Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
TAMPARAN KERAS



Mike merasa kakinya pegal karena berdiri lama menonton pertunjukan di atas panggung.Akhirnya dia mencari tempat untuk duduk.


Mike mengitari taman mencari tempat yang agak sepi dari orang-orang karena Mike kurang suka keramaian.


"Sudah lama aku tidak datang ke festival ini." batin Mike.


Dia berjalan dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku rompinya.


Dan sampailah dia di sebuah kolam ikan kecil memanjang yang berada di ujung barat taman.


Dia duduk di batu besar dekat kolam yang memang sengaja dibuat agar orang-orang yang mau menikmati keindahan ikan-ikan di dalam kolam itu bisa duduk dengan nyaman.


Karena letaknya yang lumayan jauh dari pusat acara membuat tempat itu agak gelap dan sepi.


Dari tempat itu Mike sudah tidak bisa melihat adiknya lagi.Dia mengeluarkan ponselnya dari saku depan rompinya dan mulai memainkannya agar tidak bosan.


Mike sibuk memainkan game di ponselnya dan tidak memperhatikan sekitar.


Hingga suara riuh hitungan mundur angka mulai terdengar di telinganya.


Itu adalah puncak festival dimana ratusan lampion di nyalakan dan diterbangkan ke udara secara bersamaan.


Mike yang tadinya fokus dengan ponselnya kini perhatiannya teralih pada pemandangan yang sangat indah.


Ratusan lampion terbang ke udara tinggi dan semakin meninggi.Orang-orang bersorak sorai menikmati keindahannya.


Senyum kecil tersungging di bibir Mike.Lalu matanya menangkap sesosok perempuan yang bersandar pada tiang lampu yang tidak menyala tak jauh darinya.


Samar-samar terlihat sebuah senyuman dari bibir perempuan itu.Mike mengenali wajah yang hanya tampak samar-samar dari pandangannya tersebut.


"Hannah ? kenapa dia hanya berdiri disana ?" gumam Mike dalam hati.


Mike melihat sekitar barangkali dia sedang bersama Joe.Tapi nihil....Dalam pandangan Mike tidak ditemukan sosok Joe dimanapun.


Sementara dalam suasana remang-ramang itu Hannah tampak begitu menikmati indahnya cahaya yang memancar dari langit.


"Ayah....Ibu....Hannah rindu kalian." bibir mungil Hannah berbisik pelan.


Sewaktu kecil Hannah tidak pernah melewatkan festival ini sekalipun bersama kedua orang tuanya.Wajar saja kalau momen ini membuat Hannah terhanyut dalam kerinduannya pada kedua orang tuanya.


Sejak usianya dua belas tahun ini adalah kali pertamanya datang ke festival lampion.Dan ini juga kali pertamanya datang tanpa kedua orang tuanya.


Hingga saat Hannah dikejutkan dengan cengkeraman kuat di lengannya.


"Jenny ?" mata Hannah terbelalak melihat siapa yang mencengkeram lengannya.


"Kesini kau ! Dasar perempuan murahan !"


Jenny menyeret Hannah ke arah kolam dan......


BYUUUR.....!!!


Jenny mendorong tubuh Hannah ke dalam kolam ikan tidak jauh dari hadapan Mike.


Saking terkejutnya Hannah sampai tidak bisa membela dirinya dan dia sekarang berdiri di dalam kolam dengan menahan amarah yang memuncak.


"Itu karena kau mencari masalah denganku !" teriak Jenny sambil menunjuk Hannah dengan jari telunjuknya yang ramping.


Hannah keluar dari kolam dengan pakaian yang basah kuyup dan sekarang dia berdiri di hadapan Jenny.


"Sudah cukup !"


PLAAKKK...!!


Satu tamparan keras mendarat di wajah cantik Jenny.


Jenny seketika melotot karena terkejut sambil memegangi pipi kirinya yang tampak merah karena tamparan Hannah.


"Beraninya kau...."


"Ya...aku berani !" potong Hannah sebelum Jenny melanjutkan kalimatnya.


"Aku sudah cukup bersabar padamu ! Jadi dengarkan aku baik-baik ! Sekali lagi kau mengganggu hidupku aku tidak akan segan untuk memberimu pelajaran lebih dari ini !" kesabaran Hannah benar-benar sudah diambang batas.Jenny memilih waktu yang salah untuk berurusan dengan Hannah.


Mendengar ancaman Hannah , Jenny tampak terkejut sampai-sampai dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.Perempuan lemah dan tidak berdaya seperti Hannah bisa bicara seperti itu pada dirinya.


"Pergi kau dari hadapanku !" usir Hannah sambil berteriak.


Jenny pun meninggalkan Hannah dengan rasa kesal dihatinya.


Dan sepertinya mereka berdua tidak menyadari bahwa sedari tadi ada laki-laki dalam remang-remang cahaya yang memperhatikan adegan mereka tanpa bersuara sedikitpun.