
Di kamar Dea.
"Kapan terakhir anda datang bulan?." Tanya Dokter.
"Entahlah dok,saya lupa."
"Menurut hasil pemeriksaan saya,saat ini ibu sedang hamil. Tapi untuk lebih jelasnya lebih baik ibu segera pergi ke rumah sakit. "
"Baik dok terimakasih."
"Sama-sama,saya permisi."
Setelah kepergian dokter,bi Ima kembali dan memberikan air hangat tadi kepada Dea.
"Bi tolong temani saya ke rumah sakit."
"Baik nya,saya kasih tau supir dulu."
"Semoga aku benar-benar hamil dan ini akan menjadi kado terindah untuk ulang tahun Gavin besok." Ucap Dea lirih
Setelah bersiap,Dea pergi menuju rumah sakit dengan diantar supir dan pembantunya,karena tidak memungkinkan jika Dea harus membawa mobil sendiri.
***
Sesampainya di rumah sakit.
Dea langsung diperiksa oleh dokter Beni kepercayaan keluarga Gavin.
"Selamat nyonya,anda saat ini tengah hamil dengan usia kandungan tiga minggu."
"Kamu tidak berbohong kan Ben?. "
"Kalau saya membohongi nyonya,sama saja saya mencari mati dengan tuan Gavin."
"Baiklah,aku harap kamu tidak memberi tahu Gavin dulu soal ini."
"Baik nyonya."
Setelah itu Dea berpamitan pulang.
Betapa senangnya dia mengetahui sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Di mobil,Dea tidak henti-henti mengelus perutnya yang masih rata membuat bi Ima mengerti kenapa Dea seperti itu.
"Selamat ya nya."
"Hah,iya makasih bi."
"Pasti tuan Gavin akan sangat senang mengetahuinya."
"Biarkan ini jadi kado terindah di saat ulang tahunnya besok bi."
Bi Ima tersenyum mendengar kabar ini.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah.Dea mengernyit heran,karena ada mobil Gavin di halaman.
Saat turun dari mobil. Dea langsung di sambut dan di peluk oleh Gavin. Dea melihat kekhawatiran yang sangat dalam di mata Gavin.
"Kamu kenapa sayang."
"Aku gak papa kok."
"Tapi tadi bi Ima bilang kamu ke rumah sakit. Jujur sama aku."
"Hm,itu cuma kecapean aja makanya pusing."
"Yaudah kita masuk sekarang kamu harus istirahat."
"Gak,lagian udah gak ada kerjaan apa-apa lagi ada Rico yang bisa menghendel semuanya."
"Baiklah kalo gitu."
Saat di dalam kamar. Dea tidak berhenti tersenyum dengan kabar yang di terimanya hari ini. Sementara Gavin masih bersih-bersih di kamar mandi.
Rencananya,Dea akan memberi kejutan nanti saat tengah malam kepada Gavin. Sebelumnya Dea juga sudah minta tolong kepada bi Ima untuk memesankan kue buat Gavin.
.
.
.
Tepat tengah malam,Dea bangun dari tidurnya. Perlahan dia keluar kamar untuk mengambil kue. Setelah itu Dea kembali lagi ke kamar dan menyalakan lilin ulang tahun dan setelah itu membangunkan Gavin.
"Sayang bangun. " Ucap Dea sambil mencium pipi Gavin dengan gemas.
Gavin menggeliat dan berusaha membuka matanya.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucap Dea sambil mencium pipi Gavin.
"Hm,terimakasih istriku yang paling cantik."
"Satu permintaan dulu."
"Aku harap,aku bisa terus bersama kamu selamanya dan juga bersama anak-anak kita nanti."
"Permintaan di terima. Hahahaaa." Tawa mereka berdua . Setelah itu Dea memberikan sebuah kotak kepada Gavin.
Gavin membuka kotak itu dengan perlahan.
Setelah itu,Gavin mengeluarkan air mata dan langsung memeluk Dea.
"Terimakasih sayang,ini kado terindah di dalam hidupku." Ucap Gavin penuh haru.
"Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua."
"Aku janji akan jaga kalian berdua dengan hidup dan nyawa aku."
"Terimaksih sayang."
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu sudah memberikan hal yang terindah di dalam hidup aku. Udah berapa minggu sayang?."
"Kata Beni masih tiga minggu sayang."
"Jadi Beni tau?. Tapi kenapa dia tidak jujur sama aku. Awas saja anak itu."
"Ish,gaboleh gitu. Aku yang minta Beni untuk merahasiakannya."
"Baiklah jika istriku ini yang meminta."
Setelah itu,mereka memakan kue dan melanjutkan tidur kembali.
Terimakasih untuk semua sayang. Batin Gavin.
.
.
.
..
jangan pernah bosen yaa:).