High School Love Story

High School Love Story
S2#01



Duapuluh tahun kemudian.


"Selamat pagiii semuaaa,banggg nanti anterin Gia yaaa." Teriak perempuan cantik yang sedang menuruni tangga.


"Sayang jangan teriak begitu,ini masih pagi nanti suara kamu hilang." Ucap Gavin dengan penuh perhatian.


Gia adalah anak kedua dari Gavin dan Dea _Giana Dwi Zafra Raymond,Gia empat tahun lebih muda dari Gio.Sekarang Gio duduk di bangku kuliah,dia juga sambil membantu Gavin di kantor karena nantinya Gio yang akan menggantikan Gavin.


Gavin sangat menyayangi anak perempuannya itu,karena di balik kecantikan dan keceriaan seorang Gia terdapat suatu hal yang sewaktu-waktu akan menghilangkan nyawa Gia.


Gio juga sangat menyayangi adik perempuannya itu,apapun yang Gia mau,Gio selalu menurutinya. Gio juga tidak pernah berkata kasar apalagi sampai membentak Gia.


Sementara Dea sangat bahagia dengan keluarganya sekarang,karena mereka semua menyayangi satu sama lain.


"Sayang,hari ini kan hari pertama Gia sekolah.Nanti di sekolah Gia harus sopan dengan semua orang jangan pernah menjahili teman-teman Gia ya." Ucap Dea sambil mencium pucuk kepala Gia.


"Siap mom."


"Gia aja nih yang dapet morning kiss,Gio nya engga." Ucap Gio pura-pura marah.


"Anak sulung mommy. Cup!." Dea juga mencium kening Gio.


"Daddy gak dapet mom." Cemberut Gavin.


"Dad biar Gia aja yang cium." Ucap Gia dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Gavin. Gavin membalasnya dengan mencium pucuk kepala Gia.


Seperti itulah keluarga Gavin dan Dea di pagi hari,selalu saja ada tingkah dari Gio dan Gia yang membuat suasana rumah mereka terasa ramai.


Beberapa saat kemudian,sesuai janjinya Gio mengantarkan Gia ke sekolah.


"Bang,nanti kalau gak ada yang mau temenan sama Gia gimana."


"Hanya orang bod*h yang gak mau temenan sama adik abang yang lucu ini."


"Nanti kalau ada yang gak suka sama Gia gimana bang."


"Bilang sama abang,udah jangan takut gitu nanti Gia pasti punya banyak teman di sana."


Sebenarnya Gia adalah orang yang tidak peduli dengan apapun selain keluarganya,hanya saja Gia merasa kali ini akan ada yang beda.


___**___**___


Sesampainya di sekolah.


"Gia hari ini langsung ke ruangan kepala sekolah." Ucap Gio.


"Yaudah Gia masuk dulu ya,abang hati-hati nyetirnya."


"Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi abang." Ucap Gio.


"Hm."


Cup. Gio mencium pucuk kepala Gia.


Setelah turun dari mobil,Gia berdehem.


"Seru apa engga ya sekolah di sini."


Setelah itu,Gia masuk ke dalam mencari ruangan kepala sekolah.


Brukkk...


Awww. Ringis Gia.


"Yang ada itu jalan pakek kaki."


"Kalo gak ada mata ya gak bisa liat jalan."


"Kalo gak ada kaki ya gak bisa jalan ogeb." Ucap cowok itu dan berlalu pergi.


"Ih gak minta maaf main pergi aja dasar gak sopan." Sungut Gia kesal. "Awas aja kalo ketemu lagi." Sambung Gia.


"Lo gak papa."


"Eh,gak papa kok kak."


"Murid baru ya."


"Iya,ini mau cari ruangan kepala sekolah."


"Yaudah kakak anter."


"Makasih kak."


"Rizki Wijaya."


"Giana Zafra."


"Nama yang bagus,btw kenapa pindah sekolah."


"Pengenn aja kak."


"Ini ruang kepala sekolah kamu masuk aja."


Beberapa saat kemudian Gia masuk ke dalam sementara Rizki masih menunggu Gia di depan.


"Sangat lucu." Ucap Rizki.


"Eh kak Rizki masih di sini."


"Iya mau nganterin kamu ,kelas berapa."


"10 ipa 1."


"Wah kelas unggulan dong."


"Hehehe mungkin iya kak."


"Nanti kalau ada apa-apa cari aku aja,aku kelas 11 ipa 2. Aku juga ketua osis di sini."


"Oke siap kak,btw boleh gak aku panggi kamu kak Iki aja biar enak gitu."


"Boleh dong cantik."


Blushhh wajah Gia langsung memerah,tapi Gia yang memang polos orangnya tidak menyadari hal itu.


Rizki mengantarkan Gia ke kelasnya.


.


.


.


Semoga suka yaa:)