Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
KECELAKAAN



Tok.....Tok.....Tok.....!!!


Hannah bergegas menuju pintu depan setelah mendengar suara ketukan.


Hannah membuka pintu dan melihat siapa yang datang bertamu sepagi ini.


Hannah melongokkan kepalanya keluar pintu.Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak nampak seorangpun disana.Kemudian dia melihat kebawah.


"Bunga?" Gumam Hannah seraya mengernyitkan keningnya.


Hannah mengambil satu buket bunga lily yang diletakkan di lantai depan pintu rumahnya.


Hannah membolak balikkan buket bunga itu mencari tau siapa pengirimnya.


"Bunga dari siapa ini ?" Hannah penasaran karena tidak ada nama pengirimnya di buket bunga tersebut.


Hannah mengangkat kedua bahunya lalu meletakkan buket bunga itu di atas meja yang ada di terasnya.


Hannah lalu masuk kembali kedalam rumah.Dia bersiap siap hendak berangkat ke tempat kerjanya.


Hannah keluar lalu mengunci pintu dari luar dan memasukkan kunci pintu rumahnya ke dalam tas slempang yang biasa dia bawa untuk bekerja.


Ketika Hannah membalikkan badan hendak berangkat, mata Hannah tertuju pada buket bunga yang tadi dia letakkan di atas meja.Hannah mendekati bunga itu kembali.


"Dari siapa ya ?" Hannah memandangi bunga itu.


"Mungkin salah alamat."tutur Hannah yang kemudian menaruh kembali bunga itu diatas meja.


Selangkah demi selangkah Hannah menuntun kakinya menuju ke tempat kerja.


Jarak dari rumah sampai tempat kerjanya hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki.


"Pagi Eve..!" Hannah menyapa teman kerjanya yang sudah lebih dulu sampai disana.


"Pagi Hannah..!"jawab Eve.


Hannah berjalan menuju ruang loker.Sesampainya di ruang loker Hannah meletakkan tasnya di dalam loker.Dia melepas sweaternya juga lalu diletakkan diatas tas.


Lalu dia berjalan keluar sembari mengikat rambutnya tinggi diatas kepala.


Dengan penuh semangat Hannah menurunkan kursi-kursi yang tertumpuk di meja.Dan tak butuh waktu lama semua set meja sudah tertata dengan rapi.


"Hannah...bagaimana kondisi Nyonya Lee sekarang ? Semalam kau ke rumah sakit kan ?" tanya Eve sembari membersihkan meja kasirnya.


"Sekarang sudah membaik.Tuan Lee juga selalu berada disana untuk menjaga Nyonya Lee." Hannah tersenyum sumringah karena sudah merasa lega dengan kondisi Nyonya Lee yang sudah membaik.


"Syukurlah." Eve juga ikut tersenyum lega.


"Hei Hannah....boleh aku bertanya sesuatu padamu ? "Eve tersenyum seraya mengangkat satu alisnya.


"Tentu saja." Jawab Hannah tanpa berhenti merapikan piring dan gelas diatas rak.


"Apa kau dan Joe....?" Eve tak melanjutkan pertanyaannya berharap Hannah sudah paham akan arah pertanyaannya seraya tersenyum menggoda Hannah.


Sontak Hannah berhenti dari aktivitasnya dan menoleh ke arah Eve seraya tersenyum heran dengan pertanyaan temannya itu.


"Hah....?! No...no..no....Kami hanya berteman dan itu sudah cukup mendatangkan banyak masalah buatku." Hannah mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum kecil.


"Joe adalah orang yang baik.Sayangnya...dia terjebak dengan nenek sihir seperti Jenny" Eve tertawa sambil membayangkan Jenny yang berhidung dan berdagu panjang serta memakai topi lancip hitam diatas kepalanya.


"Jangan bicara seperti itu..!!"tukas Hannah sambil ikut tertawa kecil.


"Joe memang orang yang baik." imbuh Hannah.


"Kenapa kalian tidak berpacaran saja."


Eve menggoda Hannah lagi.


Hannah hanya melirik tajam kepada Eve sambil meruncingkan bibirnya.


"Oke....oke...." Eve sudah paham maksud Hannah.


Merekapun kembali berbincang ringan sambil sesekali diselingi candaan.


KRINGG...!!


Suara lonceng diatas pintu masuk kedai mengalihkan perhatian Eve dan Hannah.


Seorang lelaki yang tak asing memasuki kedai tersebut.


"Pagi Joe....!" Sapa Eve pada lelaki itu dengan penuh semangat.Eve melirik Hannah dengan lirikan menggoda.


Hannah pun memelototkan matanya pada Eve.


"Eve...Hannah..!" balas Joe.


Kemudian dia berjalan menghampiri kedua pegawai kedai tersebut.Lalu Joe duduk di meja yang paling dekat dengan meja kasir supaya bisa mengobrol dengan dua perempuan tadi.


"Rajin sekali kalian." Goda Joe pada dua perempuan itu.


"Kalau kami malas-malasan Tuan Lee tidak akan menggaji kami." jawab Eve enteng.


Sementara tangan Hannah dengan lihainya menyiapkan secangkir capuccino dan roti lapis yang sama dengan yang setiap pagi Joe pesan di kedai itu.Mereka sudah hafal betul dengan kebiasaan Joe.


Tak lama kemudian Hannah sudah membawa nampan berisi secangkir capuccino dan roti lapis kehadapan Joe.


"Terima kasih Hannah." Joe membantu Hannah menurunkan pesanannya dari nampan.


Hannah hanya membalas ucapan terima kasih Joe dengan senyuman.


"Ehem....ehem..." Eve berdehem sambil menahan senyumnya.


"Kau baik-baik saja Eve ?" Joe memperhatikan Eve tanpa menyadari maksud Eve.


"Eve..." Hannah melotot pada Eve yang sedari tadi menggodanya.


Mereka pun berbincang-bincang dan bercanda bersama.


Hingga tek terasa makanan dan minuman yang dipesan Joe tadi sudah ludes masuk ke dalam perut Joe.


"Terima kasih untuk sarapannya." ujar Joe sambil membayar tagihan kepada Eve yang berada di balik meja kasir.


"Sama-sama Joe." saut Eve.


**********


Jam kerja Hannah sudah habis.Hannah pun bersiap pulang dengan memakai sweater hitamnya dan mengalungkan tas slempangnya ke bahu.


Saat keluar dari kedai tiba-tiba tangan kekar seorang laki-laki menarik dengan kasar tangan Hannah.


Hannah sontak terkejut dengan kejadian itu.Lebih terkejutnya lagi saat mengetahui orang tersebut adalah Harry.


"Aww....!" teriak Hannah.


"Apa kabar sayang ? Kau merindukanku ?" ucap Harry dengan tatapan sinis dan tangannya tak henti mencengkeram lengan Hannah.


"Mau apa kau ?" Hannah begitu ketakutan.


"Kenapa..? Apa kau tidak senang dengan kehadiranku ?" Harry semakin erat memcengkeram lengan Hannah.


"Pergi kau dari sini...!!" teriak Hannah sambil mendorong tubuh Harry sekuat mungkin dan berusaha untuk kabur dari Harry.Hannah berhasil lepas dari cengkeraman Harry dan dia berlari menjauh dari Harry.Dan ketika Hannah hendak menyeberang jalan tiba-tiba....


CIIIIIIIIIITTTTTT....!!!!! GUBRAK.....!!!!!


Sebuah mobil menabrak tubuh Hannah.Untung saja mobil itu melaju dengan kecepatan rendah.


Hannah yang panik memang tidak melihat kanan dan kiri sewaktu hendak menyeberang.Hingga sebuah mobil menabraknya.


Meskipun laju mobil itu tidak begitu kencang tapi cukup membuat tubuh Hannah terpental


"Shit...!!!" teriak kesal si pengemudi mobil sambil kakinya menginjak rem kuat-kuat. Dia adalah Mike.


Mike kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Hannah yang pingsan di depan mobilnya.


Orang-orang yang melintas pun segera berkerumun mengitari tubuh Hannah.


"Tuan sebaiknya anda bawa nona ini ke rumah sakit." saran salah satu orang yang berkerumun disana.


Mike segera mengiyakan.Dia lalu membopong tubuh Hannah kedalam mobilnya.


Tanpa pikir panjang Mike segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Sesekali Mike melihat Hannah yang tergeletak di kursi belakang mobil melalui kaca spion.


"Dasar ceroboh..!Jelas-jelas ada mobil yang melintas tapi masih saja menyeberang.Cari mati apa..!!" gerutu Mike sembari terus melajukan mobilnya.


"Merepotkan sekali..!!" Gumam Mike kesal.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah sakit.


Mike turun dari mobil dan segera memanggil perawat untuk membantunya membawa Hannah ke ruang IGD.


Dengan sigap para perawat itu membawa Hannah menuju ke ruang IGD lalu dokter memeriksa keadaan Hannah.


Mike mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Apa aku tinggal saja dia." Gumam Mike.


Dia hendak meninggalkan rumah sakit karena Hannah sudah ditangani oleh dokter.


Mike membalikkan badan dan berjalan menjauh dari ruang IGD.Ketika baru beberapa langkah dia berjalan , ada suara memanggil dirinya.


"Tuan...!" ternyata panggilan itu berasal dari suara dokter yang tadi memeriksa Hannah.


Mike menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah si dokter yang ada di belakangnya.Lalu dia berjalan mendekati dokter itu.


"Iya dokter...? Bagaimana keadaan nona tadi ? "tanya Mike.


"Apa anda keluarganya?" Tanya dokter itu.


"Eh....bukan dok.Apa ada luka yang serius dok?" Mike menautkan kedua alisnya.


"Oh tidak....tidak ada luka serius.Nona itu hanya syok saja.Dan perawat akan segera memindahkannya ke ruang perawatan." jelas si dokter.


"Syukurlah." saut Mike.Dia lega karena kalau lukanya serius pasti akan sangat merepotkan dirinya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."


pamit si dokter.


Mike mengangguk.Lalu terlihat 2 perawat membawa Hannah keluar dari ruang IGD dan membawanya ke ruang perawatan.Mike mengikutinya dari belakang.


Hannah masih dalam keadaan belum sadarkan diri ketika dipindahkan ke ruang perawatan.


Setelah perawat selesai memindahkan Hannah,para perawat itupun lalu meninggalkan Hannah dan Mike disana.


Mike berjalan perlahan mendekati tempat pembaringan Hannah.Diperhatikannya wajah Hannah yang tampak pucat pasi.


Entah kenapa Mike merasa iba ketika melihat wajah pucat Hannah.


Tangan kanan Mike menyibakkan rambut Hannah yang menutupi ujung mata yang masih terpejam itu.


Mata Mike masih terus memperhatikan setiap inci wajah Hannah.


Setelah beberapa saat Mike keluar dari ruangan Hannah.Mike menuju ke bagian administrasi.


"Suster,,,,pasien perempuan yang baru masuk karena kecelakaan tadi yang bernama......" Mike lupa tidak menanyakan nama Hannah pada petugas medis yang memeriksa tas Hannah untuk mencari tau identitasnya.


"Nona Hannah Moore ?"Perawat itu memastikan.


"Oh iya....itu maksud saya.Silahkan hubungi saya untuk semua biaya pengobatannya." saut Mike sembari menyodorkan kartu namanya.


"Baik Tuan." jawab perawat itu dengan tangan kanannya menerima kartu nama yang diberikan Mike.


Setelah memberikan kartu namanya, Mike bergegas meninggalkan rumah sakit.Karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.


*********


Ikuti terus kisah Hannah dan Mike ya...


Jangan lupa dukungan Like dan Vote nya biar author lebih bersemangat lagi nulis novelnya.


Love...love....love....😊😊😊