
Entah kenapa.Devan tidak suka melihat Gia dekat dengan Rizki.
Sepulang sekolah.
"Gi yakin gak mau ikut gw sama papa,nanti gw anterin lo."
"Enggak deh Fy,salam aja sama om sama tante.Soalnya gw lagi ada janji sama bang Gio."
"Yaudah tu papa udah dateng,gw duluan babay."
"Eh Gia,gak sekalian ikut om." Tawar Fano.
"Next time aja om,lagi ada janji sama bang gio."
"Yaudah kita duluan ya Gia."
"Iya om hati-hati."
Semenjak menikah dengan Fano,Dena memilih tinggal di rumah utama keluarga Steve sementara Dea tinggal di rumah yang sudah di hadiahkan sebagai hadiah pernikahan oleh kedua keluarga mereka.
Gia sedang menunggu Gio untuk menjempunya.
Byurrr...
Basah sudah seragam Gia karena ulah Devan,Devan sengaja melewati genangan air di depan Gia dengan menggunakan moge nya membuat Gia kesal.
"Bisa bawa motor gak sih."
"Duhh maaf ya gw gak liat ada air di sini."
"Basi lo."
"Kok marah sih."
"Bac*d."
"Galak banget neng."
"Pergi lo,sakit mata gw liat lo."
"Awas sak.." Belum sempat menyelesaikan ucapannya Rizki turun dari mobilnya dan nyamperin Gia.
"Kenapa Gi." Tanya Rizki.
"Eh gak papa kak,tadi ada orang sableng gak liat-liat jalan jadinya gini."
"Dev,bisa gak sih lo gak usah gangguin Gia. Gia salah apa sih sama lo." Ucap Rizki.
"Gak usah ikut campur." Ucap Devan datar dan berlalu pergi.
"Udah kak,gw gak papa." Ucap Gia.
"Nih." Rizki menyerahkan jaketnya kepada Gia.
"Apa kak."
"Buat nutupin rok lo yang basah."
"Hm makasih kak,nanti gw cuci dan gw langsung balikin sama kak Iki."
"Sans aja Gi.Gw anterin pulang mau?."
"Eh gak usah kak,gw udah di jemput itu udah sampe.Gw duluan ya kak,nanti jaketnya secepatnya gw balikin."
"Hati-hati."
Setelah itu Gia masuk ke dalam mobil dengan muka yang di tekuk mengingat perbuatan Devan.
"Gimana hari pertama sekolah.Muka di tekuk gitu udah kayak keset aja."
"Ih bang Gio tau gak,tadi tuh ya Gia ketemu sama cowo sableng yang ngeselin banget. Liat nih gara-gara dia seragam Gia jadi basah awas aja kalo besok masih jahilin Gia lagi." Cerocos Gia.
"Hahahaha."
"Kenapa ketawa coba."
"Gak papa,lucu aja pas Gia lagi ngambek."
"Maaf,maaf abang becanda."
Tidak ada sahutan dari Gia,tandanya Gia benar-benar marah dengan Gio.Gio paham dengan sikap Gia,kalau Gia sudah diam tandanya dia marah.
"Yaudah maaf deh,nanti abang traktir es cream yang banyak.Jadi ke mall kan?." Tanya Gio.
"Pulang."
Satu kata yang keluar dari mulut Gia,tanpa menjawab Gio langsung pulang. Dia tau suasana hati Gia tidak baik sekarang,mau semarah apapun Gia kepada Gio,itu tidak akan membuat Gio juga marah kepada Gia karena Gio terlalu sayang dengan Gia.
Sesampainya di rumah.
Biasanya Gia akan teriak-teriak saat pulang sekolah,tapi kali ini Gia diam dan langsung masuk kamar melewatkan Mommy dan Daddynya yang berada di ruang tv.
"Kenapa adik kamu Gio." Tanya Gavin yang memang paling sensitif kalau sudah menyangkut Gia.
"Biasa Dad,Gio salah ngomong tadi."
"Yaudah sayang kamu bersih-bersih habis itu makan dan istirahat biar Daddy yang samperin Gia." Ucap Dea.
"Iya mom."
"Sayang samperin Gia sana,aku masih mau siapin makan siang untuk Gio." Perintah Dea.
"Apapun untuk kalian semua." Ucap Gavin beranjak pergi,masih sempat dia mencium kening Dea.
Sesampainya di depan kamar Gia.
"Sayang,Dad masuk ya." Ucap Gavin pelan.
"Hm."
"Kenapa Gia,cerita sama Dad."
"Bang Gio ngeselin banget Dad,masak Gia cerita panjang lebar malah di ketawain."
"Terus Gia marah?."
"Iyalah,kan gak lucu."
"Yaudah nanti Dad bicara sama bang Gio."
"Makasih Dad,tapi temenin Gia ya ke mall,ada diskon buku novel Dad."
"Siap tuan putri,Dad siap-siap dulu."
"Oke pabosss." Ucap Dea berlagak hormat kepada Gavin membuat Gavin gemas dengan putrinya itu.
Beberapa saat kemudian Gia sudah rapi dengan gayanya yang sangat elegan,meskipun masih kelas satu SMA tapi gaya Gia sudah seperti anak kuliah.Dea selalu mengajarkan Gia tentang style,karena dulu saat masih SMA Dea juga seperti itu.
Di ruang keluarga ada Gio yang sedang makan sambil nonton tv di temani Mommy nya,dan juga Gavin yang sudah selesai bersiap.
"Mom,Gia pamit dulu ya pinjem Dad bentar mau beli novel.Mom mau titip apa?." Tanya Gia.
"Mom nitip Dad aja lah sayang."
"Ish tenang mom nanti Gia ikat Dad biar gak ngelirik kanan kiri."
"Hahahaha" pecah tawa mereka.
"Bang Gio nitip apa." Tanya Gia cuek.Mau semarah apapun Gia terhadap Gio,Gia tetap menghargai Gio itu yang Gio suka dari Gia.
"Nitip youghurt strawberry aja Gi."
"Yaudah Gia pamit dulu."
Ucap Gia berlalu pergi menarik tangan Dadnya,kadang sikap Gia seperti anak kecil,kadang juga bersikap dewasa. Gavin maupun Dea tidak mempermasalahkan hal itu,yang penting Gia sehat dan selalu ceria itu hal utama yang selalu di prioritaskan di keluarga Gavin.
.
.
.
✨📍