
Keesokan harinya seusai makan malam di rumah Mike.Keluarga itu berkumpul di ruang keluarga.
Emma dan Isabel asyik menonton acara televisi kesukaan mereka sambil menikmati cemilan yang di sediakan oleh pembantu.
"Papa sudah menghubungi Harry tadi siang." tutur Jhon sambil membalik koran yang dia baca.
Mike yang fokus memeriksa email dari ponselnya sekilas mengalihkan pandangan kepada Jhon.
"Lantas apa yang dia katakan Pa ?" tanya Mike.Lalu pandangannya kembali ke layar ponsel.
Jhon melipat dan meletakkan koran diatas meja kaca di sampingnya.
"Dia bilang dia ada satu rumah di Jl.Orchid.Tapi sayangnya dia sudah mendaftarkan rumah itu untuk di lelang." terang Jhon seraya melepas kaca matanya.
"Jl.Orchid ?" Mike berpikir keras.Kedua alisnya tampak berdekatan.
"Iya." jawab Jhon.
"Harga sewa di kota ini lumayan tinggi.Dan itu adalah satu-satunya rumah sederhana yang Harry miliki di daerah ini."tambah Jhon.
"Aku mengantar Hannah ke Jl.Orchid tadi malam.Apa mungkin...." batin Mike.Pikirannya menerka-nerka.
"Kenapa kau diam saja ?" Jhon memperhatikan anaknya yang diam tidak menyauti pembicaraannya.
Mike segera tersadar dan menjawab Papanya dengan sedikit gelagapan.
"Ah...tidak Pa.Apa Mike bisa melihat foto rumah itu ?" Mike semakin penasaran.
"Papa akan coba minta pada Harry." Jhon mengambil ponsel dan segera menekan layar untuk menelpon Harry.
Jhon terdengar meminta foto rumah yang Harry masukkan ke bursa lelang.
Dan dalam hitungan menit ada notifikasi email di ponsel Jhon.
"Lihatlah." Jhon menyodorkan ponselnya pada Mike.
Mike meraih ponsel itu dan memeperhatikan foto yang ada disana.
Mata Mike terbuka lebar saat melihat foto itu.
Wajah terkejutnya bahkan terbaca oleh Jhon.
"Tidak salah lagi." gumam Mike.Foto itu adalah foto rumah dimana Mike menurunkan Hannah semalam.
"Tapi bagaimana bisa Harry Wellington......Ah mungkin hanya masalah hutang piutang." tepis Mike tetap dalam hatinya.
"Ada apa Mike ?" tanya Jhon yang melihat wajah anaknya sedikit berkerut.
"Lelangnya kapan Pa ?" Mike menjawab pertanyaan Jhon dengan pertanyaannya.
Senyuman ringan tersungging di wajah Jhon.
"Kenapa ? Kau tertarik dengan rumah itu ? " tanyanya.
"Mike akan coba bicara dengan Joe.Siapa tau dia berminat." Mike berusaha menutupi perasaannya.
"Dua minggu lagi." Jhon mengambil kembali kaca mata dan koran yang dia lipat tadi.
Mike meletakkan ponsel papanya di meja kaca dan dia meninggalkan ruang keluarga.Mike masuk ke dalam kamarnya.
"Ma....sepertinya kakak sudah punya kekasih." Isabel mengadu pada Emma.
"Oya....dari mana kau tau ?" Emma jadi penasaran.
"Mama tau tidak.....semalam kakak meninggalkanku di parkiran dan kakak pergi dengan seorang perempuan di mobilnya." Isabel mulai menceritakan apa yang dia lihat tadi malam.
"Apa ? Kakakmu benar-benar keterlaluan.Bisa-bisanya dia meninggalkanmu." Emma jadi sedikit marah karena seharusnya Mike menjaga Isabel tetapi malah meninggalkannya di parkiran.
"Terus....waktu aku masuk mobil....kursinya basah.Entah apa yang dilakukan kakak." Isabel kembali mengadu.
Emma merespon aduan Isabel dengan segera beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar Mike.
"Mama ke kamar kakakmu dulu."
Isabel melongo tidak menyangka mamanya akan menghampiri Mike.Padahal niatnya tadi hanya ingin memberi tau kalau Mike sudah punya kekasih.
"Mama....jangan bilang aku mengadu.Nanti kakak marah padaku." Isabel setengah berteriak karena mamanya sudah mulai menaiki tangga.
Di dalam kamar Mike duduk di sofa tunggal yang menghadap ke jendela kaca.Pandangannya menerawang.Pikirannya saat ini dipenuhi oleh bayangan Hannah.
Ceklek...(suara pintu di buka tanpa ketukan terlebih dahulu)
Mike menoleh ke arah pintu.Disana dia melihat mamanya berjalan mendekat ke sofa yang dia duduki.
"Ada apa Ma?" tanya Mike.
"Kenapa semalam kau meninggalkan Isabel di parkiran ? Kalau sesuatu yang buruk menimpa Isabel bagaimana ?" Tanya Emma dengan nada sedikit tinggi karena mengkhawatirkan Isabel.
"Anak itu pasti mengadu." gumam Mike yang masih bisa di dengar Emma.
"Jangan salahkan adikmu.Kau ini kakaknya.Seharusnya kau jaga adikmu." tukas Emma.
"Mike minta maaf Ma.Mike tidak akan mengulanginya lagi." kata Mike.
Emma menghela nafas dan memegang bahu Mike sambil tersenyum.
"Ya sudah....Lain kali jangan meninggalkan adikmu lagi."
"Iya Ma....Lain kali Mike akan menjaga Hannah dengan baik."
Emma spontan mengernyitkan keningnya dan melirik tajam pada Mike atas apa yang baru saja dia dengar.Mata detektif Emma otomatis menyala.
"Hannah ?" Emma bertanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Mike tidak menyadari telah salah meyebut nama.Hannah benar-benar menguras pikiran Mike malam itu.
Mike terkejut mamanya menyebut nama Hannah.Sangat terlihat dari raut wajahnya.
"Siapa Hannah ?" Emma mulai memberondong Mike dengan pertanyaannya.
Mike jadi salah tingkah.beberapa titik keringat muncul di dahinya.
"Ah....siapa ? Hannah.....dia...dia teman Mike." Mike menjawab spontan apa yang ada dipikirannya.
"Teman ?" Emma seperti tidak percaya.
"I-iya...teman Mike." jawab Mike dengan gugup.
Senyum menggoda mulai muncul dari wajah mamanya.
"Sayang.....tidak apa kalau dia TEMAN mu.Kenalkan saja pada Mama." kata Emma penuh penekanan.
"Mama ini bicara apa ? Mike mau istirahat Ma." Mike semakin gugup.Lantas dia melingkarkan tangannya di bahu Emma dan perlahan menuntun mamanya itu keluar dari kamarnya dengan sesopan mungkin.
"Mike...." Emma tampak sangat senang melihat anak laki-lakinya itu salah tingkah.
"Mike mau tidur." Mike segera menutup pintu kamarnya dan bernafas lega.
Emma berdiri di depan kamar Mike sambil tertawa kecil mengingat betapa gugupnya Mike saat dia menyebut nama Hannah.Lalu dia kembali ke ruang keluarga bersama suami dan anak gadisnya.
Mike bersandar di pintu kamarnya sambil menghela nafas lega.
"Kenapa bisa salah bicara sih ?!" Mike kesal dengan dirinya sendiri.