High School Love Story

High School Love Story
Bab 35 Alea Dalam Bahaya



Malam pun tiba...


"Bang, Mommy sama Daddy belum pulang bahkan tidak biasanya ponsel keduanya tidak aktif," seru Gabby.


"Apa? mereka belum pulang?" sahut Gavin kaget.


Di saat keduanya terlihat panik, tiba-tiba ponsel Gavin berbunyi dari nomor yang tidak dikenal.


Gavin segera mengangkat teleponnya dan betapa terkejutnya Gavin saat mendengar kabar buruk yang diterimanya.


"Siapa, Bang?" tanya Gabby.


Gavin dengan cepat menutup sambungan teleponnya, dan berlari disusul oleh Gabby. Mereka masuk ke dalam mobil, Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Gabby sedikit takut.


"Ada apa Bang, sebenarnya?"


"Kita harus segera ke rumah sakit."


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Setelah bertanya, seorang perawat membawa Gavin dan Gabby ke ruangan dimana Mommy Gea berada.


Langkah keduanya sangat berat saat melihat seseorang terbaring kaku di atas ranjang dengan tubuhnya ditutup oleh kain putih.


Perlahan, Gabby melangkahkan kakinya menghampiri ranjang itu. Dengan tangan yang bergetar, Gabby membuka penutup tubuhnya dan seketika Gabby menutup mulutnya dan airmatanya menetes.


"Mommy, kenapa Mommy seperti ini? bangun Mommy jangan bercanda, ini gak lucu," seru Gabby dengan deraian airmata.


Sedangkan Gavin hanya bisa terdiam membeku, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat wajah cantik Mommynya babak belur bahkan yang lebih menyakitkan lagi, ada bekas 3 tembakan di tubuh Mommynya.


Airmata Gavin terus saja mengalir di pipi Gavin.


"Mommy bangun, ayo kita pulang. Kenapa Mommy ninggalin Gabby secepat ini, Gabby masih membutuhkan Mommy!" teriak Gabby histeris.


Gavin menghampiri Gabby dan memeluknya. "Kenapa wajah Mommy babak belur Bang, siapa yang sudah melakukan semua ini? Bang, tolong bangunkan Mommy dan ajak dia pulang."


Gavin semakin mengeratkan pelukannya, airmatanya semakin deras dia tidak menyangka kalau Mommynya akan pergi dengan mengenaskan seperti itu.


"Siapa yang sudah membunuh, Mommy?" batin Gavin.


Bibir Gavin begitu bergetar, antara sedih dan marah menjadi satu.


Tiba-tiba, ponsel Gavin kembali berbunyi. Gavin mengangkat telepon itu dan lagi-lagi membuat dada Gavin terasa sangat sesak.


"Gab, aku keluar dulu sebentar, nanti aku hubungi Langit dan yang lainnya untuk menemani kamu," seru Gavin.


Gabby tidak menjawab, dia terus saja menangis dengan memeluk Mommynya. Sementara itu, Gavin segera berlari keluar dia mendapat telepon dari rumah sakit lain tentang kondisi Daddynya.


Gavin menghubungi Langit dan yang lainnya untuk segera ke rumah sakit menemani Gabby, sedangkan dirinya sendiri langsung pergi menuju rumah sakit tempat Daddynya berada.


Beruntung dompet Daddy Victor tidak terbakar, sehingga dokter bisa menghubungi Gavin.


Perasaan Gavin sudah tidak menentu, dia bingung sebenarnya ada apa ini? kenapa kedua orangtuanya mengalami hal sedemikian rupa dalam waktu yang bersamaan.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gavin sampai di rumah sakit yang dituju. Gavin segera menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh pihak rumah sakit.


Betapa terkejutnya Gavin saat melihat keadaan Daddynya yang sangat mengenaskan.


"Ada apa dengan Daddyku?" tanya Gavin dengan bibir yang bergetar.


"Pasien mengalami luka bakar yang sangat parah, beruntung ada orang yang menyelamatkan pasien dan segera membawa pasien ke rumah sakit ini," sahut salah satu dokter.


Dengan langkah yang tertatih-tatih, Gavin menghampiri Daddy Victor. Airmata dan emosi Gavin sudah tidak terkendali lagi.


"Siapa yang sudah melakukan semua ini kepada Daddy?" seru Gavin dengan deraian airmata.


Gavin menangis sejadi-jadinya dan terduduk di lantai membuat perawat dan dokter merasa sangat sedih melihat keadaan Gavin.


"Aaaaaarrrrrgggghhhh...."


Gavin berteriak sekuat tenaga melampiaskan kesedihannya. Napas Daddy Victor sudah sangat cepat, pertanda kalau keadaannya sudah sangat kritis, hingga beberapa detik kemudian tangan Daddy Victor terkulai tepat di depan wajah Gavin yang terduduk karena lemas.


"Maaf Mas, pasien sudah meninggal dunia," seru dokter.


Malam ini dunia Gavin seakan hancur karena dalam waktu bersamaan kedua orangtuanya meninggal.


Sementara itu, Alea baru saja mendapat telepon dari Langit mengenai apa yang sudah terjadi kepada Gavin dan Gabby. Alea pun dengan cepat menuju rumah sakit dengan ditemani Papi Rifki, namun sayang di perjalanan mobil mereka dihadang oleh dua mobil.


"Kamu harus tetap diam di dalam mobil, jangan buka mobil ini apa pun yang terjadi."


"Tapi Papi mau ke mana? Papi jangan keluar."


"Tenang sayang, Papi bisa urus mereka."


Papi Rifki mengambil pistol yang dia simpan dibawa jok mobil, kemudian keluar dari dalam mobil.


"Hati-hati, Pi."


Papi Rifki berdiri di depan mobilnya. "Siapa kalian? kenapa kalian menghadang mobil saya?" tanya Papi Rifki.


Papi Rifki hendak mengeluarkan pistolnya, tapi dengan cepat salah seorang dari mereka menendang Papi Rifki sehingga Papi Rifki tersungkur dan pistolnya terlempar jauh.


"Kurang ajar, kalian."


Papi Rifki mulai menyerang orang-orang tidak di kenal itu, namun mereka terlalu banyak membuat Papi Rifki kewalahan.


"Papiiii!" teriak Alea.


Mereka menyiksa Papi Rifki sampai Papi Rifki babak belur dan tidak berdaya, Alea yang melihat itu tidak bisa diam saja dia mencari ponselnya untuk menghubungi polisi tapi ponselnya tertinggal di rumah karena Alea pergi terburu-buru.


"Ah, ponsel aku ketinggalan di rumah," gumam Alea.


"Buka pintunya."


Suara gedoran kaca membuat Alea terkejut, dia sudah mulai ketakuatan.


"Ayo buka atau aku pecahkan kaca mobil ini!"


Alea pun akhirnya membuka pintu mobilnya, dan orang itu dengan cepat membawa Alea masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Papi Rifki tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan saat ini pandangan Papi Rifki sudah mulai kabur dan sedetik kemudian, Papa Rifki jatuh tak sadarkan diri.


Alea di bius, sampai-sampai Alea tidak sadarkan diri dan dibawa ke sebuah bangunan kosong.


"Ini Bos, gadis ini adalah pacarnya Gavin."


"Ternyata gadis ini cantik juga," seru Azura.


Azura menyuruh anak buahnya untuk mengikat Alea.


***


Keesokan harinya....


Gavin dan Gabby sangat merasa terpukul karena kedua orangtuanya meninggal dalam waktu bersamaan dan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


Gavin terlihat celingukan, dia mencari keberadaan Alea namun sayang semenjak malam, Alea tidak datang untuk menemuinya.


"Alea ke mana? kenapa dia tidak datang, padahal untuk saat ini hanya dia kekuatanku," batin Gavin dengan tatapan kosongnya.


Tiba-tiba Arsya dan Langit datang menghampiri Gavin.


"Vin, ada berita buruk. Maminya Alea mengatakan kalau dari semalam Alea tidak pulang, bahkan Papinya di temukan tidak sadarkan diri di tengah jalan," bisik Arsya.


Lagi-lagi Gavin membelalakkan matanya, sungguh dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa semua orang yang dia sayangi dalam masalah, siapa orang dibalik semua ini.


"Apa kamu bilang?"


Gavin hendak bangkit, tapi ponselnya kembali bergetar dan seseorang mengirimkan foto Alea yang sedang terkulai lemah.


✉️"Datanglah ke tempat ini sendirian, jangan coba-coba bawa teman atau lapor ke polisi, karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kekasih cantikmu ini."


Gavin kembali mengepalkan tangannya, kali ini dia benar-benar sudah sangat emosi dan kehilangan akal.


"Tolong kalian jaga Gabby, aku pergi dulu sebentar."


"Kamu mau ke mana, Vin?" tanya Langit.


Gavin tidak mendengarkan Langit, dia langsung menaiki motornya dan pergi ke alamat yang sudah di kirim oleh seseorang itu.


"Brengsek, aku tidak akan mengampuni kalian karena aku yakin kematian kedua orangtuaku juga ada hubungannya dengan kalian," geram Gavin.


Gavin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, dia tidak mau sampai terlambat dan kehilangan orang yang sangat dia sayangi untuk kesekian kalinya.