
Sepanjang malam Joe menjaga Hannah.Mike menemani Joe sampai tengah malam dan dia memutuskan untuk pulang karena paginya dia ada meeting penting dengan client dari luar negeri.
Beberapa kali Hannah mengigau.Dia memanggil ayah dan ibunya dalam keadaan tidak sadar.Bahkan Joe tidak tidur semalam suntuk karena demam Hannah yang tak kunjung turun.
Joe melirik arlojinya dan waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi.Mata Joe terasa sangat berat.Namun dia paksa untuk tetap terjaga.Joe duduk di kursi yang ada di samping pembaringan Hannah.Mengusap lembut jemari Hannah dan menggenggamnya.
"Kalau kau mau berbagi cerita dengan orang lain...kau tidak akan semenderita ini."ucap Joe sambil terus memandang wajah pucat Hannah.
Joe menjatuhkan kepalanya disamping Hannah.Dan tanpa sadar Joe pun terlelap dengan tangan yang masih menggenggam jemari kecil Hannah.
***
Hannah mengerjapkan matanya.Mengumpulkan sedikit kekuatan untuk menyadarkan pikirannya.Matanya sangat berat untuk terbuka.Setelah berhasil membuka mata,Hannah melihat ke sekeliling dan menyadari dia tidak berada di kamarnya.Lalu dia lihat kantong infus yang menggantung di sampingnya.Pandangannya beralih pada seseorang yang tampak terlelap di tepi pembaringannya.
Hannah mengalihkan jarinya dari tangan Joe yang membuat Joe seketika itu terbangun dan duduk dengan tegak.
"Hannah....kau sudah bangun ?" kalimat pertama yang terucap dari bibir Joe.
Hannah melihat sekeliling dan bertanya dirinya ada dimana.
"Aku dimana ?" ucapnya lemah.
"Kau di rumah sakit.Semalam kau demam tinggi." Joe menjelaskan.
Joe mengulurkan punggung tangannya ke dahi Hannah.Dan ternyata demamnya sudah tidak seperti tadi malam.
"Aku mau pulang." pinta Hannah dengan suara lemahnya.
Joe memandang Hannah dengan penuh simpati.Pandangannya begitu meneduhkan.
"Kau masih sakit.Tunggu sampai kau sembuh baru kita pulang."
Hannah diam.Percuma juga dia merengek karena Joe tetap tidak akan membiarkannya pulang.
"Apa kau mau makan sesuatu ?"tanya Joe.
Hannah menggeleng.Dia sama sekali belum berselera untuk makan.
"Apa kau semalaman disini ?" Hannah memandang Joe dengan tatapan nanar.
Joe hanya menjawabnya dengan senyuman penuh perhatian.
***
Mike berangkat pagi-pagi karena harus meeting dengan client penting dari luar negeri.Sesampainya di kantor Mike sudah disambut oleh sekretarisnya.Semua berkas yang dibutuhkan untuk meeting sudah disiapkan oleh sekretarisnya itu.
"Apa Tuan Mark sudah datang ?" tanya Mike pada sekretarisnya.
"Sudah Tuan.Beliau sudah menunggu di ruang meeting."jawab sekretarisnya.
"Baiklah kita ke ruang meeting sekarang." Mike berjalan dengan langkah besarnya menuju ruang meeting yang diikuti oleh sekretarisnya.
Selama satu jam Mike berada di ruang meeting.Setelah itu pintu ruangan itu terbuka dan semua yang ada di dalamnya berjalan keluar beriringan dengan wajah cerah.Tandanya meeting berjalan dengan sangat lancar.
Setelah meeting Mike kembali ke ruangannya.Dia memeriksa beberapa pekerjaan lain yang sudah menumpuk disana.
Kesan dingin dan acuh kembali muncul saat Mike berfokus pada pekerjaannya.
Sampai pada map berisi proposal kerja sama yang kemarin akan dia bahas dengan Joe tetapi urung terjadi karena Joe harus menjaga Hannah.
"Hannah."gumam Mike.
"Bagaimana kondisinya sekarang ?"tambahnya.
Sesaat Mike menghentikan pekerjaannya.Dia teringat dengan kondisi Hannah yang semalam.
Mike kembali fokus pada pekerjaannya.Dia selesaikan dengan cepat semua pekerjaan itu.
Mike beranjak dari kursi kerjanya dan melangkah keluar menemui sekretarisnya.
"Jadwalku hari ini apa saja ?" tanya Mike pada sekretarisnya.
Sekretaris itu segera melihat catatan jadwal Mike untuk hari ini.
"Hanya meeting dengan Tuan Mark tadi pagi,Tuan.Selain itu free." jawab sekretaris itu.
"Baiklah.Aku mungkin tidak akan kembali ke kantor.Kirim saja semua laporan via email." Perintah Mike.
"Baik Tuan."
Mike meninggalkan kantornya sebelum jam makan siang.Mike berkendara dengan kecepatan sedang.Dia tau pasti kemana akan mengarahkan mobilnya.
20 menit kemudian dia sudah sampai di area parkir sebuah rumah sakit.Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke lobi rumah sakit.Dengan langkah tanpa ragu Mike bejalan menuju ruangan dimana Hannah di rawat.
Tok....Tok....Tok...!
Mike mengetuk pintu dimana Hannah dirawat.Mike membuka pintu itu dan yang terlihat disana adalah Joe dan Hannah sedang duduk berhadapan.Sekilas Mike melihat kondisi Hannah sudah lebih baik dari semalam.
"Mike." sapa Joe.
Mike memperhatikan penampilan Joe yang tampak kusut.Sangat terlihat kalau Joe semalam begadang.Matanya merah.Rambutnya berantakan.
"Bagaimana kondisinya ?" tanya Mike pada Joe.
"Sudah lebih baik daripada semalam."jawab Joe.
Mike tersenyum melihat penampilan acak-acakan Joe.
"Kau berantakan sekali."kata Mike diiringi seringai kecil.
Joe hanya tersenyum mendengar perkataan Mike.
"Pulanglah dulu.Aku akan disini menggantikanmu." kata Mike.
Hannah tersentak mendengar perkataan Mike.Bagaimana dia bisa menawarkan diri menjaganya di rumah sakit.Sedangkan mereka tidak begitu saling mengenal.
"Apa tidak merepotkanmu ?" tanya Joe.
"Hari ini tidak ada jadwal penting.Jadi aku punya waktu luang." jawab Mike sangat percaya diri.
Joe mengangkat kedua bahunya.Dia menyetujui usul Mike.Lagipula tidak mungkin dia meminta Eve untuk menjaga Hannah karena Eve sedang bekerja.
"Sepertinya aku juga butuh mandi." kata Joe.
"Hannah....aku pulang dulu.Biar Mike yang menjagamu."Joe beralih pada Hannah.
Hannah tampak ragu menerima tawaran mereka itu.Raut wajahnya menunjukkan sedikit keberatan kalau Mike yang berada disana.Tapi kasihan juga Joe, karena dari semalam dia belum istirahat.
Joe yang menyadari keraguan Hannah langsung menanggapinya.
"Tidak usah khawatir.Mike orang baik."
Mike hanya menunjukkan ekspresi datar tanpa berkata apa-apa.Akhirnya Hannah mengangguk.Dan Joe meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Joe yang tersisa di ruangan itu hanyalah Mike dan Hannah.
Hannah tampak canggung dengan keberadaan Mike disana.Sedangkan Mike lebih bisa mengontrol perasaan canggungnya dibandingkan Hannah.
"Sudah lebih baik ?" Mike bertanya sambil mendudukkan tubuhnya diatas kursi di samping pembaringan Hannah.
Hannah mengangguk pelan.Dia tidak berani memandang Mike.
Mike mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan terlihat sibuk memeriksa beberapa email yang masuk.Hannah sesekali memandangnya.Wajah yang dingin tanpa ekspresi.Tidak ada pembicaraan apapun antara mereka.
"Selamat siang." suara seorang perawat memecah kesunyian di ruangan itu.Keduanya menoleh kearah yang sama.
Perawat itu masuk membawakan jatah makan siang dan obat untuk Hannah.Dia meletakkan makan siang dan obat itu di meja samping pembaringan.Lalu berjalan memutar memeriksa infus yang menempel di punggung tangan Hannah.
"Obatnya diminum ya." kata perawat itu dengan senyum ramah di wajahnya.Lalu dia meninggalkan ruangan itu begitu saja.
"Kau harus makan." kata Mike.
Hannah menggeleng.Dia tidak mau makan.
Tanpa Hannah duga Mike berdiri.Dia memasukkan ponsel ke saku celananya lalu mengambil mangkok yang berisi bubur dari atas meja dan berpindah duduk di tepi pembaringan Hannah.
Mike mengambil satu sendok bubur lalu mengarahkannya ke mulut Hannah.
"Ayo buka mulutmu."kata Mike.
Hannah bengong melihat apa yang dilakukan Mike.
"Jangan keras kepala.Ayo buka mulutmu." Mike semakin mendekatkan sendok berisi bubur itu ke mulut Hannah hingga menempel di bibirnya.
Kalau menolak,Hannah takut Mike akan marah.Padahal meskipun mereka belum terlalu kenal Mike sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjaganya.Dengan sangat terpaksa Hannah membuka mulutnya dan memakan bubur itu.
Tiga suapan pertama berjalan lancar.Namun Hannah menolak membuka mulutnya lagi pada suapan keempat.
Mike menatap tajam kedua mata Hannah.Seakan itu ancaman kalau Hannah tidak mau membuka mulutnya lagi.
Dan lagi-lagi Hannah menurut pada Mike.Hingga pada suapan terakhir.
"Anak pintar !" kata Mike sambil mengacak rambut Hannah ketika bubur di mangkok itu habis.
Hannah heran pada Mike.Dia ini suka sekali memaksa.Tapi Hannah bisa melihat niat baik pada diri Mike.Dia merapikan rambutnya yang diacak-acak Mike tadi.
"Kalau begini aku jadi teringat Isabel.Anak itu kalau sedang sakit tidak akan mau makan kalau bukan aku yang menyuapi." batin Mike.
Mike maletakkan mangkok kosong itu di atas meja lalu mengambil segelas air putih dan obat untuk Hannah minum.
Hannah jadi begitu penurut dengan Mike.Dia ambil gelas dan obat itu dari tangan Mike dan segera meminumnya.
Mike tersenyum melihat pemandangan itu.Seakan dia puas bisa membuat Hannah jadi penurut seperti itu.