High School Love Story

High School Love Story
S2#30



Malam harinya sesuai undangan Gia tadi di sekolah,saat ini tepat jam delapan malam mereka sudah berkumpul di kediaman Gio dan Gia.Gia sempat merasa bersedih karena Daddy dan Mommy nya tidak jadi pulang hari ini,dan beruntung masih ada Devan yang bisa menghibur Gia.


"Eh Gia lo kenapa muka udah seperti baju yang belum di setrika." Seru Ansel.


"Biasalah tante Dea sama om Al gak jadi pulang malam ini." Jawab Iffy.


"Sudahlah Gi,masih ada kita semua di sini yang mau nemenin lo." Ujar Zea,membuat Gia tersenyum.


Setelah itu mereka memulai kegiatan pestanya. Gio dan Devan mendapat tugas di panggangan,Iffy dan Ansel yang menyiapkan bahan dan bumbunya. Zea dan Rheina yang menyiapkan perlengkapan lain seperti piring dan sebagainya,Kenzo yang sedang memainkan gitar sementara Gia dengan senang hati hanya menatap mereka semua satu persatu.


Beruntung banget gue dikelilingi orang-orang baik dan yang sayang sama gue.Batin Gia menatap mereka semua dengan tersenyum.


"Ah iya gue lupa mau ngambil bahan buat jus." Seru Gia lirih dan beranjak pergi ke dapur mengambil beberapa buah-buahan setelah itu Gia kembali ke taman di belakang rumahnya,saat sudah sampai di pintu tiba-tiba semua lampu di sana mati.


Gia mendengar teriakan Iffy,Zea dan Rheina.Gia sebenarnya juga takut dan dia juga teringat tentang kejadian camping waktu itu. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Gia,dan Gia jatuh ke pangkuannya.Gia yang tidak sadar hanya diam.


Tidak berapa lama kemudian,lampu kembali menyala. Betapa kagetnya posisi mereka saat ini.Gio yang memeluk Zea erat,karena Zea ketakukan. Iffy yang memegang erat tangan Ansel,jangan lupa kalau Iffy sangat takut dengan yang namanya gelap.Rheina yang berada di pelukan Kenzo secara tidak sadar dan yang terakhir Gia duduk dengan santainya di pangkuan Devan.


Gia dan Devan menatap mereka semua dengan heran.


"Wuihh couple goals nih." Seru Gia menggoda teman-temannya. Membuat mereka semua tersadar dan kembali dengan kegiatannya,tapi tidak dengan Rheina yang dari tadi menatap Gio dan Zea yang berpelukan.


Tapi sebisa mungkin Rheina tidak menunjukkan ekspresi kagetnya terhadap semua orang yang ada di sana. Dengan rasa canggung mereka semua melanjutkan acaranya kembali.


"Lo mau gue bakarin apa.?" Tanya Devan kepada Gia.


"Kentang aja deh,gue gak terlalu suka daging soalnya." Jawab Gia dan diangguki oleh Devan.


Sementara Zea saat ini menjaga jarak dari Gio karena dia tidak enak hati dengan Rheina,awalnya Gio merasa heran dengan Zea tapi setelah tadi Gia menjelaskan akhirnya Gio paham dan sebisa mungkin dia tetap bisa berkomunikasi dengan Zea tanpa sepengetahuan Rheina.


Setelah mereka semua kenyang,Ansel mengajak mereka semua bermain turth or dare.Lalu Gio mengambil sebuah meja kecil dan di letakkan di tengah-tengah mereka semua.Mereka bermain menggunakan botol bekas kecap yang mereka gunakan tadi.


"Oke sekarang kita mulai." Seru Ansel dan memulai putaran pertama yang tertuju ke arah Gia.


"Pilih pertanyaan atau tantangan." Tanya Ansel.


"Pertanyaan aja deh." Jawab Gia semangat.


"Oke gue yang akan bertanya. Hal yang lo gak bisa lupain dari kecil." Tanya Ansel,sejenak Gia memikirkan sesuatu sampai akhirnya dia mengingat kejadian yang menurutnya tidak akan dilupakan seumur hidup.


"Pernah ngejorokin bang Gio ke sungai sampai bang Gio gak sadar selama beberapa hari di rumah sakit dan gue dimarahin habis-habisan sama Dad dan Mom.Itu sih hal yang gak pernah bisa gue lupain waktu kecil." Jelas Gia membuat semuanya menatap Gia tidak menyangka bagaimana bisa anak kecil berbuat sesadis itu kepada saudaranya sendiri.


"Asli parah lo Gi." Seru Ansel.


"Ya habisnya waktu itu gue lagi cari ikan,eh malah airnya di obok-obok sama bang Gio.Yaudah gue doronga aja bang Gio ke tengah sungai." Ujar Gia tanpa dosa.


"Tapi yang gue salut bang Gio gak marah sama gue,yang ada dia tambah sayang sama gue." Sambung tersenyum.


"Bukan sayang sama lo,tapi sama nyawa gue." Timpal Gio tidak terima.


"Oke-oke kita lanjut." Seru Devan,kali ini Devan yang memutar botolnya dan itu mengarah kepada Ansel.


"Tantangan atau pertanyaan." Ujar Devan.


"Oke lo habiskan satu buah lemon ini tanpa minum." Ujar Devan dengan tanpa dosanya,membuat Ansel menatapnya tajam.


"Nyesel gue pilih tantangan." Seru Ansel,tapi mau tidak mau dia harus menerimanya.Ansel yang tidak tahan dengan rasa kecutnya sampai menangis membuat Iffy yang melihatnya tidak tega.


"Sumpah wajah si Ransel lucu banget." Seru Gia tertawa terpingkal-pingkal.Setelah selesai sekarang giliran Gio yang memutar botolnya,dan berhenti di Rheina.


"Gue pilih pertanyaan bang." Seru Rheina tanpa menunggu Gio bertanya dahulu.


"Oke,kenapa lo lebih milih tinggal di Indonesia daripada di Canada." Tanya Gio,membuat Rheina sedikit kecewa karena awalnya dia ingin Gio menanyakan tentang perasaan di hatinya.


"Ya karena gue lebih suka Indonesia dengan segala keindahannya daripada di Canada." Jawab Rheina seadanya.


Setelah itu berlanjut Gia yang memutar botolnya dan berhenti di depan Zea.


"Tantangan atau pertanyaan." Seru Gia.


"Pertanyaan." jawab Zea.


"Lo lebih suka bakso atau nasi goreng." Ceplos Gia,membuat semuanya menatap Gia heran.Bisa-bisanya dia bertanya pertanyaan yang unfaedah seperti itu.


"Nasi goreng." Jawab Zea spontan.Zea merasa lega karena Gia tidak menanyakannya yang aneh-aneh.


"Si Gia mah pertanyaannya gak seru." Ujar Iffy.


"Yaudah sekarang giliran gue." Sambung Iffy dan botolnya berhenti di depan Devan.


"Tantangan atau pertanyaan." Tanya Iffy.


"Pertanyaan." Jawab Devan.


"Cinta pertama lo siapa." Tanya Iffy.


"Gianaa Zafra." Jawab Devan tegas membuat mereka semua kaget sekaligus tidak percaya.


"Kenapa kalian semua natap gue seperti itu." Tanya Devan dan beralih kepada Gia yang sedang menatapnya juga dengan curiga.


"Hem gue gak yakin kalau gue cinta pertama lo." Seru Gia.


"Yakin atau enggak itu faktanya." Jelas Devan.


"Oke sekarang giliran gue." Ujar Kenzo dan memutar botolnya,kali ini berhenti di depan Iffy.


"Gue milih tantangan aja,gue hafal pikiran busuk lo." Seru Iffy,membuat Kenzo menatapnya malas.


"Oke lo makan lemon ini sampai habis." Ujar Kenzo dan diangguki oleh Iffy.Iffy memang suka makanan yang berasa kecut dan manis jadi saat memakan lemon itu dia tidak berekspresi seperti Ansel tadi.


Setelah itu karena hari sudah mulai larut mereka semua mengakhiri permainannya dan pamit kembali ke rumah masing-masing.Zea sempat kecewa karena belum bertanya apapun kepada Gio.


.


.