High School Love Story

High School Love Story
S2#23



Devan menggendong Gia dengan hati-hati karena dia takut melukai Gia.Devan seketika menjadi panik karena merasa Gia tengah pingsan. Devan sempat memanggil nama Gia berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari Gia.


Akhirnya Devan sampai di persimpangan yang tadi dia bertemu dengan Kenzo.


"Loh Dev,Giana kenapa." tanya Kenzo panik.


"Nanti kita bicara di pos aja,kasian Gia kayaknya pingsan." Ujar Devan.


"Biar gue yang gantian gendong." Seru Kenzo.


"Gue masih kuat." Jawab Devan berlalu meninggalkan Kenzo di belakang.


Sesampainya di pos,Devan dan Gia dihampiri beberapa anggota osis dan temannya.


"Fy,bantuin gue masukin Gia ke tenda dia pingsan." Ujar Devan.


Iffy mengiyakan,mereka pun membantu Devan untuk memasukkan Gia ke dalam tenda.Saat ingin keluar dari tenda,Devan melihat telapak tangan Gia yang tergores karena ada bekas darah yang sudah mengering.


"Fy lo bawa obat p3k." Tanya Devan.


"Gak bawa Dev,kenapa."


"Telapak tangan Gia luka."


"Yaudah biar gue tanya dulu ke bu Syifa." Ujar Rheina dan berlalu meninggalkan mereka.


Tidak berapa lama kemudian,Rheina kembali dengan membawa obat p3k di tangannya dengan telaten Devan mengobati tangan Gia tanpa mau dibantu orang lain. Awalnya Iffy dan Rheina bersikeras ingin mengobati tangan Gia,tapi setelah dibentak Devan baru mereka membiarkan Devan mengobati tangan Gia.


Gue harap ini terakhir kalinya lo terluka Giana.Batin Devan.


Setelah mengobati tangan Gia,Devan ingin beranjak tapi tiba-tiba Gia mengeluh dan langsung menarik tangan Devan setelah itu memeluknya.


"Gue takut sendirian,di sana gelap gaka da siapapun.Plis jangan tinggalin gue." Ujar Gia terisak.Mendengar itu Devan tersentuh hatinya melihat Gia yang ketakutan sambil menangis.


"Ehm gue di sini,gue gak akan pergi gue janji." Jawab Devan membalas pelukan Gia. Gia mendongak menatap wajah Devan dengan tatapan sendunya.


"Makasih lo mau selametin gue Dev,padahal gue selalu ngeselin."


"Mendingan sekarang lo istirahat,dan jangan sampai terluka lagi." Ujar Devan.


"Tapi gue gak papa Dev,gue udah sehat."


"Yaudah gue panggil Iffy dan yang lainnya dulu."


"Sekali lagi makasih Dev."


"Hem."


Astaga,perasaan apa ini.Batin Gia dan juga Devan di dalam hatinya.


Setelah itu Devan keluar dari tenda dan memanggil temannya yang lain untuk menemani Gia.


"Ya ampun Gia,kenapa lo tadi malah nyusul kita buat cari kayu bakar."Ujar Iffy.


"Gue bosen aja di sini." Jawab Gia.


"Lo gak tau seberapa paniknya kita ngeliat lo hilang." Sambung Rheina.


"Gue juga gak tau kenapa gue bisa kesasar." Seru Gia bingung.


"Sudah,yang penting sekarang Gia selamat. Lain kali kalau mau ikut kayak tadi jangan sama kelompok lain." Ujar Zea.


"Makasih lo semua udah peduli sama gue." Ujar Gia,mereka berempat pun berpelukan.


Tidak berselang lama kemudian Kenzo menyusul mereka.


"Gia,lo beneran gak papa." Tanya Kenzo yang khawatir.


"Iya gue gak papa untung tadi ada Devan yang nemuin gue kalau engga,entahlah mungkinn sekarang tinggal nama doang." Ujar Gia tersenyum lirih.


"Syukur lo gak papa,gue tadi takut banget lo kenapa napa,apalagi om Al sama tante Dea nyariin lo dari tadi." Ujar Kenzo.


"Astaga,gue lupa kalau mereka titip pesen buat lo secepatnya harus hubungi mereka." Sambung Kenzo.


"Yaudah gue mau hubungi Daddy sama Mommy dulu." Ujar Gia dibalas anggukan oleh Kenzo,setelah itu Kenzo izin keluar.


Sesampainya di luar,Kenzo menghampiri Devan dan Ansel untuk berterimakasih.


"Dev,makasih lo udah selamatin adek gue.Dan gue minta maaf soal tadi sore,gue sempet marah gara-gara lo ninggalin Gia sendirian." Jelas Kenzo.


"Kok bisa Gia tersesat di hutan,padahal di setiap jalur ada petunjuknya." Seru Ansel .


"Itu yang gue pikir dari tadi. Pas gue lagi cari Gia ada satu persimpangan yang tanda panahnya itu tidak sesuai dengan jalur yang seharusnya kita lewati.Kemungkinan besar ada orang yang memang sengaja mengubah tanda itu untuk mencelakai Gia." Jelas Devan.


"Tapi siapa,setau gue Gia gak pernah punya musuh di sekolah." Ujar Ansel.


"Atau mungkin ada yang memang sengaja melakukan ini karena tidak suka dengan Gia." Sambung Kenzo.


Mereka bertiga tenggelam di pikirannya masing-masing.


"Kenz,gue harap setelah kejadian ini kita harus saling menjaga Gia karena gue yakin setelah orang itu tau Gia selamat,tidak menutup kemungkinan dia akan terus mencelakai Giana." Ujar Devan.


"Gue juga berpikir seperti itu Dev." Jawab Kenzo.


"Lo suka sama Giana." Tanya Ansel .Membuat Kenzo ikut menatap ke arah Devan.


Deg.Devan mematung dengan pertanyaan Ansel,Devan tidak tau harus jawab apa karena dia masih belum bisa memastikan perasaannya sendiri.


"Entahlah." Jawab Devan dan langsung beranjak meninggalkan mereka berdua.


Devan sengaja menjauh dari Ansel dan Kenzo karena ingin menyampaikan sesuatu kepada anak buahnya,ingatkan kalau Devan mempunya mafia yang tidak diketahui orang-orang termasuk Ansel sahabatnya sendiri.


Perintahkan beberapa orang untuk menjaga gadis yang ada didalam foto ini tanpa ada kesalahan atau salah satu dari kalian akan membayarnya dengan nyawa keluarga kalian.Isi pesan itu.


Devan mengirimkan pesan kepada seorang tangan kanannya yang berada di markas DEV'S DEVIL'S,tidak lupa juga Devan mengirimkan foto Gia.


Sementara Gia.


Gia mencoba menghubungi orangtuanya.


"Halo."


"Iya sayang,Gia dari tadi Mom nanyain kamu terus nak." Ujar Gavin.


"Maaf Dad,tadi Gia lagi bareng Iffy,Rheina dan juga Zea."


"Tapi kamu baik-baik saja kan nak,tadi mom mu mencemaskan kamu."


"Iya Dad,Gia baik-baik aja. Gia happy di sini." Seru Gia terpaksa berbohong,karena kalau sampai Daddynya tau kejadiann tadi bisa dipastikan Gia akan dijemput malam itu juga oleh Daddy nya.


"Syukur kalau gitu,bentar Dad panggilin Mommy dulu." Gavin memanggil Dea yang sedang berada di dapur.


"Halo sayang Giana anak Mommy apa kamu di sana baik-baik saja nak." Seru Dea dengan nada yang sangat mencemaskan Gia.


"Astaga Mommy,Gia baik-baik aja di sini.Maaf tadi Gia tidak menghubungi Mom ,karena kegiatan di sini sangat seru sekali sampai Gia kelelahan." Ujar Gia dengan nada senang supaya Mommy nya tidak mengkhawatirkannya.


"Ah syukurlah kalau kamu baik-baik saja,bisa gila Mom kalau kamu sampai kenapa-napa.Kalau perlu malam ini juga Mom nyusul kamu ke bogor." Jelas Dea panjang lebar.Itulah sifat Dea yang cerewet dan selalu dirindukan oleh keluarganya.


"Yasudah sekarang udah malem banget,Mom harus istirahat di sini Gia masih ada kegiatan lain." Ujar Gia.


"Iya sayang,kamu jangan terlalu kelelahan.Nanti kalau kamu sudah bosan di sana biar bang Gio yang jemput."


"Siap ibu negara,yaudah Gia tutup dulu salam peluk dan cium buat kalian berdua." Seru Gia setelah itu menutup sambungan telfonnya.


Maafin Gia,Daddy Mommy.Gia gak mau kalian cemas.Batin Gia.


Saat mau menyusul Iffy dan yang lainnya tiba-tiba bu Syifa masuk ke dalam tenda Gia.


"Giana kamu beneran tidak apa-apa?." Tanya Bu Syifa khawatir.


"Iya bu saya tidak papa,maaf kalau merepotkan ibu dan semua rekan yang ada di sini."


"Yasudah kamu gak usah pikirin soal itu yang terpenting sekarang kamu selamat.Ibu kembali ke pos dulu." ujar bu Syifa dan berlalu meninggalkan Gia.


Sementara di salah satu tenda yang lain.


"Dasar Devan sialan,kenapa dia harus menemukan Gia." Ujar Kana emosi.


"Sabar Kana ini masih permainan awal." Seru Sharen.


"Sepertinya rencana kita kurang kejam untuk melenyapakan seorang gadis manja keluarga Raymond." Ujar Kana dengan pikirannya yang mulai kotor.


.


.


.