
Alea mulai membuka matanya, dia celingukan dan di depannya dia melihat seorang pria duduk dengan santainya namun wajahnya dia tutupi dengan topeng.
"Siapa kamu? kenapa kamu menculikku? lepaskan aku?" teriak Alea.
"Jangan teriak-teriak cantik, slow saja karena sebentar lagi pujaan hatimu akan segera ke sini untuk menjemputmu," sahut Azura.
Dan benar saja, di luar terdengar suara motor berhenti dan itu ternyata Gavin. Gavin melihat di sekeliling rumah kosong itu, banyak sekali yang menjaga dan semuanya orang itu memakai topeng wajah membuat Gavin tidak bisa melihat wajah mereka.
"Brengsek mereka semua, kenapa mereka memakai topeng," gumam Gavin dengan geramnya.
Dua orang tiba-tiba menghampiri Gavin dan langsung meringkus Gavin, lalu menyeret Gavin untuk masuk ke dalam rumah kosong itu.
Gavin tidak bisa berkutik, dia hanya pasrah mengikuti langkah orang-orang pengecut itu.
"Bos, ini orangnya sudah datang."
Gavin melihat Alea yang terikat di atas kursi. "Sayang."
"Kak Gavin."
"Siapa kalian? lepaskan Alea dan jangan sakiti dia!" bentak Gavin.
"Santai Bro, jangan main urat," seru Azura dengan menepuk pelan pipi Gavin.
"Jangan sentuh wajahku, aku gak Sudi disentuh oleh pria pengecut seperti kalian!" bentak Gavin.
Bugg...
"Kak Gavin!" teriak Alea.
Satu pukulan mendarat di perut Gavin. "Kurang ajar, berani sekali kamu menyebutku pengecut," geram Azura.
"Kalian memang pengecut, buktinya kalian semua menutup wajah kalian dengan topeng karena supaya kalian tidak ketahuan kan? apa itu namanya, kalau bukan pengecut?" ledek Gavin.
Bughh..bughh...
Azura kembali memukul Gavin membuat Gavin lemas dan terduduk di lantai.
"Jangan pukul Kak Gavin!" teriak Alea.
"Lihatlah, gadis cantik itu sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu kepadanya," seru Azura dengan senyumannya.
Gavin semakin emosi, dengan secepat kilat dia bangkit dan memukul Azura membuat Azura memundurkan langkahnya.
"Brengsek kamu pengecut, jangan pernah kamu menyentuh Alea atau aku akan bunuh kamu!" teriak Gavin.
Gavin hendak menyerang Azura, tapi anak buah Azura dengan cepat memegang kedua tangan Gavin dan tentu saja Azura dengan leluasa bisa menyiksa Gavin.
"Hentikan aku mohon, jangan siksa Kak Gavin lagi!" teriak Alea dengan deraian airmata.
Azura seperti diledek oleh Gavin, karena walaupun wajah Gavin sudah penuh dengan darah dan luka, tapi Gavin tetap bisa menertawakan Azura sehingga Azura semakin emosi dan memukuli Gavin dengan membabi buta.
Gavin tersungkur ke lantai dengan darah yang sudah keluar dari hidung dan juga mulut, sedangkan Alea sudah menangis tersedu-sedu melihat laki-laki yang sangat dia cintai terluka seperti itu.
"Siksa dia!" teriak Azura.
Dua anak buah Azura langsung menyiksa Gavin yang saat ini sudah tidak bisa berdaya lagi.
Azura menghampiri Alea dan melepaskan ikatan di tubuh Alea.
"Ja-ngan sen-tuh Al-ea," seru Gavin lemas.
"Kalian boleh keluar, dan jangan masuk sampai aku suruh kalian," seru Azura.
"Baik, Bos."
Anak buah Azura pun keluar, Gavin sudah terkulai lemas di lantai, dia sudah tidak punya tenaga lagi bahkan kakinya yang satu sudah tidak bisa digerakkan akibat diinjak secara brutal oleh anak buah Azura.
Sreekkkkk....
Baju Alea ditarik paksa oleh Azura sehingga bagian dadanya hampir saja terlihat.
"Kamu mau ngapain?" seru Alea dengan memundurkan langkahnya.
"Jangan takut cantik, mari kita bersenang-senang terlebih dahulu sebelum azal menjemput kalian berdua."
Alea hendak lari tapi dengan cepat Azura menangkap tubuh Alea dan menampar Alea membuat Alea lemas.
Gavin hanya bisa mengepalkan tangannya, dia berusaha ingin bangkit tapi tidak bisa karena kondisinya yang sudah sangat parah.
Azura memaksa Alea untuk melayani na*si bejadnya, Alea berusaha memberontak tapi tenaga Alea tidak sebanding dengan Azura.
"Kak Gavin tolongin aku!" teriak Alea.
"Ja-ngan sen-tuh Al-ea," lirih Gavin dengan terus berusaha bangkit namun tetap tidak bisa.
Azura menyeret Alea ke tempat yang agak gelap, dan memperkosanya di hadapan mata kepala Gavin. Meskipun Gavin tidak bisa melihat secara langsung, tapi Gavin bisa melihat kaki Alea yang meronta-ronta sembari berteriak meminta tolong.
Suara tangisan Alea terdengar sangat menyayat hati, airmata Gavin menetes, tangannya mengepal. Gavin sungguh menjadi laki-laki yang tidak berguna karena tidak bisa menolong gadis yang sangat dia cintai itu.
Beberapa saat kemudian, Azura pun menyudahi kegiatannya. Azura membenarkan celananya dan tertawa di balik topeng yang dipakainya itu, mata Gavin tampak memerah menahan emosi. Gavin melihat tato di pinggang sebelah kanan Azura, tato itu berbentuk kepala iblis.
Azura menghampiri Gavin dan berjongkok di hadapan Gavin.
"Lihatlah, aku sudah menikmati tubuh gadis yang sangat kamu cintai bahkan di hadapan kamu sendiri. Sekarang, silakan kalian melepas rasa cinta satu sama lain karena setelah itu, azal akan segera menjemput kalian," seru Azura.
Azura bangkit, dan dengan santainya sembari bersiul melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Gavin melihat Alea merangkak mengambil baju yang masih bisa dia pakai, dengan deraian airmata. Gavin tidak bisa diam saja, dengan sekuat tenaga Gavin bangun dan menyeret sebelah kakinya yang terasa sangat sakit itu. Gavin menghampiri Alea, dia melepas jaket yang dia pakai kemudian memakaikannya kepada Alea yang saat ini tampak menangis dengan tatapan kosongnya.
Gavin menarik tubuh Alea ke dalam dekapannya, airmata Gavin mengalir dengan sendirinya. Tubuh Gavin bergetar hebat, merasakan sakit yang teramat sangat luar biasa.
"Maafkan aku Al, aku tidak bisa menolongmu. Aku memang laki-laki yang tidak berguna," seru Gavin dengan bibir yang bergetar.
Alea hanya bisa menangis sejadi-jadinya di pelukan Gavin, begitu pun dengan Gavin entah apa yang sekarang Gavin rasakan, yang jelas saat ini hatinya begitu teramat sakit.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil yang pergi berhamburan. Ternyata mobil itu milik Azura dan anak buahnya, karena saat ini tempat itu sudah dikepung oleh kepolisian.
Arsya dan Langit yang merasa curiga dengan kepergian Gavin, memutuskan untuk menyuruh orang supaya mengikuti Gavin dan pada akhirnya memang benar, kalau Gavin dalam bahaya.
Arsya dan Langit langsung memberitahukan kepada Papi Rifki, lalu dengan cepat Papi Rifki meluncur ke TKP beserta dengan anak buahnya.
Arsya, Langit, dan Papi Rifki sangat terkejut melihat kondisi Gavin dan Alea yang jatuh pingsan dalam posisi sedang berpelukan. Mereka pun langsung membawa Gavin dan Alea ke rumah sakit. Bahkan Putra yang saat ini memang sudah pindah tinggal di Malaysia, segera terbang ke Indonesia saat mendengar keadaan Alea dan Gavin.
- END -