Her Name is Hannah

Her Name is Hannah
PELUKAN EVE



Jantung Hannah seakan hendak meloncat keluar dari dadanya.Ya...untuk sesaat dia terhanyut dengan aroma tubuh Mike yang sangat dia sukai.


"Maaf." Mike melepaskan tubuh Hannah dan membantunya untuk berdiri tegak.


Situasi yang semakin canggung antara mereka berdua.


"Terima kasih." Hannah menundukkan pandangannya karena malu.Dia berharap Mike tidak mendengar jantungnya yang berdegup begitu kencang.


"Ya Tuhan....apa yang aku pikirkan." batin Hannah berontak.


"Kenapa aneh begini ya." gumam Mike dalam hati.


"Ini." Hannah menyodorkan rompi hitam itu pada Mike tanpa melihat pada orang yang dia ajak bicara.


Mike dengan cepat mengambil rompinya dari tangan Hannah.


"Aku....antar kau kembali ke kedai." tawar Mike dengan nada yang sangat canggung.


"Tidak perlu." jawab Hannah singkat.


Mike mengangguk dan segera masuk ke dalam mobilnya.Dia tidak bisa berlama-lama dalam situasi yang sangat canggung ini.


Hannah pun sama.Dia tidak ingin berada dalam satu mobil dengan Mike untuk sekarang ini.Pasti sangat tidak nyaman berada disana dengan Mike setelah apa yang terjadi barusan.


Dalam sekejap mobil Mike sudah hilang dari pandangan Hannah.


Hannah kembali ke kedai dengan berjalan kaki.Pikirannya melayang kemana-mana.


TIIINN..!! (suara klakson)


Seorang laki-laki yang mengendarai mobil itu membuka kaca mobilnya.


Wajah Joe dengan senyum menawannya muncul dari dalam mobil.


"Hannah...apa yang kau lakukan disini ?" tanya Joe.


Hannah menoleh kepada Joe.


"Aku dari rumah." jawab Hannah.


Karena jarak ke kedai yang tidak jauh lagi,Joe mendahului Hannah.


Joe memarkirkan mobilnya di depan kedai.Dia keluar dari dalam mobil masih dengan setelan jas yang rapi.


Dia menyandarkan tubuhnya pada sisi mobil sambil menunggu Hannah yang sudah berada beberapa langkah di depannya.


Joe berjalan mendekati Hannah dan mereka kini berjalan beriringan masuk ke dalam kedai.


"Kau dari rumah ?" Joe mengulangi ucapan Hannah.


"Iya." jawab Hannah singkat.


Entah apa yang ada di pikiran Hannah saat ini.Dia berjalan mendahului Joe dengan kepala tertunduk.Dengan bodohnya dia masuk ke dalam kedai tapi dia lupa untuk membuka pintu kaca kedai itu.Alhasil kepalanya terbentur kaca.


Joe yang kala itu sedang sibuk membuka pesan di ponselnya seketika mengangkat kepalanya karena mendengar Hannah berteriak pelan.


"Aww...!!" Hannah setengah berteriak sambil memegangi dahinya.


Wajahnya berubah jadi merah karena malu.Beberapa orang menatap Hannah dengan wajah menahan tawa.


Sebenarnya dia juga ingin tertawa tapi dia tahan.


Hannah lalu membuka pintu kedai itu dan masuk.Dia kembali ke balik meja bartender.Joe mengikutinya dari belakang.


"Sepertinya Tuan Tampan tadi sudah membuatmu kehilangan akal." kata Eve sambil tertawa melihat ekspresi Hannah yang terlihat sangat malu.


Mendengar ucapan Eve,Hannah memelototkan kedua matanya dan memberi tanda pada Eve agar diam.Dia tidak ingin Joe mendengarnya.


"Oops..!" Eve segera membungkam mulutnya.


"Hai...Tampan ! " sapa Eve pada Joe.


"Eve." Joe membalasnya dengan senyum yang menawan.


Joe memperhatikan Hannah yang sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tidak penting.


"Kau pesan seperti biasa ?" tanya Eve pada Joe.


"Boleh." jawab Joe.


"Hannah....Joe seperti biasa." kata Eve pada Hannah.


Hannah segera membuatkan pesanan Joe.Lalu dia meletakkannya di atas meja di hadapan Joe.


"Apa kau sudah mendapatkan rumah sewa ?" tanya Joe dengan hati-hati saat Hannah sedang meletakkan pesanannya.


"Belum." jawab Hannah singkat.


Lalu dia duduk di samping Eve.


"Kau bisa tinggal bersamaku.Kau tidak perlu khawatir." tawar Eve.


Pandangan Hannah tampak kosong.Dia bingung.Tabungannya tidak banyak.Tidak akan cukup untuk menyewa sebuah rumah.


Hannah menundukkan kepalanya.Perlahan buliran bening muncul dari matanya.


"Hei....jangan menangis." Menyadari Hannah yang tak kuasa membendung air matanya,Eve segera meraih kepala Hannah dan memeluknya.


"Aku tidak tau harus bagaimana lagi ?" rintih Hannah.


"Sayang....kau bisa tinggal bersamaku." Eve menenangkan Hannah.


"Iya Hannah....aku juga akan membantumu mencari rumah." timpal Joe.


"Bukankah Nyonya Lee juga mengijinkanmu untuk menempati rumahnya." tambah Eve.


Sekarang Nyonya Lee memang tidak tinggal di rumahnya lagi.Tuan Lee memutuskan untuk memboyong Nyonya Lee tinggal bersamanya.Mengingat kondisi kesehatan kakaknya yang naik turun.


Hannah masih terisak menangis dalam pelukan Eve.


"Aku tidak bisa tinggal dimana aku harus menyaksikan kenangan bersama orang tuaku diambil dariku." Isak Hannah.


Eve mengelus kepala Hannah.Dia bisa merasakan kesedihan yang sangat dalam di hati Hannah.


Wajar saja kalau Hannah tidak mau tinggal di rumah Nyonya Lee.Karena pasti akan sangat menyakitkan terus menrus melihat rumah kedua orang tuanya yang sudah dirampas Harry.