
Tok...Tok...Tok....!!!
Hannah yang baru saja pulang dari tempat kerja segera mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan melangkah ke pintu depan setelah mendengar suara ketukan pintu.
Hannah memutar gagang pintu dan sebelum dia sempat membuka pintu itu dengan lebar,dorongan kuat datang dari luar pintu membuat tubuh Hannah terpental.Hannah mundur beberapa langkah saat mengetahui siapa orang itu.
"Mau apa kau kesini ?!" teriak Hannah yang tetap menjaga jarak dengan penerobos itu.
"Hallo sayang....!!" seringai licik muncul di wajahnya diikuti suara pintu yang terbanting menutup dengan keras terkena tendangan belakang kakinya.Siapa lagi kalau bukan Harry.
"Apa kau terima bunga-bunga yang aku kirimkan ?" katanya sambil terus tersenyum licik.
Harry berjalan mendekat dan terus mendekat pada Hannah.Secara otomatis tubuh Hannah mundur untuk menghindari jangkauan Harry.Tubuh Hannah gemetar karena rasa takut.Meskipun berkali-kali dia meyakinkan dirinya bahwa dia yang sekarang adalah orang yang kuat tetapi tatapan sadis Harry dengan cepat meruntuhkan keyakinannya itu.
"Jangan mendekat !" teriak Hannah.Wajahnya berubah pucat.Kakinya seakan tidak punya tenaga untuk menopang berat tubuhnya yang tidak seberapa itu.
"Kenapa bersikap seperti itu sayang ? Aku sangat merindukanmu.Aku merasa sangat kesepian." senyum intimidasi Harry semakin membuat nyali Hannah menciut.
Tubuh Hannah membentur dinding di belakangnya.Dengan Harry yang berjarak tidak lebih dari satu meter membuat Hannah semakin ketakutan.Harry mengangkat tangan kirinya dan meletakkannya tepat di samping kepala Hannah.Tangan kanannya mulai meraba wajah pucat Hannah dengan tatapan mata tajam yang menghujam langsung ke mata Hannah seperti seekor srigala yang siap menerkam mangsanya.
Dengan sekuat tenaga Hannah berusaha mendorong tubuh Harry.Tetapi usahanya sia-sia.Hanya dengan tangan kirinya Harry mencengkeram kedua tangan Hannah dengan begitu kuat dan menariknya ke atas kepala Hannah.Membuat Hannah meringis kesakitan.
Harry sudah bisa membaca apa yang akan dilakukan Hannah.Dengan tangan yang terkunci Hannah pasti akan menggunakan kakinya untuk menyerang Harry.Jadi Harry dengan cepat menghimpit tubuh Hannah dan sekarang tidak ada lagi jarak antara mereka.Harry mengunci kaki Hannah.
Hannah hanya bisa menangis terisak.Harry membekap mulut Hannah dengan tangan kanannya.Air mata Hannah membanjiri pipinya.Harry melepaskan tangannya dari mulut Hannah dan kembali meraba wajah ketakutan Hannah.Perlahan tangan itu turun ke dagu Hannah dan mengangkatnya.Harry memperhatikan bibir mungil Hannah yang gemetar.Dia seakan tidak sabar untuk melumatnya.Harry mendekatkan bibirnya pada bibir Hannah dan tanpa ragu Harry melumat bibir mungil itu.Tidak peduli tubuh Hannah yang menggeliat dan meronta.Tangan kanan Harry meraih tengkuk Hannah dan menekannya.Membuat ciuman Harry lebih dalam dan panas.Air mata Hannah tak hentinya mencair.
"Ssttt....! Jangan menangis sayang.Aku akan melakukannya dengan lembut." Harry berbisik di telinga Hannah.Hannah bisa merasakan nafas Harry yang panas menghembus yang membuat Hannah semakin takut.
Hannah memjamkan matanya dengan air mata yang terus mengalir.Rasa benci yang memuncak sama sekali tidak bisa memberikan kekuatan bagi dirinya untuk melepaskan cengkeraman Harry.Dia hanya bisa menahan amarah dan kebenciannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aku benar-benar merindukanmu sayang." kata Harry pelan tapi begitu tegas.
Dengan cara yang menurut Harry 'lembut' dia kembali menyerang setiap inci tubuh Hannah dengan nafsunya yang begitu garang.
Hannah hanya bisa menangis.Harry terus melakukan serangannya terhadap Hannah yang sudah tidak berdaya itu.Hingga Harry puas melampiaskan hawa nafsunya dan beranjak berdiri membenarkan pakaiannya.Hannah sebisa mungkin menutupi tubuhnya dengan apapun yang bisa dia raih.Air matanya mengalir dengan derasnya dan tanpa henti.Kedua matanya jadi menyipit karena bengkak.
Setelah pakaian Harry rapi kembali dia berjalan mendekati Hannah yang masih tampak terpukul dengan apa yang baru saja dilakukan Harry terhadapnya.
Harry meraih kepala Hannah dan menciumnya lalu berkata dengan lirih tapi penuh penekanan, "Aku akan datang kembali."
Kata-kata Harry membuat bulu kuduknya berdiri.Ancaman Harry tidak main-main.
Harry tersenyum puas melihat Hannah dengan kondisi sangat terpukul seperti itu.Lalu dengan tanpa merasa bersalah sedikitpun Harry meninggalkan Hannah yang masih terduduk lemah di sofa.
Begitu Harry keluar dari rumahnya Hannah berlari ke kamar mandi.Dia berdiri dibawah shower yang mengalir.Dengan kasar dia menggosok bibir,wajah bahkan seluruh tubuhnya untuk menghilangkan bekas sentuhan tangan Harry.Tangisan dan teriakannya pecah.Air matanya bercampur dengan kucuran air dari shower.Dia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.Hujatan dan makian keluar begitu saja dari mulut Hannah.Rasa sakitnya kali ini jauh lebih menyayat karena statusnya yang sudah bukan lagi istri Harry tetapi Harry masih dengan mudahnya bisa menindas dirinya.Hannah menghabiskan waktu cukup lama menangis dan meratapi kepedihannya di dalam kamar mandi.Hingga tubuhnya menggigil karena kedinginan.
Hannah keluar dari kamar mandi dalam keadaan menggigil.Dia ambil piyama dari dalam lemari dan segera memakainya.Hannah menyisir rambut setengah basahnya di depan cermin.Melihat pantulan dirinya dari dalam cermin sungguh membuat dirinya merasa jijik.Sentuhan menjijikkan Harry masih jelas terasa di sekujur tubuhnya.
Hannah berjalan lunglai ke tempat tidurnya.Dengan menahan rasa sesak dan getir yang memenuhi dadanya,Hannah merebahkan tubuhnya diatas kasur.Dia meringkuk sambil memeluk guling.Mencoba memejamkan mata tetapi lagi-lagi wajah menjijikkan Harry yang muncul di pelupuk matanya.
Tak terasa air mata kembali membanjir di wajah Hannah hingga membasahi bantalnya.Yang tersisa sekarang hanyalah isakan yang begitu dalam.Dia tidak punya tenaga lagi untuk berteriak ataupun memaki.
Waktu berjalan seakan sangat lama.Semakin malam semakin Hannah merasakan sesak di dadanya.Tubuhnya menggigil kedinginan tetapi suhu tubuhnya naik.Demam Hannah malam itu cukup tinggi hingga membuatnya meracau.Ketika merasakan sekujur tubuhnya sakit dan melemah,Hannah berusaha bangkit untuk mengambil obat dari kotak obat yang menempel di dinding ruang makan.
Badannya lemah,kepalanya terasa sangat berat.Hannah memaksa tubuhnya untuk bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.Namun ketika dia hendak berdiri tiba-tiba kakinya terasa begitu lemah.Dia bahkan tidak kuasa mengangkat tubuhnya.Demam yang semakin tinggi membuat pikiran Hannah menjadi kacau.
Hannah masih berusaha memaksakan diri untuk berdiri dengan bertumpu pada meja kecil di samping tempat tidurnya.Kepalanya semakin berat saat beranjak berdiri.Ruangan itu seperti berputar-putar.Hannah mencengkeram kuat meja yang dia gunakan sebagai tumpuan sambil memejamkan mata berharap bisa berdiri tegak.Namun semakin berat dan semakin berat.
BRUK...!!
Hannah jatuh tersungkur di lantai dan tidak sadarkan diri.