
Devan semakin merasa sangat bersalah kepada Gia,karena dia sudah hampir mau menghilangkan nyawa Gia.
Saat melewati meja Gia,Gia membuang muka kepada Devan Gia masih sangat kecewa dengan perkataan Devan.
Tak lama setelah itu kegiatan pembelajaran pun di mulai.
"Eh Fy nanti temenin gw ke perpustakaan ya,mau pinjem buku." Seru Gia.
"Oke siap." Balas Iffy semangat.
Sementara di belakang mereka Devan hanya memandang sendu kearah Gia,entah kenapa kali ini Devan merasa sangat bersalah kepada seseorang.
"Woy bro,ngapa lu tiba-tiba kek anak perawan gini yang pagi-pagi udah galau." Goda Ansel sahabat Devan.
"Diem lo bcd." Sarkas Devan.
"Lu gak lagi pms kan Dev." Tanya Ansel drama.
Ansel hanya mendapat tatapan tajam dari Devan,Ansel hanya bisa menelan ludahnya kasar.
Karena kesal,Devan beranjak dan langsung menarik lengan Gia secara kasar keluar dari kelas membuat semua yang ada di dalam kelas ribut. Apalagi Iffy yang kaget melihat perlakuan Devan yang spontan sangat kasar itu.
Sementara Gia yang di tarik tangannya merasa kesakitan,karena Devan menarik tangan Gia tepat di bekas infus Gia. Meskipun berteriak,tapi tetap Devan tidak melepaskan cengkraman tangannya yang ada di otak Devan saat ini adalah meminta maaf kepada Gia meskipun dengan cara kasar.
Terntara Devan membawa Gia ke rooftop,Gia merasa takut karena Devan juga mengunci pintu rooftop. Sebisa mungkin Gia merasa tenang dan tidak terpancing oleh Devan.
"Bisa gak sih gausah narik-narik." Bentak Gia.
"Lo gak inget tadi pagi gw udah ngomong baik-baik tapi lo malah gak mau dengerin omongan gw." Jelas Devan.
Gia hanya diam mendengar ucapan Devan,dipikirannya saat ini adalah bagaimana caranya dia bisa lepas dari Devan.
"Gw minta maaf Giana." seru Devan.
Deg
Deg
Tapi yang Gia dapat adalah jantung Gia yang tidak bisa beraturan.
_Perasaan apa ini tuhan_ batin Gia.
Gia langsung melepas genggaman tangan Devan.
"Gw udah maafin lo,tapi maaf lo udah kelewatan biarin semua berjalan seharusnya. Lain kali selidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan sendiri,gw manusia punya hati bisa ngerasain sakit juga." Jelas Gia mengingat ucapan Devan yang menurutnya sangat menyakitkan,tau sendiri Gia orangnya sangat berperasa.
Devan melihat ada tetesan darah di tangan Gia. Devan langsung mengambil tangan Gia menarik Gia duduk dan membersihkan darah Gia menggunakan sapu tangannya. Gia hanya diam diperlakukan seperti itu oleh Devan.
"Maaf tadi gw kekencengan narik tangan lo." ucap Devan lirih.
Tidak ada jawaban dari Gia,Gia hanya memeperhatikan perlakuan Devan yang sangat lembut berbeda dari biasanya. Gia selalu mendengar gosio tentang Devan yang bad dan suka mengganggu orang,tapi yang Gia lihat sekarang ternyata Devan mempunyai sisi yang sangat bertolak belakang dengan apa yang di gosipkan.
Setelah selesai di obati Gia berdiri dan meninggalkan Devan yang masih memandang dirinya. Saat sampai di depan pintu Gia berbalik.
" Makasih,gw pergi. " Ucap Gia dan berlalu pergi.
"Benar kata kenzo,lo emang beda daripada yang lain Gi." Ucap Devan lirih.
Sementara di lain tempat,Kenzo sangat emosi mendengar ucapan Iffy tentang Gia yang di tarik Devan keluar kelas dengan kasar.
Sampai di depan kelas Gia,Kenzo melihat Gia yang menuju ke arahnya dengan melamun.
"Giana,lo gak di apa-apain kan sama Devan." Seru Kenzo sambil mengecek seluruh badan Gia. Awalnya dia ingin bilang perlakuan Devan,tapi dia gak mau kalau Devan sampai berurusan dengan sepupunya itu.
"Gw gapapa Kenz,dia cuma minta maaf." ucap Gia .
.
.
.