High School Love Story

High School Love Story
S2#16



Keesokan harinya Gia bersiap berangkat sekolah bersama Rheina,mereka berdua akan diantar Gio sementara Kenzo beberapa hari yang lalu lebih memilih tinggal di apart yang dibelikan olleh orangtuanya.


Beberapa menit kemudian,mereka sampai di sekolah setelah berpamitan dengan Gio mereka berdua turun. Banyak pasang mata yang memandang mereka berdua karena seragam Rheina yang berbeda dari lainnya. Tapi Gia maupun Rheina tidak memperdulikan mereka setelah itu Gia mengantarkan Rheina ke ruang kepala sekolah.


Ternyata Rheina tidak satu kelas dengan Gia melainkan dia satu kelas dengan Kenzo,mengetahui hal itu Rheina sedikit kecewa karena tidak bisa satu kelas dengan spupunya itu.


"Yaudah semoga lo betah di kelas baru lo,lagian kelas kita juga sebelahan nanti ada spupu gue di sana namanya Kenzo." Seru Gia.


"Makasih Gia,gue masuk dulu." Ujar Rheina dan dijawab anggukan oleh Gia.


Setelah itu Gia masuk ke dalam kelasnya dan dia melihat tatapan penuh pertanyaan kepada Gia.


"Kenapa pada liatin gue? gak pernah liat cewek cantik." Seru Gia.


"Semalem lo udah bikin kita kepo,dan sekarang dengan santainya lo kek gak ada rasa bersalah gitu." Seru Iffy kesal.


"Lagian pada kepoan kayak dora." Jawab Gia.


"Giaannaaa." Seru Iffy dan Ansel bersamaan.


"Ciee Ransel sama Stepi kompak." Goda Gia membuat Ansel memutar matanya malas. Sedangkan Iffy tidak terima dirinya dipanggil dengan sebutan Stepi.


"Apa gak terima,mau gelud ayo siapa takut." Seru Gia menantang Iffy.


"Ayo siapa juga yang takut sama Gigi bar-bar kek lo."


"Wah parah lo juga bar-bar neng."


"Tapi lo lebih parah dari gue."


"Lo."


"Lo."


"Berisik sekali lagi kalian gak mau diem gue seret kalian berdua terus gue gantung ditiang bendera." Ujar Zea menatap mereka berdua dengan tajam membuat Gia dan Iffy langsung menghentikan kelakuannya lalu duduk dengan tertib di belakang meja Zea.


Entah kenapa Gia dan Iffy menjadi sangat nurut dengan Zea,padahal sebelumnya Gia maupun Iffy tidak pernah tunduk dengan yang lain di sekolah kecuali dengan Zea. Gia maupun Iffy merasa Zea adalah orang yang bisa menjadi sahabat sekaligus saudara yang senantiasa menasehati mereka berdua meskipun terkadang sikap mereka membuat Zea darah tinggi.


Dan juga yang paling penting karena Zea adalah yang paling waras di antara mereka. Sementara Devan dan Ansel menertawai tingkah mereka.


"Ketannnnn."


"Ranselllllll."


Teriak mereka berdua bersama karena merasa dipermalukan oleh Devan dan Ansel,membuat mereka berdua seketika diam.


"Astaga Gia,Iffy apa kalian bisa kalau sehari saja tidak berteriak." Seru Zea.


"Gue cangtip gue diem Ze." Jawab Gia dengan watadosnya.


"Gue manis gue diem Ze." Sambung Iffy.


Pfffttt. Gia menahan tawanya saat Iffy menyebut dirinya manis,membuat dia melotot ke arah Gia seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Tetapi mereka tetap diam karena tidak mau diceramahi oleh Zea lagi,dibalik sikap lemah lebut seorang Zea tersimpan sikap yang tegas dan mampu membuat lawannya tunduk hanya karena ucapannya apalagi tatapan matanya yang tajam.


Setelah itu kegiatan pembelajaran berlangsung,sampai beberapa jam kemudian bel istirahat berbunyi. Gia mengajak teman-temannya ke kantin karena sedari tadi perut Gia minta diisi makanan.


Saat mereka akan keluar kelas tiba-tiba sudah ada Kenzo dan Rheina di depan kelas.Semuanya terpaku melihat perempuan yang ada di sebelah Kenzo. Memang Rheina merupakan gadis yang manis mempunyai lesung pipi yang bisa menggoda siapapun tapi tidak dengan Devan karena bagi Devan hanya ada satu orang yang beda dari lainnya.


Setelah itu mereka pergi ke kantin,Gia sengaja membuat teman-temannya penasaran dengan perempuan yang dibawa Kenzo. Setelah sampai di kantin.


"Biar gue yang pesen,kalian mau apa." Tanya Kenzo.


"Bakso sama lemon ice." Ujar Gia.


"Samain aja semuanya Kenz." Sambung Devan.


Setelah itu Kenzo beranjak dan pergi memesan pesanan teman-temannya.


"Kenalin dia Rheina anak dari saudara Daddy." Seru Gia membuat semuanya menatap ke arah Rheina tapi tidak dengan Devan yang sibuk dengan game online nya.


"Kenalin gue Steffy panggil aja Iffy ,spupu Gia anak dari saudara tante Dea ." Ujar Iffy.


"Halo Fy." Jawab Rheina.


"Gue Ansel,sahabat Gia." Seru Ansel.


"Halo Ansel." Jawab Rheina.


"Apa." Ujar Devan malas menatap Gia.


"Lo bisa sopan gak sih sama sodara gue." Ujar Gia.


Setelah mendengar ucapan Gia,Devan mengalihkan pandangannya kepada Rheina.


"Devan." Ujar Devan singkat.


"Halo Devan." Jawab Rheina dan hanya dibalas deheman oleh Devan membuat Gia menatapnya jengah. Setelah itu Gia mengembalikan hp Devan bersamaan dengan Kenzo yang datang membawa pesanan mereka.


Di kelas.


"Gi,nanti pulang sekolah temenin gue mau gak." Tanya Devan.


"Emang lo mau kemana."


"Gue mau beli barang buat seseorang."


"Ciee ketann udah punya bebeb aja nih."


"Iya apa tidak."


"Wait,gue hubungin bang Gio dulu soalnya nanti katanya bang Gio mau jemput." Ujar Gia dan dibalas anggukan oleh Devan.


Beberapa menit kemudian setelah mencoba menghubungi Devan berkali-kali akhirnya Devan merespon.


"Halo bang,Gia nanti mau pamit pulang sama Devan soalnya katanya Devan mau beli sesuatu buat pacarnya." Seru Gia,Devan yang mendengar penuturan Gia memutar matanya malas. Memang kalau sudah berurusan dengan Gia membuat emosi Devan up down.


"..........."


"Oke bentar Gia kasih Devan."


"Dev abang gue mau ngomong sama lo." Seru Gia sambil menyerahkan hp nya ke Devan. Devan mengernyit heran tiba-tiba Gia memberikan ponselnya.


"Halo iya bang saya Devan."


".........."


"Siap bang aman." Setelah mengucapkan itu terdengar bunyi telfon yang sudah ditutup,Gia menatap Devan dengan tatapan penasaran.


"Bang Gio bilang apaan." Tanya Gia.


"Tanya aja sendiri." Jawab Devan sengaja memancing emosi Gia,entah kenapa mulai kemaren Devan mempunyai hobi baru yaitu suka membuat Gia kesal,karena menurut Devan wajah Gia akan terlihat sangat lucu saat dirinya kesal.


"Ish bilang gak." Sungut Gia.


"Kepoan lo kek dora."


"Itu kata-kata gue ogeb."


"Bodoamat gak denger."


"Yaudah gue gak mau ikut sama lo."


"Astaga Giana,baperan banget lo jadi cewek."


"Bodoamat gak denger."


"Wih kata-kata gue tuh."


"Bilang gak."


"Oke-oke bang Gio bilang,kalau jam empat sore harus di rumah dan gue harus nganterin lo sampai depan rumah tanpa ada yang lecet sedikitpun."


"Oh."


"What.. Gue bicara panjang lebar dan lo cuma jawab dua huruf laknat itu." Pekik Devan kesal dengan Gia,padahal baru kali ini dia berbicara panjang lebar kepada Gia yang merupakan teman adu bac*t nya.


.


.


.


.