
Flash back on....
Jovan dulu mempunyai sepupu yang bernama Xavier, Xavier adalah satu-satunya keturunan Wild Blood yang sangat penakut bahkan dia akan keringat dingin saat melihat darah berbeda dengan yang lainnya yang tampak pemberani.
Sehingga keluarga Wild Blood selalu menyembunyikan Xavier dan tidak ada yang menyangka kalau pria culun dan penakut itu adalah keturunan kelompok Mafia bernama The Blood.
Dulu Jovan sering mengajarkan Xavier supaya tidak menjadi orang yang penakut, tapi tetap saja Xavier tidak bisa melakukan apa yang Jovan dan saudara-saudara yang lainnya lakukan.
Hingga, satu persatu keluarganya tewas dengan cara yang mengenaskan dan Xavier menyaksikan itu semua. Terakhir, dia menyaksikan Jovan yang terbunuh juga oleh Mr.G yang tidak lain adalah Papanya Gea.
Dari sana, Xavier mulai berubah apalagi Jovan adalah orang yang sangat dekat dengannya.
"Aku harus berubah, semua keluargaku tewas hanya tinggal aku satu-satunya keturunan Wild Blood yang masih hidup," gumam Xavier.
Xavier saat ini tinggal di sebuah hutan, karena kalau dia tidak kabur, sudah dipastikan dia pun akan tertangkap dan tewas juga.
Xavier berusaha bangkit dan hidup apa adanya di hutan itu, dia membuat sebuah gubuk untuk dia tinggal. Dari sana dia mulai mencari makanan dan mau tidak mau Xavier harus membunuh binatang untuk dia makan.
Awalnya dia tidak berani, tapi lama kelamaan Xavier justru berubah menjadi psikopat kejam. Puluhan tahun dia tinggal di hutan dan sudah terlatih, bahkan Xavier yang culun dan penakut sudah tidak ada lagi karena Xavier sudah berubah menjadi pria psikopat yang sangat kejam dan tidak mempunyai perasaan.
Di dalam hutan, Xavier bertemu orang yang saat itu sedang bertapa di dalam gua yang terkenal sangat angker. Orang itu mengaku berusia ratusan tahun tapi wajahnya seperti pemuda yang baru berusia puluhan tahun, awalnya Xavier tidak percaya tapi lama kelamaan Xavier justru mengikuti cara orang itu melakukan hal-hal yang diluar nalar dan orang itu juga yang mengajarkan Xavier beladiri dan banyak hal.
Flash back off...
"Lihatlah Jovan, sekarang aku sudah menjadi pria yang kamu inginkan dan aku pastikan sekarang keturunan Mr.G akan musnah sampai ke akar-akarnya," gumam Xavier dengan senyumannya.
Putra kebanggaan Xavier yang bernama Azura dilatih menjadi anak yang sangat hebat, Azura seumuran dengan Gavin dan saat ini Xavier memerintahkan putranya itu untuk memusnahkan semua keturunan Mr.G.
Mommy Gea saat ini sedang berada di sebuah panti asuhan, Mommy Gea memang setiap bulan selalu menyempatkan diri untuk pergi ke panti asuhan memberikan bantuan untuk anak-anak panti yang kurang beruntung.
Sementara itu, Daddy Victor sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota ditemani oleh sopir pribadinya.
Setelah sedikit berbagi, Mommy Gea pun memutuskan untuk pulang. Mommy Gea mengendarai mobilnya seorang diri dan dia menyadari kalau saat ini dua buah mobil sedang mengikutinya.
"Perasaan dua mobil itu dari tadi ngikutin aku terus, siapa mereka?" gumam Mommy Gea.
Mommy Gea yang memang mempunyai kemampuan beladiri yang tidak bisa diragukan lagi merasa santai saja.
"Sepertinya aku sudah lama tidak berolahraga, bolehlah saat ini aku berkeringat sedikit," gumam Mommy Gea dengan senyumannya.
Mommy Gea menghentikan mobilnya di jalan yang lumayan sepi dan benar saja, dua mobil itu langsung berhenti dan beberapa orang berpakaian hitam serta memakai topeng wajah keluar dari dalam ke dua mobil itu.
"Oke, ayo kita olahraga," gumam Mommy Gea.
Mommy Gea pun keluar dari dalam mobilnya. "Siapa kalian? kenapa dari tadi kalian mengikuti mobilku?" seru Mommy Gea.
"Sudah jangan banyak bicara, serang wanita itu!" teriak salah satu orang itu.
Tanpa aba-aba mereka pun menyerang Mommy Gea, tentu saja dengan senang hati Mommy Gea melawan mereka semua dan perkelahian pun tak terelakan lagi.
Cukup lama Mommy Gea melawan semuanya dan dia pun sudah terlihat sangat kelelahan, tapi sayang orang-orang itu sedikit pun belum ada yang tumbang.
"Sial, kenapa mereka tidak ada yang kelelahan?" batin Mommy Gea.
Hingga di saat Mommy Gea lengah, salah seorang dari mereka memukul tengkuk leher Mommy Gea dengan balok sampai Mommy Gea tersungkur dan jatuh tak sadarkan diri.
"Bawa, wanita itu."
Mereka pun membawa Mommy Gea ke suatu tempat, setelah sadar Mommy Gea membuka matanya dan terlihat ruangan itu sangat pengap dan penuh dengan debu serta hanya cahaya dari ventilasi saja yang menerangi ruangan itu.
Pintu pun terbuka, membuat Mommy Gea mendongakkan kepalanya. Beberapa orang datang dan Mommy Gea memicingkan matanya.
"Apakabar, Gea!" seru Xavier.
Mommy Gea mengerutkan keningnya. "Siapa kamu?"
Mommy Gea mulai mengingat-ngingat, hingga akhirnya Mommy Gea ingat karena Xavier dulu banyak sekali yang membully.
"Kenapa kamu melakukan semua ini? ada masalah apa kamu denganku? perasaan aku tidak mengenalmu, bahkan aku tidak pernah ikut membullymu," seru Mommy Gea.
Xavier tertawa, lalu dia menghampiri Mommy Gea dan berjongkok di hadapan Mommy Gea.
"Ternyata kamu masih cantik seperti dulu, namun sayang secantik apa pun kamu, aku sangat membencimu karena Papa kamu sudah membunuh semua keluargaku termasuk Jovan, sepupu yang sangat aku sayangi."
"Jovan?"
Mommy Gea terkejut mendengar nama Jovan.
"Iya, Jovan adalah sepupuku. Mr.G sudah membunuh satu-satunya keluargaku, dan sekarang aku harus memusnahkan semua keturunan Mr.G termasuk kedua anakmu."
"Jangan pernah kamu menyentuh kedua anakku!" sentak Mommy Gea.
"Sudah terlambat, kamu dan suami mu tercinta itu sudah tidak punya banyak waktu lagi karena hari ini adalah hari terakhir untukmu dan suamimu menghirup udara segar," seru Xavier dengan senyumannya.
Xavier melepaskan ikatan yang mengikat tangan Mommy Gea.
"Ayo, sebelum kamu mati, kita duel dulu karena dari dulu aku ingin berduel dengan anaknya Mr.G yang hebat ini."
Xavier melepaskan jasnya dan menantang Mommy Gea.
"Kalau kamu menang melawanku, aku akan melepaskan kalian semua."
Perlahan Mommy Gea bangkit dan mulai menyerang Xavier, namun sayang tenanga Mommy Gea sudah sedikit lemah sehingga dengan mudahnya Xavier bisa menyiksa Mommy Gea.
Mommy Gea tumbang dengan wajah yang babak belur.
"Ayo bangun, bukanya kamu wanita hebat masa seorang pembunuh bayaran bisa kalah semudah itu," ledek Xavier.
Mommy Gea sudah tidak punya tenaga lagi, dia berusaha ingin bangkit namun Xavier sudah tidak sabaran. Xavier mengambil pistol yang dia selipkan di pinggangnya, lalu mengarahkan pistol itu kepada Mommy Gea.
"Selamat tinggal, Gea."
Dor..dor..dor..
3 tembakan menghujam tubuh Mommy Gea, sehingga dalam sekejap Gea tersungkur dan tewas di tempat.
"Azura, kamu harus awasi kedua anak Gea dan Victor, dan Papa menyerahkan semuanya kepadamu jangan sampai mereka tersisa," seru Xavier.
"Baik, Pa," sahut Azura.
Sementara itu, Victor yang dalam perjalanan pulang merasakan hal yang aneh. Perasaannya sungguh tidak tenang, bahkan sang sopir terlihat bersikap aneh.
"Ada yang aneh dengan sopir ini?" batin Victor.
Sang sopir yang sudah merasakan kalau Victor mencurigainya, dengan cepat menjatuhkan diri dari dalam mobil yang saat ini masih melaju.
"Brengsek, ternyata kamu pengkhianat!" teriak Victor.
Tanpa sepengetahuan Victor, sang sopir sudah memotong kabel bensin sehingga sepanjang jalan bensinnya sudah bercucuran. Mobil itu berhenti karena menabrak pohon, tapi di saat Daddy Victor hendak keluar dari dalam mobil, sang sopir sudah melempar api ke cucuran bensin itu sehingga dengan cepat api menjalar.
"Selamat tinggal, Tuan Victor."
Sopir pribadi Daddy Victor sudah bekerja sama dengan Xavier, entah apa yang sudah Xavier berikan kepada sang sopir sehingga dia dengan kejamnya berkhianat kepada Daddy Victor.
Sebuah mobil datang untuk menjemput si sopir, dan dengan cepat si sopir masuk ke dalam mobil itu dan pergi meninggalkan Daddy Victor yang meronta-ronta ingin keluar dari dalam mobilnya.
Daddy Victor berusaha keluar, hingga akhirnya setelah sekuat tenaga pintunya bisa terbuka. Tubuh Daddy Victor sudah penuh dengan api, beruntung ada orang yang lewat dan segera membantu Daddy Victor dan langsung membawanya ke rumah sakit. Tubuh Daddy Victor mengalami luka bakar yang cukup parah, entah bagaimana nasib Daddy Victor.