan di kamar Geng Alea, satu persatu mulai masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat ini Alea yang sedang berada di dalam kamar mandi.
"Lex, sepertinya tadi ada yang caper deh mau sok-sokan ngobatin Kak Arsya," sindir Vina.
"Heem, sayang banget Kak Arsyanya kurang peduli," sahut Alexa.
Vira yang mendengar sindiran Vina dan Alexa, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka.
"Maksud kalian apa? aku tahu dari tadi kalian lagi nyindirin aku, terus kenapa memangnya kalau aku caper sama Kak Arsya? masalah buat kalian?" sentak Vira.
"Enggak tuh, masalah apaan? justru kita kasihan aja sama kamu, takutnya kamu sakit hati karena Kak Arsya tidak menyukaimu, melainkan menyukai Aleena sahabat kita," sahut Vina dengan santainya.
"Kalian jangan buat gosip murahan seperti itu, mana ada Kak Arsya suka sama cewek berhijab kaya si Aleena. Hari gini masih zaman ya, pakai hijab kampungan banget, bajunya saja hanya gamis semua gak ada model lain," ledek Vira.
"Wah, nih cewek cari gara-gara sama kita, berani sekali kamu menghina Aleena!" sentak Alexa dengan mendorong tubuh Vira.
Dira dengan cepat menahan Alexa. "Sudah Lex, ingat ini bulan puasa nanti kalau ketahuan Abinya Aleena, kita bisa dihukum," seru Dira.
"Pokoknya, kalian lihat saja aku pasti akan bisa mendapatkan Kak Arsya," geram Vira.
Tidak lama kemudian, Alea keluar dari dalam kamar mandi. Vira menyambar handuknya dan segera masuk ke dalam kamar mandi dengan menubruk tubuh Alea sampai-sampai tubuh Alea terhuyung ke belakang.
"Astagfirullah, Vira kenapa?" seru Alea.
"Biasalah, lagi kumat gilanya," sahut Vina.
Setelah selesai mandi, Alea dan semuanya menuju dapur untuk membantu para santriwati yang lainnya memasak untuk buka puasa.
"Hai guys, sini!" teriak Aleena dengan melambaikan tangannya.
Alea dan yang lainnya pun segera menghampiri Aleena yang sedang memotong-motong sayuran bersama Umi Annisa.
"Assalamualaikum, Umi Annisa!" sapa semuanya.
"Waalaikumsalam, anak-anak. Ayo sini, potong-potong semua sayuran ini ya," seru Umi Annisa.
"Siap, Umi."
Alea, Gabby, Alexa, dan Vina membantu Aleena memotong sayuran, sedangkan Vira memutuskan untuk membantu yang lainnya karena dia tidak mau bergabung dengan Alea and the geng.
Tiba-tiba, santriwati yang bertubuh gempal dan santriwati bertubuh kurus sedang saling beradu mulut membuat Umi Annisa dan Ibu Farida segera menghampiri mereka.
"Astagfirullah, kenapa kalian jadi rebutan spatula seperti ini sih?" seru Umi Annisa.
"Astagfirullah, ya sudah kenapa kalian tidak tukeran tugas saja, kenapa harus rebutan spatula seperti ini?"
"Ani juga katanya tidak mau Umi, takut tergoda juga," sahut Nur si santriwati bertubuh gempal itu.
Umi Annisa dan Ibu Farida menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka pikir ada masalah apa ternyata hanya masalah rebutan tugas.
"Baiklah, yang motong-motong buah-buahan biar Umi saja, kalian mengerjakan tugas yang lain saja. Dan kamu Nur, kamu bisa bantu membuat bumbu di sana."
"Baik Umi."
Perseteruan si gempal dan si kurus pun selesai, membuat Alea dan yang lainnya geleng-geleng kepala.
"Apa-apaan sih mereka, kurang kerjaan saja," seru Alexa.
"Si gemuk itu pantesan gak mau disuruh motong-motong buah-buahan, sudah pasti dia bakalan tergoda, kelihatan dari tubuhnya yang super XL itu," seru Gabby.
"Si Nur, memang makannya jago kalau para santri dan santriwati di sini hanya dikasih jatah makan satu piring, dia suka minta tambah tapi ya begitulah, nunggu yang lain selesai makan dulu nanti kalau nasi dan lauk pauknya ada sisa lebih, baru dia bisa makan lagi," sahut Aleena.
"Astaga, pantesan tubuhnya kaya toren," seru Vina.
"Ishh..ishh..ishh gak boleh bicara seperti itu Vina, kata Abi aku semua manusia itu sama jadi kita jangan menghina kekurangan teman kita sendiri," seru Aleena.
"Oh iya maaf," sahut Vina cengengesan.
"Kamu gak boleh membeda-bedakan orang gemuk dan orang kurus Vin, karena pada dasarnya mereka itu sama, sama-sama makan. Yang satu makan tempat, dan yang satu lagi makan ati," seru Alexa dengan tawanya.
Akhirnya mereka pun tertawa bersama, berbeda dengan Vira yang terus saja cemberut bahkan sekarang Vira terlihat sangat benci sekali kepada Aleena.
***
Tidak terasa, waktu berbuka tinggal setengah jam lagi semuanya sudah siap dan hidangan berbuka pun sudah selesai tinggal di hidangkan saja.
Sementara itu, di kamar Gavin dan yang lainnya, mereka masih terlelap tidur bahkan mereka sama sekali belum mandi.
"Perasaan Bapak tidak melihat Gavin dan yang lainnya?" tanya Pak Komar.
"Mereka dari tadi memang tidak ikut membersihkan mushalla Pak, bahkan kami pun tidak melihat mereka keluar dari kamar," sahut salah satu santri.
"Astagfirullah, pasti mereka tidur," gumam Pak Komar.
Pak Komar pun dengan cepat segera menuju kamar Gavin dan yang lainnya, sesampainya di depan kamar, Pak Komar langsung masuk dan ternyata benar saja, Gavin dan yang lainnya tertidur dengan lelapnya.
"Astagfirullah, bagus ya para santri yang lain sibuk membersihkan mushalla, kalian enak-enakan tidur!" teriak Pak Komar.
Gavin dan yang lainnya tersentak dan langsung bangun mendengar teriakan Pak Komar.
"Kalian tahu ini jam berapa? sebentar lagi waktu berbuka, dan kalian sama sekali belum mandi dan masih kotor seperti itu."
Semuanya kaget, mereka langsung mengambil handuk masing-masing dan masuk ke dalam kamar mandi secara bersamaan.
"Apaan sih, gue duluan."
"Enggak, gue duluan."
Mereka saling dorong dan berdesak-desakan di depan pintu kamar mandi membuat Pak Komar semakin geram.