
Meskipun sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi rasanya perjalanan itu terasa begitu lama bagi Mike.
"Sayang kumohon bertahanlah." Pikiran Mike sudah meracau kemana-mana. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri dan calon anaknya.
"Fokus Mike ! Perhatikan jalannya !" Jhon tidak berhenti memberi aba-aba pada Mike. Karena lengah sedikit saja Mike bisa membahayakan enam nyawa sekaligus.
Sementara Emma dan Isabel menggenggam erat tangan Hannah sambil sesekali menyeka air mata yang menetes dari sudut mata.
Hingga tibalah mereka di rumah sakit. Semua berjalan sangat cepat. Para perawat yang berjaga segera membawa Hannah untuk di periksa. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga, sepertinya mereka harus segera menghubungi dokter bedah saat itu juga. Ya,,,dokter harus segera mengeluarkan bayi prematur itu dari rahim sang ibu demi keselamatan keduanya.
Tentu saran dokter itu segera diiyakan oleh Mike. Apapun yang bisa dilakukan demi keselamatan istri dan anaknya.
Dan disinilah mereka sekarang. Dengan piyama yang masih melekat di tubuh mereka dan wajah-wajah khas bantal yang tentu saja masih bisa terlihat meskipun tertutup oleh rasa takut dan khawatir. Mereka berempat menunggu di depan ruang operasi.
Tidak ada yang bersuara saat menunggu operasi itu. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tentu hal ini sangat mengejutkan bagi Mike. Ini adalah pengalaman pertamanya sebagai seorang calon ayah. Dan dia harus di suguhkan dengan kondisi yang semacam ini. Bukan hal yang mudah. Padahal dalam pikirannya nanti saat Hannah melahirkan buah cinta mereka, dia akan berada di samping istrinya untuk memberikan kekuatan dan dukungan. Membiarkan Hannah meremas tangannya, mencakar kulitnya dan memukulnya bila perlu untuk melewati setiap kontraksi yang dirasakannya seperti dalam video-video yang sering dia pelajari tentang bagaimana menjadi suami siaga untuk istri yang akan melahirkan. Namun semua itu tidak akan terjadi saat ini. Hannah harus berjuang sendirian di dalam sana. Hanya doa dan cinta yang mampu diberikan Mike padanya.
"Sayang duduklah ." Emma mendekat pada Mike yang sejak tadi tampak gelisah mondar-mandir dan bersandar pada dinding sambil sesekali mengusap wajah dan menyugar rambutnya.
"Aku takut Ma." Kata itu akhirnya terucap juga.
Emma bisa melihat dengan jelas ketakutan itu dalam sorot mata Mike yang tampak sayu. Hannah adalah separuh jiwanya. Jika sesuatu yang buruk menimpa gadis itu, pasti akan mematikan separuh jiwa Mike juga.
Dengan penuh kasih sayang Emma meraih bahu anak laki-lakinya dan memeluknya. Menyalurkan ketenangan untuk Mike.
"Kita berdoa sama-sama ya. Mama akan selalu ada untuk kalian." Emma mengusap punggung Mike dengan lembut. Dan tak terasa mata sayu Mike meneteskan air bening yang semenjak tadi dia tahan.
Sumpah demi apapun ! Ini adalah hari paling menakutkan dalam hidup Mike. Dia takut tidak bisa lagi melihat senyum cerah yang setiap pagi menyambutnya saat bangun tidur. Dan senyum menenangkan yang mengantarkannya terlelap dalam tidur. Canda tawa yang selalu menggema di setiap sudut rumah. Dan pastinya Mike takut kehilangan tempatnya menumpahkan segala kebahagiaan dan keluh kesah dalam hidupnya. Hannah akan selalu menjadi partner hidup yang sempurna untuk Mike. Saat sedih dan tertawa. Saat sakit dan sehat.
Ya, semenjak menikah dengan Mike, Hannah berubah jadi sosok yang periang. Seolah seluruh beban hidupnya luruh seiring masa kesendirian yang ia tanggalkan. Dia juga bisa berubah menjadi sosok yang manja tapi menggemaskan. Entahlah....segala yang ada pada diri Hannah adalah kebahagiaan untuk Mike.
***
Setelah menunggu waktu yang terasa sangat lama akhirnya seseorang membuka pintu ruang operasi. Keempat orang yang sedari tadi menunggu dengan serentak mendekat ke arah pintu.
"Suami Nyonya Hannah !" Terdengar seorang perawat memanggil suami Hannah. Dan itu adalah dirinya.
"Silahkan ikut saya." Kata perawat itu.
Mata Mike terpaut pada kedua orang tuanya. Seolah meminta doa agar semuanya baik-baik saja. Setelah mendapat anggukan kepala dari kedua orang tuanya, Mike segera berjalan masuk mengikuti perawat itu.
Di dalam sana Mike mengenakan baju khusus berwarna hijau. Tidak lupa mencuci tangannya dengan cairan antiseptik. Perlahan Mike mendekat pada perawat yang tadi memanggilnya. Perasaan Mike menghangat ketika melihat pemandangan di depan matanya. Di depan perawat itu ada seorang bayi kecil. Sangat kecil. Hanya sebesar botol air mineral yang terlihat begitu nyaman berada dalam kotak inkubator. Seketika mata Mike kembali melelehkan cairan bening dari sudut matanya saat melihat keajaiban yang tengah berada di hadapannya saat ini.
Mike berjalan perlahan mendekati kotak kaca hangat itu. Degup jantungnya bertalu-talu menatap sosok yang berada di dalam kotak itu. Mike merasa sangat takjub dengan ciptaan Tuhan yang sekarang sedang dia pandangi dengan penuh cinta. Meskipun sangat kecil, tapi Mike bisa merasakan betapa besar keajaiban yang dia bawa.
Kemudian seseorang muncul dari arah kiri Mike.
"Selamat Tuan, Putra Anda sangat hebat. Dia sangat kuat. Meskipun kecil tapi dia adalah seorang pejuang yang sangat tangguh." Kata dokter yang menangani operasi Hannah.
Senyum penuh haru mengembang di wajah Mike. Dia bahkan tidak mampu berkata apa-apa. Dia sangat bahagia. Hari ini dia resmi menyandang status sebagai seorang ayah dari anak laki-lakinya. Ini adalah saat yang paling dia nantikan.
"*Kalau anak kita laki-laki aku ingin memberinya nama Liam. Dan kalau dia perempuan aku ingin memberinya nama Daisy."
"Tidak bisa Sayang ! Kalau dia laki-laki namanya Lucas. Dan kalau perempuan namanya Anna*."
Bayangan ketika dirinya berdebat tentang nama anak mereka kembali menguar dalam otak Mike. Membuat senyumnya berubah menjadi tawa kecil.
Tapi sayang, semua itu tak bertahan lama. Karena di detik selanjutnya binar kebahagiaan di mata Mike berubah menjadi kekhawatiran. Oh tidak, tepatnya menjadi sebuah ketakutan.
"Bagaimana kondisi istri saya ?" Suara berat Mike menandakan betapa takutnya dia atas apa yang akan dikatakan oleh dokter itu.
Sang dokter terdengar menarik nafas dalam. Dan selanjutnya dia harus memberitahukan kondisi Hannah saat ini. " Pendarahannya cukup parah Tuan. Kami sudah mengusahakan yang terbaik untuk istri Anda." Menghela nafas lagi. Dan itu membuat Mike merasa tubuhnya mulai lemas dengan spekulasi-spekulasi buruk yang ada di kepalanya. " Nanti istri Anda akan segera dipindahkan ke ruang ICU. Dukungan dan motivasi dari orang-orang terdekatnya pasti akan sangat membantu." Dokter itu terlihat sangat peduli dengan suasana hati Mike saat ini. Dua tepukan di bahu Mike dari dokter itu. Lalu dia undur diri meninggalkan Mike di ruangan itu.
Hati Mike hancur. Gadisnya. Istri yang sangat dia cintai harus melewati fase sesulit dan se-mematikan ini hanya untuk mewujudkan mimpi indah mereka. Tak kuasa Mike menahan laju air mata kesedihannya. Dia belum bisa menemui Hannah. Sungguh dia sangat ingin memeluk erat istrinya itu. Dia tidak ingin membiarkannya sendirian. Tapi apa yang bisa dia lakukan kalau keinginannya itu hanya akan membahayakan kondisi istrinya.
Dia pasti merasa sangat kesakitan saat ini. Tuhan....kenapa bukan aku saja yang menanggung semua sakit ini ?
Perlahan langkah kaki Mike membawa tubuh gontainya mendekati inkubator. Bayi mungil yang ada di hadapannya saat ini adalah kebahagiaan yang tak akan ternilai harganya. Namun disisi lain Mike harus mempertaruhkan nyawa orang yang sangat dia cintai untuk meraih kebahagiaan itu.
Dengan suara berat dan bergetar, Mike untuk pertama kalinya menyapa anak laki-laki buah cintanya dengan Hannah. "Hai anak Daddy ! Kita berdoa sama-sama untuk Mommy ya. Kau pasti ingin melihat senyum dan tawa Mommy kan ? Bantu Daddy untuk membawa Mommy kembali pada kita. Mommy memberimu nama Liam. Dan kita akan membuat Mommy memanggil nama itu tanpa henti dengan bibirnya." Mike tersenyum miris. " Kita akan buat dia membayar semua ketakutan yang kita rasakan saat ini dengan senyum dan tawa riangnya. Kau mau bantu Daddy kan ? We love you Liam. So much !"