
Hari ini sekolah Gia di sibukkan dengan kegiatan perencanaan camping di bogor,jadi kelas mereka free sampai jam terakhir.
Di kantin.
Mereka berlima sedang nongkrong dikantin,sementara Kenzo dan Rheina masih ada rapat osis.
"Gue pengen ikut,tapi gue yakin pasti gak akan di izinin." Seru Gia sedih.
"Kenapa Gi." Tanya Ansel
"Pasti Gia gak akan diizinin karena gak ada bang Gio,begitupun gue kalau gak ada Gia gue pasti gak di izinin juga." Sambung Iffy.
"Tapi kan nanti ada Kenzo yang jagain lo berdua." Ujar Devan.
"Iya juga sih tapi kemungkinannya kecil." Ucap Iffy. Sementara Gia diam sibuk dengan pikirannya,dia sedang menyusun kata-kata yang tepat buat pamit ke orangtuanya.
Devan menatap Gia yang sedang melamun.
"Biar gue yang ngizinin lo Gi." Ujar Devan santai. Tidak ada jawaban dari Gia,dia masih sibuk dengan pemikirannya.
"Woy Giaaaa,Devan bicara sama lo tuh." Teriak Iffy di telinga Gia.
Gia terlonjak kaget mendengar suara saudari spupunya yang nyaringnya naudzubillah.
"Bisa gak sih kalo teriak gak usah di kuping gue nanti gue budek gimana coba." Sungut Gia kesal.
"Tinggal ganti aja gendang telinganya sama siput."
Gia menatap Iffy tajam,tapi yang ditatap malah tidak peduli dan sibuk memakan baksonya. Sampai akhirnya Zea yang angkat bicara.
"Giana,tadi Devan bilang kalau dia yang mau ngizinin lo untuk acara camping nanti." Ujar Zea.
"Hah,lo beneran Dev." Tanya Gia mengalihkan tatapannya ke arah Devan.
"Hm." Jawab Devan.
"Oke nanti malem gue tunggu lo ke rumah." Ujar Gia.
"Terus yang ngizinin gue siapa." Seru Iffy.
"Ansel." Jawab Devan dan Gia kompak.
"Whatt,kenapa gue." Tanya Ansel.
"Udah lo gak perlu pura-pura lagi sama kita,lo ada hubungan kan sama Steffy." Ujar Gia.
"Jangan ngaco lo." Sungut Iffy.
"Terus yang gue liat sama Devan di mall beberapa hari yang lalu itu apa lo jalan kan sama Ansel." Goda Gia.
"Eh bentar Gi,kayaknya kalian salah paham gue itu ada di mall sama Iffy ya karena mau beli sesuatu." Bela Ansel.
"Beli sesuatu sampe harus pegangan tangan gitu." Ujar Gia lagi.
Flashback on.
Saat Devan dan Gia berada di restoran di mall itu,secara tidak sengaja Gia melihat Ansel dan Iffy bergandengan tangan di sana.
"Eh Dev coba liat belakang." Ujar Gia.
"Gak penting."
"Ih Devan bentaran aja."
"Apa sih Gi,gajelas lo."
"Makanya liat dulu baru bac*t."
Devan dengan malas mengikuti perintah Gia, tatapan Devan terhenti kepada Ansel dan Iffy.
"Terus kenapa?." Tanya Devan menatap Gia dengan jengah.
"Mereka sweet banget sih,di sekolah aja sok jaim-jaiman di sini udah kayak lem lalat aja."
"Sumpah muka lo ngeselin banget kalo lagi sok manis Gi."
"Dasar ngerusak suasana. Udah ah gue mau samperin mereka dulu." Ujar Gia beranjak dari kursinya tapi Devan lebih dahulu menahan tangan Gia.
"Udah gak usah,kita gak perlu urusin urusan mereka mending sekarang lo makan habis itu kita pulang." Seru Devan. Akhirnya mau tidak mau menuruti perintah Devan.
Flash.
"Oh itu takut Iffy kesasar Gi,iya kesasar." Ujar Ansel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya Gi,lagian lo gak langsung nyamperin kita waktu itu jadinya kan salah paham sekarang." Sambung Iffy.
"Serah lo pada." Ujar Gia.
........
Sesuai janjinya tadi di sekolah,Devan benar-benar pergi ke rumah Gia untuk meminta izin atas Gia. Jam delapan malam Devan sudah berada di pekarangan rumah Gia.
"Permisi selamat malam Giana nya ada bi." Tanya Devan sopan ke bibi Jenar.
"Iya selamat malam den,non Gia ada di dalam. Temannya non Gia ya?."
"Iya bi."
"Mari masuk den,bibi panggil non Gia dulu."
Setelah itu bi Jenar mengantar Devan ke ruang tamu,setelah itu bi Jenar pergi ke ruang keluarga dimana semua keluarga Gia tengah berkumpul.
"Maaf tuan nyonya,di depan ada temannya non Gia." Ujar bi Jenar.
"Oh paling itu Devan bi,makasih ya bi tolong buatkan minum." Seru Gia. Bi Jenar lalu pamit pergi ke dapur untuk membuat minuman.
"Dad,mom teman Gia yang tadi Gia ceritain ada perlu sama daddy sama mommy. Mau kan bertemu mereka." Tanya Gia.
"Yaudah ayo kita ketemu teman kamu,ayo sayang." Ajak Dea kepada Gavin.
"Hm." Jawab Gavin.
Setelah itu mereka bertiga pergi ke ruang tamu menemui Devan,sementara Rheina dan Gio berada di ruang keluarga.
"Selamat malam om,tante." Ujar Devan sopan sambil menyalami mereka berdua.
"Selamat malam,silahkan duduk."
"Langsung ngomong aja Dev."
"Ehem begini om tante mohon maaf sebelumnya,kedatangan saya ke sini karena ingin berminta izin atas Gia. Di sekolah kami mengadakan kegiatan camping di bogor,dan Gia ingin sekali ikut tapi Gia bilang dia harus meminta izin dulu kepada om dan tante. Saya berjanji akan menjaga Gia dengan selalu." Jelas Devan.
"Sayang,apa benar kamu ingin sekali ikut camping itu." Tanya Dea kepada putri kesayangannya itu.
"Iya mom,tapi Gia takut dad tidak mengizinkan Gia." Jawab Gia menunduk.
"Jelas dad tidak akan memberikan kamu izin karena kamu tidak izin langsung sama daddy." Ujar Gavin tegas,membuat Gia menelan ludahnya kasar.
"Maaf dad,Gia cuma takut daddy gak akan kasih izin Gia seperti waktu itu." Seru Gia lirih sambil menahan air matanya.
"Hey kenapa menangis hm,daddy cuma bilang kamu gak minta izin langsung sama daddy. Kenapa harus Devan yang minta izin sayang apa kamu mempunyai hubungan yang serius dengannya." Ujar Gavin.
Blushhhh....
Wajah Gia memerah mendengar ucapan terakhir daddy nya. Devan yang mengerti keadaan Gia
"Maaf om kalau kedatangan saya lancang,saya hanya ingin Gia mengikuti acara camping itu." Ujar Devan.
"Tentu tidak Devan,om senang sekali Gia mempunyai teman yang berjiwa pemberani seperti kamu. Om mengizinkan Gia asalkan kamu harus memenuhi janji kamu untuk menjaga Gia jangan sampai putri om ini terluka." Jelas Gavin. Mendengar itu Gia sangat bahagia.
"Terimakasih daddy." Ujar Gia dan berhambur ke pelukan Gavin.
"Mommy gak dapat pelukan juga?."
"Uhhh mommy selalu saja bikin Gia terharu." Ujar Gia dan berhambur ke pelukan Dea.
"Udah dek,kamu gak malu diliatin Devan." Seru Gio yang tiba-tiba sudah ada di ruang tamu bersama Rheina.
"Biarin dia tau sifat Gia yang sebenarnya seperti apa bang." Jawab Gia polos.
"Serah lo dek." Ucap Gio jengah.
"Yaudah kalian ngobrol dulu,kami berdua izin masuk ke dalam karena masih ada keperluan."Ujar Gavin dan diangguki oleh mereka semua.
"Meskipun kamu gak mau minta izin,dad pasti akan kasih izin sama kamu." Ujar Gio.
"Hah kok bisa." Tanya Gia.
"Ya bisa lah Gia sayang,gue tadi udah minta izin duluan sama uncle dan aunty untuk camping ini dan mereka berdua ngizinin gue." Ujar Rheina,Gia hanya diam sambil mencerna ucapan Rheina. Memang terkadang otak Gia itu lemot.
"Maksudnya Rheina itu,kalau Rheina saja sudah di kasih izin yang pasti kamu juga akan dikasih izin Giana." Jelas Gio menatap adiknya jengah.
"Ah iya aku paham sekarang." Seru Gia dengan wajah tanpa dosanya itu membuat mereka menggelengkan kepala.
Keluarga yang lucu. Batin Devan.
Setelah itu mereka mengobrol santai,sampai akhirnya Devan pamit pulang karena malam sudah mulai larut.
.
.
.
Jangan pernah bosan untuk membaca ya kak:)