
Seperti biasanya pagi pagi sekali rita sudah berangkat kesekolah merazia siswa yang tidak standar potongan rambutnya atau memakai make up terlalu tebal
Sambil membawa buku tata tertib berdiri didepan gerbang bersama yuda ini adalah tugas ketua dan wakil osis menertibkan siswa bandel di sekolah
"Aduhhh mampus gua" ucap adi seraya menepuk jidat
"kenapa?" tanya irfan dengan heran melihat tingkah kebingungan adi
"nohhh liat digerbang ada rita bisa punah nih jambu kakak tua gua" yang hanya di balas gelak tawa dari sahabatnya
" hayy rita sayang" ucap adi sok manis berharap mendapat toleransi dari cewek killer ini
"hayy hayy adi genteng, emm wangi banget pagi pagi, tapi rambutnya rapi gak nih buka coba topinya"
"Aduhhh gak usah ya udah rapi kok"
"gak ada coba sini gua liat"
" nahhh loh panjang gini, potong ya adi sayang"
"Aduhhh rita sayang incess nya aku jangan ya besok janji deh gua benerin"
"gak ada sini, mau gua apa yuda aja yang potong" kata rita dengan senyum jahatanya
"yuda aja deh dari pada elu yang ada ancur rambut kesayangan gua" adi pasrah karena gimanapun mau ngelak gak bakal bisa kalau udah berhadapan sama ratu killer
Siswi yang make up tebal tak luput dari razia ratu mereka diberi pilihan mau dihapus sendiri atau dihapus ratu
"mau gua apa lu sendiri yang hapus nih?
" yuda aja boleh gak" jawab devi centil
"kagak ada modus lu" dibarengi tawa yang lainnya
Memang rita terkenal tegas tidak pernah membedakan sahabat dengan yang lainnya saat razia
Tiba tiba sosok arga keluar dari mobil sportnya anggun bagai pangeran negeri dongeng
"bebeb emess guaa, teriak rita sambil membelalakan mata
" bebeb siapa? Tanya yulia yang sedari tadi menemani rita didepan gerbang
"itu lohh bebeb emess arga" jawab rita tetap dengan ekspresi kagum
Yang lain hanya menatap rita sambil geleng geleng kepala
"kumat deh ngayalnya "
"selamat pagi pak arga ganteng" sapa rita antusias
"pagi" jawab arga datar tanpa ekspresi
"banyak banget pak bawaannya saya bantuin ya"
"gak usah saya bisa sendiri, ini berat" ucap arga ingin menghindar dari siswi resek ini secepat mungkin
"ehhhh teriak rita tersandung batu dan melemparkan badannya kedepan"
Arga refleks memeluk rita agar tidak terjatuh dan melempar bukunya hingga berserakan.
Mereka tertahan dalam posisi itu beberapa saat saling menatap jantung rita dan arga sama sama bergemuruh
"kenapa nih hati gua" gumam arga yang menyadari ada yang aneh dengan hatinya
"bapak kalau dari deket makin manis ya" ucap rita centil sambil mengerlingkan matanya
"arga yang refleks kaget dengan ucapan rita melepaskan pelukannya pada rita hingga rita terjatuh ke lantai
" awww bapak kok dilepasin sih kan sakit kepala incess kepentok"ucap rita sambil mengaduh
"maaf saya reflek" arga cuek sambil merapikan bukunya yang berserakan
rita bangun dan merapikan posisinya membantu arga merapikan bukunya tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, arga menatap rita tanpa melepas tangan yang tidak sengaja digenggam lagi lagi mata mereka kembali bertemu arga menemukan kesejukan dimata coklat rita
" pak jangan gitu banget liatin saya iya saya cantik, tar bapak naksir lagi kalau lama lama"
Arga reflek menarik tangannya pergi meninggalkan Rita sendiri, dengan kesal karena merasa paginya telah diganggu belum lagi tadi dirumah dia terus saja ditanyai tentang usianya yang belum juga menikah bahkan terancam dijodohkan
" siall ada aja yang bikin kesel gak dirumah gak disekolah" umpat tidak senang arga
Ditempat lain rita sudah berkumpul dikelas dengan geng Girls nya heboh karena barusan dipeluk pak arga
"ehhh ehhh,, Girls" teriak heboh rita
"apaan sih luuu, teriak teriak bikin budek aja" jawab jutek wanda
"gua barusan di peluk bebeb emesss pak arga gua sayang"
"Haahhh" serius lu reaksi kaget semua seolah tak percaya
"serius lahh, nihh wangi parfumnya masih nempel" rita cengar cengir membayangkan adegan tadi
Canda mereka berakhir saat pak leon guru fisika memasuki kelas.