
Back to Gia & Devan.
Setelah puas berkeliling Gia dan Devan pulang membawa beberapa paperbag di tangannya. Awalnya Gia tidak tertarik berbelanja tapi setelah melihat beberapa barang-barang yang menurutnya menarik Gia seperti orang kalap yang berbelanja dan yang paling kesal dengan keadaan itu adalah Devan.
Bagaimana tidak Gia memperlakukan dirinya seperti seorang bodygard yang membawa semua barang belanjaannya dan yang paling penting Devan jadi atm dadakan buat Gia. Devan tidak masalah jika harus membelanjakan Gia sebanyak itu,tapi Devan merasa kesal karena harus mengekori Gia yang tidak hentinya menarik Devan kesana kesini.
Flasback....
"Nyesel gue ajak lo." Seru Devan menatap Gia jengah.
"Pelit amat lo,yaudah biar gue bayar sendiri lagian tadi gue udah mau bayar semua tapi lo nya aja yang maksa mau bayarin." Ujar Gia.
"Astaga Gia,bukan masalah uangnya tapi apa lo gak liat ini udah banyak banget Gia. Kita ke sini naik motor bukan mobil yang gue pikirin bawanya nanti gimana Gigi kecil."
"Oh iya ya,gimana bawanya ini."
"Tuh kan lo bingung sendiri jadinya."
"Yaudah nanti gue telfon orang rumah buat ngambil ini semua."
"Serah lo deh."
Beberapa saat kemudian,mereka berdua sampai di rumah Gia.
"Makasih ya Dev buat belanjaannya."
"Hm".
"Yaudah hati-hati di jalan." Ujar Gia sambil berlalu masuk ke pekarangan rumahnya belum sempat menutup pagar kembali.
"Dasar gak sopan,bukannya disuruh masuk kek apalah basa basi ini udah di suruh pulang."
"Ah iya lupa gue,hehhehe maaf Dev gitu aja marah. Yaudah kebetulan ada mom sama dad didalem yuk masuk." Ajak Gia.
"Next time aja lah,gaenak gue mau mampir udah sore juga ini salam aja sama bokap nyokap lo."
"Oh yaudah hati-hati lo nanti diculik tante-tante." Ujar Gia dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Dasar gigi kecil dengan segala tingkahnya." Seru Devan lirih sambil meninggalkan rumah Gia.
Gia masuk ke dalam rumahnya,tapi dia tidak menemukan siapapun di sana.
"Bi,mom sama dad kemana rumah kok sepi." Tanya Gia kepada bi Jennar.
"Tuan sama nyonya tadi siang berangkat ke London non katanya ada perjalanan bisnis."
"Hah,kenapa mereka gak ngasih tau Gia sih. Terus bang Gio mana?."
"Den Gio bibi lihat tadi masuk ke dalam kamar non."
"Oh makasih bi."
Setelah itu Gia menghampiri Gio di kamarnya. Gia melihat abangnya itu sedang melamun di balkon kamarnya sambil memegang sebuah surat yang Gia hafal.
"Dorr." Teriak Gia.
"Astaga Gia,kalau sampe abang jantungan gimana hah."
"Yaelah maaf bang,lagian abang segitu ngelamunnya sampe ga nyadar Gia masuk ke sini." Ujar Gia sambil melihat surat yang di pegang abangnya itu.
"Abang masih penasaran sama gadis kecil yang abang temuin di panti itu." Tanya Gia.
"Entahlah abang juga bingung."
"Semoga abang cepet ketemu ya sama dia."
"Semoga saja."
"Yaudah Gia mau mandi dulu udah lengket banget ini." Ujar Gia dan dibalas anggukan oleh Gio.
"Kasihan bang Gio." Seru Gia lirih.
Tidak berapa lama kemudian,barang-barang yang ada di mall tadi sampai di rumah Gia. Rheina yang habis beli sesuatu dari luar menatap heran dengan barang belanjaan yang lumayan banyak di ruang tamu.
Sementara di lain tempat.
Kana dan Sharen berada di apart mereka,ya mereka tinggal berdua atas permintaan kedua mami mereka.
"Tugas gue,gue harus bikin orang tersayang Gia membenci Gia." Ujar Kana.
"Terus tugas gue apa." Tanya Sharen.
"Lo bantu gue lah ogeb buat hancurin abangnya Gia." Ujar Kana.
"Oke."
Mereka berdua sudah bertekad akan menghancurkan Gia dan juga Gio. Mereka ingin membalaskan dendam kedua orangtua mereka.
Back to Gia.
"Gi,lo mau ngapain belanja segitu banyak." Tanya Rheina yang sedari tadi kepo.
"Oh itu,tadi gue di ajak Devan belanja. Terus gue malah dibelanjain segini banyak."
"Wah parah lo,ini semua barang-barang mahal Gi."
"Serah lo dah,eh btw bang Gio mana."
"Bang Gio lagi istirhat di kamar. "
"Oh tadinya gue mau ngajak bang Gio jalan." Ujar Rheina,mendengar ucapan Rheina membuat Gia mengernyit heran.
"Yaudah gue masuk kamar dulu." Sambung Rheina dibalas anggukan oleh Gia.
"Apa benar Rheina menyukai bang Gio. Tapi kan kita saudara spupu." Seru Gia lirih.
Setelah itu Gia memasukkan barang belanjaannya ke dalam kamar.
"Astaga,gue lupa mau hubungi mom sama dad." Ujar Gia menepuk keningnya pelan. Gia mengambil ponselnya dan menghubungi orangtuanya melalui vidcall.
Beberapa saat menunggu akhirnya tersambung.
"Mommy." Rengek Gia.
"Iya sayang."
"Mommy sama daddy jahat,kenapa gak ngajak Gia coba."
"Maaf sayang,mom sama dad buru-buru berangkatnya jadi ga sempet ngajak kamu."
"Terus sekarang dad dimana."
"Dad lagi pergi bertemu teman bisnisnya nak."
"Yaudah nanti sampaikan salam cium Gia sama dad ya mom."
"Iya sayang,kamu baik-baik sama bang Gio dan juga Rheina."
"Siap mom."
Setelah itu Gia mengakhiri panggilannya. Gia yang merasa bosan berniat ingin bermain ke panti tempat tinggal Zea. Gia pun berniat ingin mengajak Gio dan Rheina.
"Bang,anterin Gia yuk bosen nih."
"Udah malem Gi,kamu mau kemana."
"Ke panti,mau ketemu sama Zea."
"Kan bisa besok setelah pulang sekolah."
"Tapi Gia mau nginep di sana bang mau maen sama adek kecil yang imut-imut."
"Yakin mau nginep di sana."
"Iya yakin lagian sama Rheina juga kok."
"Yaudah abang anterin kalian tapi abang langsung pulang soalnya tugas kuliah abang masih banyak."
"Oke siap,Gia beres-beres dulu sekalian mau ngajak Rheina." Setelah itu Gia keluar dari kamar Gio dan masuk ke dalam kamar Rheina yang kebetulan pintunya terbuka.
"Rhein,lo mau ikut gue gak."
"Kemana."
"Ke panti ketemu sama Zea terus kita nginep di sana."
"Emm gimana ya..."
"Ayolah Rhein,gue bosen di sini gak ada mommy sama daddy. Lagian lo kan gak pernah ke pantinya Zea."
"Yaudah gue ikut gue beresin barang dulu."
"Oke baby." Setelah itu Gia masuk ke dalam kamarnya dan membereskan seragam dan buku untuk sekolah besok.
Maaf Rhein bukannya gue gak suka lo sama bang Gio,tapi yang gue lihat bang Gio selalu jauhin lo dan itu udah ngebuktiin kalo bang Gio gak suka sama lo.Batin Gia. Memang Gia sengaja ingin membuat Rheina tidak berharap banyak karena Gia tau Gio masih mengharapkan gadis kecil itu.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah sampai di panti. Awalnya Gia mengajak Gio untuk masuk dulu ke dalam tapi Gio menolak karena hari sudah mulai larut.
"Bang Gio yakin gak mau masuk dulu." Tanya Rheina.
"Enggak Rhein next time aja."
"Yaudah hati-hati bang nanti kalo udah sampe jangan lupa kabari Gia " Ujar Gia.
Setelah itu Gia menarik tangan Rheina untuk masuk ke dalam,Gia melihat Rheina yang dari tadi memandang Gio tanpa berkedip.
Sepeninggalan Gia dan Rheina,Gio masih belum menjalankan mobilnya. Dia merasa ada hal aneh di pikirannya.
"Kenapa sepertinya gue gak asing sama tempat ini."Seru Gio lirih.
Ah gak mungkin dia ada disini dulu aja gue tanya sama pengurus di sini gak ada yang tau soal foto gadis kecil itu. Batin Gio dan berlalu pergi meninggalkan panti.
.
.
.