
Setelah keluar dari pondok pesantren, mereka semua serasa bebas sehingga mereka balas dendam dengan langsung pergi jalan-jalan ke Mall untuk bersenang-senang.
Berbeda dengan teman-temannya yang lain, saat ini Dira sedang membantu Bunda Safira berjualan kue basah berkeliling di jalanan.
"Bun, lebih baik kita istirahat dulu sepertinya Bunda sudah kecapean," seru Dira.
"Baiklah, kita istirahat dulu sebentar," sahut Bunda Safira.
Dira dan Bunda Safira duduk di pinggir jalan di bawah pohon, keringat sudah bercucuran di wajah keduanya.
"Sebentar Bunda, Dira belikan air minum dulu ya."
Dira pun dengan cepat segera berlari untuk membeli air mineral yang berada di seberang jalan, tapi tanpa Dira sadari ada dua orang preman yang dari tadi memperhatikan Dira.
Di saat Dira hendak mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, tiba-tiba salah satu preman itu langsung mengambil dompet Dira membuat Dira terkejut.
"Astagfirullah, copet! copet!" teriak Dira.
Dira berusaha mengejar dua pencopet itu, hingga di pertengahan jalan kedua pencopet itu hendak menyebrang tapi mereka tidak melihat kiri-kanan, sehingga sebuah motor yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi tidak sempat menarik remnya.
Bruk...
Motor itu menabrak salah satu pencopet tapi pencopet itu masih bisa berdiri.
"Sialan kalian berdua!" teriak Gaza.
"Copet! kembalikan dompet aku!" teriak Dira.
Gaza menoleh. "Kamu Dira kan, temannya Alea?" tanya Gaza.
"Iya, Kak."
"Ada apa?"
"Mereka mengambil dompet aku Kak."
"Apa? kurang ajar."
Gaza segera bangkit dan naik ke atas motornya, tanpa banyak basa-basi dia pun mengejar kedua pencopet itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Gaza bisa mengejar mereka dan langsung menghajar keduanya.
"Kembalikan dompet gadis itu."
"Jangan mimpi, kita sudah capek-capek mengambilnya," sahut salah satu pencopet.
"Kurang ajar, ternyata kalian ingin main-main denganku."
Gaza yang tidak suka basa-basi langsung saja menghajar keduanya, sampai mereka berdua tumbang dan minta ampun. Gaza segera mengambil dompet Dira, dan kedua copet itu pun kabur.
Dira berlari menghampiri Gaza. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Dira.
"Aku tidak apa-apa kok, ini dompet kamu."
"Terima kasih ya, Kak."
"Sama-sama."
Dira melihat celana Gaza sobek karena terjatuh dari motor, dan betisnya terlihat berdarah.
"Kamu mau pulang?" tanya Gaza.
"Iya, Kak."
"Ya sudah, ayo aku antar kamu pulang."
"Tidak usah Kak, soalnya aku sama Bunda aku dan Bunda sedang menunggu di sana," sahut Dira.
"Ya sudah, aku antarkan kamu ke tempat Bunda kamu."
Awalnya Dira tidak mau, tapi akhirnya Dira pun naik ke atas motor Gaza. Bunda Safira sampai terkejut saat melihat Dira diantar oleh seorang laki-laki.
"Astaga Dira, kamu kenapa? Bunda sampai khawatir loh soalnya kamu membeli minuman tapi lama sekali."
"Maaf Bunda, tadi Dira kecopetan."
"Astagfirullah, terus sekarang bagaimana?"
"Untung ada Kak Gaza yang nolongin Dira, jadi dompetnya bisa kembali lagi."
"Sama-sama, Tante."
"Kak Gaza duduk dulu, aku mau ke apotek sebentar."
"Kamu mau ngapain ke apotek?" teriak Gaza.
Dira tidak mendengarkannya karena Dira sudah jauh.
"Tante jualan apa?" tanya Gaza.
"Tante jualan kue basah, Nak."
"Apa Gaza boleh mencicipinya?"
"Boleh banget, kebetulan masih ada beberapa yang belum terjual."
Gaza mencicipi satu kue basah, dan ternyata rasanya sangat enak.
"Kuenya enak banget, apa ini buatan Tante?"
"Iya Nak, ini buatan Tante dan Dira."
Gaza begitu sangat lahap memakan kue basah itu, sampai-sampai Gaza memborong semuanya dan membuat Bunda Safira sangat bahagia.
"Ini uangnya Tante."
"Tidak usah Nak, makan saja itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolong Dira," tolak Bunda Safira.
Gaza tersenyum dan memberikan uang itu ke tangan Bunda Safira.
"Jangan begitu Tante, Tante kan sedang jualan lagipula aku nolongin Dira ikhlas kok."
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama."
Tidak lama kemudian, Dira pun datang dengan membawa Betadine dan juga perban.
"Kak, betis Kakak terluka, biar aku obati ya."
"Ah, tidak usah Dira, aku bisa obati sendiri."
Dira tidak mendengarkannya, lalu Dira berjongkok di hadapan Gaza dan mulai mengobati betis Gaza. Gaza benar-benar merasa tidak enak dengan perlakuan Dira tapi mau bagaimana lagi Gaza hanya bisa diam saat Dira mengobatinya.
"Di lihat-lihat ternyata Dira cantik juga, hanya saja penampilannya sangat sederhana sehingga kecantikannya tertutupi," batin Gaza dengan senyumannya.
***
Sementara itu di sebuah bioskop, Alea dan Gavin sedang kencan berdua.
"Kak, kenapa gak gabung sama anak-anak yang lain? kan, seru rame," seru Alea.
"Yaelah, aku lagi ingin berduaan sama kamu masa iya kencan harus rame-rame," sahut Gavin.
Alea tersenyum, selama menonton bioskop Gavin tidak pernah melepaskan tangan Alea sampai selesai nonton, mereka berdua pun memutuskan untuk makan siang dulu di sebuah restoran.
"Kak, apa Kakak ada rencana mau melanjutkan kuliah ke luar negeri?" tanya Alea.
"Awalnya memang ingin kuliah di luar, tapi itu sebelum bertemu denganmu dan sekarang sepertinya aku mau kuliah di sini saja biar bisa dekat terus denganmu."
"Idih, kok gitu? meskipun Kakak kuliah di luar, aku akan setia menunggu."
"Tidak Al, aku bukan tipe laki-laki yang bisa menjalani LDRan seperti itu. Aku kalau sudah mencintai seorang gadis, tidak akan pernah meninggalkannya karena aku tidak percaya kalau hubungan jarak jauh itu akan berhasil."
"Memangnya hubungan kita akan sampai menikah?" goda Alea.
"Harus dong, dan aku pastikan kamu tidak akan pernah menikah dengan siapa pun kecuali sama aku."
"Menyebalkan sekali, mana ada kaya gitu. Kok Kakak mendo'akan aku jelek banget, bagaimana kalau kita memang tidak jodoh? kan jodoh mana ada yang tahu."
"Pokoknya aku akan menawar kepada Allah, supaya kamu menjadi jodoh aku."
Alea tertawa mendengar jawaban dari Gavin, sebenarnya Alea pun sudah sangat mencintai Gavin dan tidak ingin berpisah dari Gavin. Justru Alea sangat bahagia, dengan jawaban Gavin yang seperti itu.